“Ekspresi Sikap Komunitas Beragama (Islam) dalam melihat Globalisasi” Seni mengapresiasi karya sebuah peradaban Oleh : Nopriadi Apakah karya di era globalisasi diterima semua? Haruskah ditolak semua? Haruskah dipilah-pilah? Mengapa?Bagaimana?dan Apa argumennya? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas adalah inti dari maksud tulisan ini dibuat. Ini penting mengingat saat ini tidak sedikit yang kebingungan bagaimana harus bersikap. Satu sisi ada yang merasa tidak beres dengan globalisasi, namun di sisi lain merasa globalisasi telah berjasa untuk mempermudah kehidupan. Walhasil sebagian dari kaum muslim mengalami krisis identitas dan tidak menampakan jenis kepribadian Islam (syakshiah Islamiyah) yang khas. Semacam split personality. Fakta menunjukkan sikap terhadap karya globalisasi bermacam-macam. Ada yang terkena demam westomania. Ia menganggap semua karya peradaban Kapitalis ini harus diterima apa adanya. Semacam kenyataan sejarah yang tidak bisa ditolak. Contohnya kalangan liberal moderat dan fanatik. Adapula yang secara membabi buta menolak apapun kalo itu menurut mereka berbau ”Barat”. Pola sikap seperti ini semestinya tidak terjadi pada diri seorang muslim, mengingat keyakinan yang dimilikinya adalah Dien yang sempurna. Islam bukan sekedar agama tapi sudah menjadi way of life (cara hidup) yang komplit dan mengurusi seluruh aspek kehidupan. Ini secara de facto dan de yure Islam berbeda dengan agama lain, seperti Kristen, Katolik, Budha, Hindu ataupun Yahudi yang lebih banyak berbicara moral keagamaan atau hubungan manusia dengan Tuhan atau hubungan pribadi antar manusia. Sejauh yang penulis pahami Islam adalah satu-satunya agama yang dapat memberikan kaca mata secara jernih, komprehensif dan detil kepada pemeluknya untuk menyikapi berbagai persoalan kehidupan seperti menyangkut perekonomian, politik, pemerintahan, budaya, hukum dsb. Jadi seorang muslim seharusnya lebih percaya diri dan bersikap elegan ketika menyikapi gemerlapnya karya globalisasi. Diharapkan dengan tulisan ini kita dapat melihat dengan jernih, mendudukannya secara tepat dan bersikap secara cerdas terkait dengan masalah adopsi karya dari sebuah peradaban yang bernama globalisasi. Mudah-mudahan dapat memberikan sedikit pencerahan dan kita selalu dalam ridha dari Allah SWT. Manusia butuh akan idea dan sarana fisik Idea dan sarana fisik adalah dua hal yang sepanjang masa diproduksi dan digunakan oleh manusia dalam rangka memenuhi keinginan, kebutuhan maupun menyelesaikan problematika kehidupannya. Dengan keduanya manusia berharap dapat menjalani kehidupan secara normal. Globalisasi harus diakui telah melahirkan pertumbuhan idea dan sarana fisik secara luar biasa, disamping berjasa secara masif menyebarkannya kepada manusia untuk ’dikonsumsi’. Yang dimaksud dengan idea di sini bisa berupa gagasan, konsep, persepsi atau produk pemikiran yang ada dalam benak manusia. Ia bisa bersumber dari pemikiran manusia un sich, atau bersumber dari wahyu (kitab suci). Biasanya ia dituangkan secara lisan, tulisan atau diwujudkan dengan tindakan/perbuatan. Contoh dari idea adalah gagasan tentang demokrasi, hak azasi manusia, perdagangan bebas, konsep welfare state, neoliberalism, sistem parlemen, liberalisme laissez-faire, trias politica, zakat, haji, jihad, konsep tentang komunikasi efektif, kepemimpinan transformasional, managemen strategis, konsep pengobatan herbal, hipnoterapis, hukum relativitas Einstein maupun hukum mekanika Newton. Termasuk idea di sini adalah karya-karya seperti The 8th Habit-nya Steven Covey, Good to Great-nya Jim Collins, Tao Te Ching-nya Lao Tzu, Psyco-Cybernetics-nya Maxwell Maltz, The Alchemist-nya Paulo Coelho, The Wealth of Nations-nya Adam Smith, The Social Contract-nya Rousseau, Ar-Risalah-nya Imam Syafií, Muqoddimah-nya Ibnu Khaldun, Bulugul Maram-nya Ibnu Hajar Atsqolani, Ahkamul Shultoniyah-nya Imam Al-Mawardi, Nidzhom al Islam-nya Taqiyuddin An-Nabnahi, maupun How to Win Friends and Influence People-nya Dale Carenegie. Semua ini adalah idea yang dihasilkan, dikembangkan dan diaplikasikan oleh manusia untuk memenuhi keinginan, kebutuhan dan problem solving kehidupannya. Sementara yang dimaksud dengan benda atau sarana fisik adalah hal-hal yang memiliki wujud dan bisa diindera secara langsung maupun tak langsung. Ia terbentuk bisa karena campur tangan manusia, bisa pula secara alamiah terbentuk melalui mekanisme alam. Namun yang menjadi perhatian kita di sini adalah sarana fisik yang dihasilkan melalui kreasi manusia, seperti komputer, internet, laptop, webcam, microprocessor, patung, washing machine, salib, televisi, kaligrafi Islam, masjid, vihara, gereja, baju bikhu, kipas angin, reaktor nuklir, satelit ikonos, radar, pesawat terbang dan lain sebagainya. Sementara benda fisik seperti udara, air, gunung, cahaya matahari dan lain sebagainya tidak termasuk dalam pembahasan. Peradaban dominan sebagai trend setter idea dan sarana fisik Kenyataan menunjukkan bahwa peradaban dominan akan menjadi trend setter bagi peradaban yang lain dalam hal produksi serta aplikasi idea dan sarana fisik. Dulu di masa Romawi berkuasa apa-apa yang berasal dari Romawi diadopsi oleh negara lainnya, seperti konsep hukum yang tertuang dalam corpus juris. Kodifikasi hukum ala Romawi ini diadopsi oleh banyak manusia pada zaman kejayaannya. Ketika Islam berkuasapun, fiqh tidak hanya dipelajari oleh muslim, tapi menjadi minat banyak kalangan. Saat ini Kapitalis menjadi peradaban dominan yang mewarnai era global. Bahkan tidak berlebihan bila mengatakan globalisasi sebagai globocapitalism. Dengan demikian sarana fisik maupun idea yang berasal dari negara Capitalism menjadi trend dan digemari di seluruh pelosok dunia. Lihat saja Mac Donald, KFC, Pizza Hut, Cola, Pepsi, lagu Barat, film-film Holly Wood dan berbagai produk teknologi. Tidak cuma itu, idea yang berasal atau dikembangkan dari negara Kapitalis Barat saat ini menjadi paradigma atau terms of reference umat manusia di seluruh dunia. Ini bisa dibuktikan dengan melihat kenyataan berbondong-bondongnya umat manusia, termasuk kaum muslimin, yang belajar ke negara Barat untuk mendalami berbagai masalah pemikiran, agama, hukum, politik, ekonomi, seni, manajemen, psikologi, sains-teknologi dan berbagai tsaqofah dan disiplin ilmu lainnya. Harvard Business School, Massachushate International Technology (MIT), Oxford University, Cambridge University, Chicago University, McGill’s Institute of Islamic Studies dan California University adalah sedikit dari sekian banyak sekolah yang digandrungi dan dijadikan impian para scholar maupun calon scholar dari berbagai negeri, termasuk dari negeri-negeri Islam. Jutaan orang telah berhasil membanjiri berbagai university, institute atau college tersebut, namun yang antri dan yang hanya bisa bermimpi jumlahnya jauh lebih banyak lagi. Hal ini membawa kita pada ingatan masa lalu dimana dunia Islam pernah menjadi tempat pelancong ilmu dari Eropa, Asia dan dari berbagai penjuru dunia lainnya. Madrasah, Kuttab banyak sekali bertebaran di negeri Islam, begitupun halaqoh yang didirikan oleh para khalifah. Banyak lembaga pendidikan yang tersebar di kota-kota seperti Baghdad, Damaskus, Kairo,Granada, Seville, Pisa, Malaga, Cordoba dan lainnya. Beberapa sekolah tinggi yang terkenal di antaranya Mustansiriah, Nidhamiyyah, Sarwiyyah, an-Nuriah, Khawja Najamuddin dan Darb-i-Mahan. Tempat ini membahas berbagai cabang ilmu, dari masalah agama sampai maslah ilmu pengetahuan umum seperti matematika,geografi, sejarah dan kedokteran. Kenyataan lain yang menunjukkan bahwa Kapitalis Barat menjadi kiblatnya idea adalah melimpahnya toko-toko buku atau perpustakaan yang menyediakan buku-buku orisinil maupun hasil terjemahan dari negara Kapitalis barat. Buku-buku mereka digemari dan menjadi koleksi yang diburu, persis seperti para remaja menggandrungi para selebriti dari HollyWood. Buku-buku ini mengupas hampir seluruh sendi kehidupan seperti masalah motivasi personal, konsep kebahagiaan, konsep kesehatan, membangun keluarga bahagia, kiat sukses dalam bisnis, ilmu retorika, konsep politik, pemerintahan, ekonomi, HAM, demokrasi, civil society, kedokteran, fisika, dan lain sebagainya. Karya-karya mereka ini tidak hanya menjadi kebutuhan, namun menjadi karya favorite di kalangan pemuda muslim. Sama halnya dengan sejarah Islam. Dulu toko buku dan perpustakaan tersebar di berbagai kota, seperti di Baghdad, Kairo, Cordova, Toledo, Sharaz, Merv, Mosul,Basrah, Fez, tunis dan lain sebagainya. Mehdi Nakosteen mencatat di Baghdad saja ada 36 perpustakaan, diantaranya Bayt Al-Hikmah, perpustakaan Umar Al-Waqidi, Dar Al-Ilmi, Nizamiyah, perpustakaan Madrasah Mustansiriyah, Al-Baiqani, Muhammad Ibn Al-Husain, Ibnu Kamil. Perpustakaan-perpustakaan ini menyediakan banyak buku dari berbagai disiplin ilmu serta dinikmati oleh siapa saja, baik muslim maupun non-muslim dari berbagai penjuru negeri. Dari deskripsi singkat di atas dapatlah disimpulkan bahwa sebuah peradaban yang dominan secara sunatullah akan menjadi rujukan dan kiblat dalam masalah sarana fisik dan idea. Dalam era global ini, harus diakui, Kapitalis-Barat yang menjadi rujukan utama. Ia menjadi dominan dalam peradaban ini. Sebelumnya Islam juga pernah menjadi rujukan idea dan sarana fisik, yaitu pada saat menjadi super power dunia selama 13 abad. Mengambil sikap atas kreasi Globalisasi Idea dan sarana fisik, masing-masing, dapat dipetakan menjadi dua macam. Ada idea yang lahir dari pandangan hidup atau ideologi tertentu (yang selanjutnya disebut hadharoh), sehingga bersifat value-lead. Contohnya seperti konsep demokrasi, HAM, trias politica, konsep trinitas, konsep zakat, jihad, diyat, jizyah, maupun konsep-konsep lain yang terkait dengan sistem ekonomi, sistem politik, sistem pemerintahan, sistem perundangan dsb. Hadharah ini merupakan sekumpulan persepsi tentang kehidupan. Ada pula idea yang bersifat value- free, tidak dipengaruhi pandangan hidup tertentu. Contohnya seperti kebanyakan konsep dalam masalah manajemen, administrasi dan sains-teknologi. Hal ini kita sebut saja sebagai ilmu pengetahuan. Kemudian ada sarana fisik yang bersifat umum (madiyah ‘am) yang tidak khas pandangan hidup tertentu seperti komputer, hp, pesawat, jaringan komputer, fiber optik, sensor, kereta api, mobil, pesawat terbang, kaca mata, penggaris, motor, mobil dsb. Ada pula sarana fisik yang bersifat khas (madiyah khoz), dipengaruhi oleh hadharoh tertentu seperti patung, salib, kaligrafi Qurán, baju bikhu dan sebagainya. Tabel berikut untuk memetakan idea dan sarana fisik yang ada di sekitar manusia. Peta Idea dan Sarana Fisik | Macam | Idea | Sarana fisik | | Terpengaruh pandangan hidup | Hadharoh (Value-Lead Idea) | Madiyah Khoz | | Tidak terpengaruh pandangan hidup | Ilmu pengetahuan (Value-Free Idea) | Madiyah ‘Am | Dengan pemetaan di atas manakah yang boleh dan tidak boleh digunakan/diadopsi oleh seorang muslim? Kreasi peradaban manakah yang bisa ditolerir atau tidak sama sekali? Yang boleh diadopsi/digunakan oleh seorang muslim adalah ilmu pengetahuan (value-free idea) dan madaniyah ám . Alasannya karena tidak terpengaruh pandangan hidup lain dan bersifat universal yang bisa dimanfaatkan oleh siapa saja. Sementara madaniyah khoz dan hadharoh (value-lead idea) dilarang untuk mengambil dan mengadopsinya. Alasannya karena berasal atau dipengaruhi oleh pandangan hidup asing (yang berseberangan dengan Islam). Membolehkan dan tidak membolehkan ini tidak didasari oleh pandangan sempit dengan pertimbangan maslahat-mudharat versi kecenderungan hati manusia. Namun, harus dengan hujjah atau argumentasi syarí. Artinya Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW dijadikan rujukan untuk melihat segala sesuatu boleh ataukah tidak. Inipun bagi yang masih percaya dan meyakini Qurán dan Hadits sebagai dua sumber hukum otoritatif yang dibawa oleh Rasululullah saw. Pertimbangan manfaat dan mudharat un sich adalah cara berpikir yang sangat tidak standar bagi seorang muslim. Pola pikir seperti ini primitif dan naif karena segala sesuatu dilihat dari kecenderungan hati (sangat tipis dibedakan dengan kecenderungan nafsu). Pertimbangan atau penempatan masalah maslahat dan mudharat Insya Allah akan dikupas secara tuntas di lain kesempatan. Bolehnya menggunakan madiyah ám dan Ilmu pengetahuan bisa dilihat bagaimana praktek Rasulullah saw dan para sahabat. Dalam rangka mengantisipasi kebutuhan akan teknologi, Rasulullah saw pernah mengirim dua orang sahabat, yaitu: Ürwah Ibnu Masúud dan Ghailan Ibnu Maslamah”ke kota Jarasy di Yaman untuk mempelajari pembuatan peralatan perang yang bernama Dabbaabah, setelah beliau mengetahui bahwa alat tersebut mampu digunakan untuk menerobos benteng lawan. Begitupun dalam perang khandaq. Kaum muslimin menggunakan strategi parit yang diusulkan oleh sahabat Salman Al-Farisi untuk membentengi kota Madinah dari serangan musuh. Metode ini diadopsi dari Persia dan belum dikenal oleh Rasul dan para sahabat. Umar bin Khattab adalah orang yang pertama kali membuat diwan di dalam sejarah Islam. Hal ini diteruskan oleh kaum muslimin. Setelah Islam menguasai Irak maka diwanul istiifa’ (instansi pengumpul harta fa’i). Sejak itu instansi pengumpul harta mulai berjalan seperti praktek yang terjadi sebelumnya di sana. Di daerah Syam, diwan mempergunakan gaya romawi, karena Syam-ketika itu-merupakan bagian dari kerajaan Romawi. Sedangkan diwan Irak mempergunakan gaya Persia, karena Irak-ketika itu-merupakan bagian dari kerajaan Persia. Dari peristiwa di atas dapatlah kita simpulkan bahwa madiyah ám dan ilmu pengetahuan (value-free idea) adalah boleh untuk diadopsi atau digunakan. Secara umum ia bersifat universal. Karena itu segala ilmu pengetahuan maupun produk dari sains teknologi bersifat boleh untuk dipakai. Kaum muslimin tidak dilarang belajar dan menggunakan internet, laptop, web cam, head phone, microphone, software microsoft, linux, mouse, roket, hukum fisika Einstein, hukum mekanika kuantum, thermodinamika, radar, telekomunikasi, sistem administrasi, managemen organisasi, ilmu menanak nasi ala Cina, menggoreng telur ala Eropa, ilmu retorika dan lain sebagainya. Bahkan status hukum sebagian ilmu tadi hukumnya fardhu kifayah, dan bisa menjadi fardhu ’ain dalam kondisi tertentu. Al-Imam Al-Ghazali berkata : ”Apabila ilmu dan karya-karya yang dimiliki non muslim lebih baik dan lebih utama dari yang dimiliki kaum muslimin, maka kaum musimin berdosa dan kelak mereka dituntut atas kelalaian itu” Saíd Hawwa menjelaskan pandangannya : ”Kami mencatat ada ribuan ilmu pengetahuan yang semuanya paling tidak dianggap fardhu kifayah bagi umat Islam, fardhu kifayah bukan berarti hanya sebatas orang yang mengetahui (melakukannya) saja, tetapi harus ada kelompok orang yang memenuhi kebutuhan umat. Ini berarti tidak cukup adanya tenaga ahli dalam ilmu atom/nuklir saja, tetapi harus ada industri pengembangannya supaya umat tidak terkena dosa. Jadi harus ada tenaga-tenaga ahli dan harus ada reaktornya, sehingga dengan demikian terhindalah umat dari dosa” Ibnu Taimiyyah menegaskan lagi: ”Pekerjaan-pekerjaan yang bersifat fardhu kifayah apabila tidak dilaksanakan akan berubah menjadi fardhu áin , terutama bila yang lain tidak mampu mengerjakannya. Kalau masyarakat membutuhkan tenaga pertanian, tekstil atau teknik sipil maka itu merupakan tugas wajib yang bisa dipaksakan penguasa apabila ahlinya menolak Namun para pekerja harus diberi imbalan yang layak dan pemerintahan tidak boleh memberi kesempatan orang untuk berbuat kezaliman dengan mengurangi imbalan/hak mereka.” Sementara argumen tidak diterimanya hadharoh dan madaniyah khoz yang bertentangan dengan Islam bisa dilihat dari beberapa peristiwa berikut : Suatu saat Umar bin al-Khattab membawa sobekan Taurah, dan Rasulullah saw menunjukkan rasa marahnya dengan mengatakan : ”Apa (yang kamu bawa) ini, bukankah aku gtelah membawa (al-Kitab) yang jelas dan jernih? Kalau seandainya saudaraku Musa as hidup pada zamanku, tentu beliau tidak akan susah-susah lagi, kecuali mengikutiku”(HR Ahmad dan al-Bazzar dari Jabir). Disamping itu, hal ini diperkuat dari beberapa nash, diantaranya: ”Siapa saja yang mengambil selain Islam sebagai Dien, maka tidak akan pernah diterima”(Q.S Ali-Imran:85) ”Apakah hukum jahiliyah yang mereka ambil? Dan hukum siapakah yang lebih baik dari hukum Allah bagi orang-orang yang beriman” (Q.S Al-Maidah: 50) Dengan demikian kaum muslimin dilarang mengadopsi dan memakai madaniyah khoz seperti patung, salib, baju bikhu, lukisan porno. Dilarang pula mengadopsi hadharah seperti sistem demokrasi (kedaulatan di tangan rakyat), sistem hukum Barat, sistem sosial Barat, sistem pemerintahan Barat, sistem ekonomi dan sistem keuangan Barat, trinitas, budaya free sex, homo seksual, pluralisme dan lain sebagainya. Perlu juga dicatat di sini adalah bahwa menolak hadharoh asing bukan berarti larangan untuk mempelajari dan mendalaminya. Boleh mempelajari hadharoh mana saja, apalagi untuk kepentingan penjagaan aqidah serta dakwah. Yang dilarang hanyalah mengadopsi dan meyakini hadharoh tersebut sebagai kebenaran dan lebih layak daripada hadharoh Islam. Bila Islam memiliki hadharoh yang benar dan baik, untuk apa lagi mengadopsi hadharoh Kapitalis? Persis seperti sikap yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada Umar bin Khattab. Bila kita berpikir positif (husnudzhon) maka satu-satunya alasan yang bisa dipahami mengapa para intelektual masih gandrung terhadap hadharoh Kapitalis adalah kegagalannya memahami hadharoh Islam yang genuine. Kebodohanya akan konsep Islam-lah yang membuat mereka masih mengagungkan hadharoh Kapitalis ini. Penutup Setelah bisa memetakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dalam masalah adopsi idea dan penggunaan sarana fisik, serta menyadari status hukum yang melandasinya, maka semua tergantung pada kita semua untuk memilih. Mudah-mudahan Allah swt memberi kekuatan pada kita untuk memilih berdasar standar syarí, bukan pertimbangan maslahat-mudharat un sich, yang bisa menyesatkan. Bila kita masih merasa berat untuk memilih standar syariat maka marilah kita berusaha menyempurnakan pemahaman Dien kita, serta berdoá kepada Allah SWT agar dimudahkan untuk menerima konsep-konsep Islam dan menolak yang bertentangan dengannya. Mudah-mudahan kita mau secara jujur dan ikhlas dalam mempelajari Islam. InsyaAllah setelah memahami Islam secara utuh akan memunculkan rasa cinta pada peradaban Islam yang memiliki berjuta keunggulan. Dengan memahami keunggulan dan kejernihannya secara obyektif, diharapkan tumbuh rasa optimisme untuk memperjuangkan dan mengembalikan kehidupan peradaban alternatif ini. Bukankah peradaban Islam ini tidak bersikap ekslusif? Peradaban Islam tidak hanya untuk orang Islam, namun dipersembahkan untuk semua manusia.. Peradaban Islam tidak hanya dinikmati oleh kaum muslim, namun juga kalangan non-muslim. Mudah-mudahan Allah swt dapat membuka mata kita, serta menghindarkan kita dari kebingungan akan globalisasi. Tanpa kaca mata yang jelas akan membuat ketergantungan akan peradaban Kapitalis tidak pernah hilang, padahal ia tidak selalu sesuai untuk kita. Peradaban Kapitalis juga telah terbukti merusak kehidupan umat manusia. Hati-hati! Ketergantungan terhadap ideologi kapitalis bisa jadi karena lemahnya pemahaman tentang konsep peradaban Islam yang genuine, atau karena sudah terlanjur banyak investasi (harta, waktu, tenaga, pikiran) yang dicurahkan untuk mempelajari ideologi kapitalis, atau karena sudah menjadi mata pencaharian? Mudah-mudahan Allah SWT membimbing dan menyayangi kita semua. Makalah pada Workshop dengan tema “Globalisasi, Simbol dan Identitas Keberagaman”, yang diselenggarakan pada tanggal 10-11 Mei 2008 oleh Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada dan Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) Universitas Gadjah Mada, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan Universitas Kristen Duta Wacana. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Q.S Ar-Ruum : 41) Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Q.S. Al A’raf : 96).
“Catatan kecil untuk para pemerhati Globalisasi” Global warming, kapitalisme dan islam Oleh : Nopriadi ”Global Warming semakin menyadarkan Dunia tentang penting dan mendesaknya Ideologi Islam menggantikan Kapitalisme” ”Ilmuwan: Pemanasan Global Setara dengan Senjata Pemusnah Masal”. Kalimat ini dicuplik dari judul berita di harian Republika pada bulan November 2005. Satu judul untuk menarik perhatian tentang dahsyatnya global warming bagi kehidupan manusia. Dalam berita itu dicatat Robert May, presiden lembaga ilmiah Inggris terkemuka, Royal Society, memberi peringatan tentang bahaya global warming pada konferensi 12 hari di Montreal terkait nasib Protokol Kyoto. Ia mengatakan, "Dampak pemanasan global banyak dan serius: naiknya permukaan laut, perubahan dalam ketersediaan air bersih dan meningkatnya berbagai kejadian luar biasa -banjir, kekeringan dan topan- yang konsenkuensi seriusnya meningkat menjadi sebanding dengan senjata pemusnah masal". Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon menyerukan pentingnya tindakan untuk mengatasi pemanasan global, dan memperingatkan bahwa dunia pada saat ini berada di ambang bencana. Ban memberi komentar pada suratkabar International Herald Tribune, "Saya selalu menyebutkan pemanasan global akan menjadi masalah yang paling penting. Sekarang saya yakin bahwa kita kini berada di ambang bencana, jika kita tidak melakukan tindakan apapun." Ia juga mencatat meningkatnya pencairan sungai es (gletser) dan es di kutub, serta menandaskan bahwa hancurnya es di Antartika itu akan menaikkan ketinggian air laut sampai enam meter atau 18 kaki, yang bisa menenggelamkan kota-kota pantai New York, Mumbai dan Shanghai. Ia berkata, "Saya tidak menyebarkan kepanikan. Tapi saya yakin bahwa kita saat ini makin mendekati saat-saat yang mengerikan itu" Apa itu Global Warming? Global warming adalah isu yang paling global di seantero bumi ini. Tidak ada isu yang lebih global ketimbang global warming karena semua manusia hidup di bawah satu atap yang bernama atmosfer. Global warming adalah fenomena berupa kenaikan temperatur rerata atmosfir bumi dan laut yang diperkirakan akan terus berlanjut. Model perhitungan yang didasarkan pada hasil IPCC (Intergovermental Panel on Climate Change) memprediksi terjadinya kenaikan temperatur antara 1,1 hingga 1,6 derajat C antara tahun 1990 hingga 2100. Pemanasan bumi secara global ini disebabkan oleh semakin meningkatnya konsentrasi gas seperti CH4, CO2 dan lainnya. Gas-gas ini menimbulkan efek alami yang disebut dengan efek rumah kaca (greenhouse effect). Munculnya fenomena efek rumah kaca ini dapat dijelaskan sebagai fenomena karena terperangkapnya radiasi matahari di atmosfer bumi. Radiasi matahari ini datang ke bumi pada siang hari dengan intensitas 1200 W/m2 (di daerah katulistiwa pada tengah hari) atau 235 W/m2 rata-rata. Sebagian energi yang berupa ultraviolet dikonversi serta dihamburkan oleh lapisan ozon di stratosfer. Sebagian lagi dari berbagai panjang gelombang dihamburkan oleh atmosfer ke angkasa luar sehingga hanya sekitar 168 W/m2 yang diserap permukaan bumi. Permukaan bumi (daratan, lautan, vegetasi, hunian manusia) memancarkan balik sebagian sinar matahari dalam bentuk radiasi inframerah. Gas rumah kaca (H2O, CO2, CH4) menyerap pancaran radiasi infra merah ini sehingga atmosfer menjadi hangat. Dalam keadaan setimbang, permukaan bumi memancarkan dan menyerap energi rata-rata sebesar 492 W/m2. Uap air (H2O) sebenarnya merupakan gas rumah kaca terkuat (memberikan sumbangan 36 – 70 % efek rumah kaca). Akan tetapi siklus harian air mencegah akumulasi berlebihan uap air di atmosfir. Efek uap air hanya dirasakan sebagai perubahan suhu harian atau sesuai dengan perubahan cuaca. Gas CO2 (memberi sumbangan 9 – 26 %) menimbulkan efek rumah kaca tidak sekuat uap air tetapi jauh lebih kuat daripada CH4 (memberikan sumbangan 4 – 9%). Gas rumah kaca lain adalah ozon (O3) yang memberikan sumbangan sebesar 3 – 7 %. Baik gas CO2 maupun CH4 dapat berada di atmosfir untuk waktu yang lama, sehingga CO2 merupakan gas utama yang bertanggung jawab atas pemanasan bumi. Akibat aktivitas manusia dalam penggunaan energi fosil yang berlebih berakibat semakin banyaknya emisi CO2 di atmosfer. Akibatnya, semakin hari suhu bumi secara global mengalami peningkatan yang akhirnya kita mengenal fenomena global warming. Dampak global warming bagi kehidupan bumi Global warming menimbulkan dua macam akibat yaitu akibat langsung dan akibat ikutan. Akibat langsung berupa perubahan iklim global (global climate change) sedangkan akibat ikutannya adalah segala hal yang terjadi sebagai konsekuensi dari perubahan iklim. Perubahan iklim global dapat diamati dari berbagai fenomena yang terjadi, diantaranya: - Kenaikan permukaan laut sebagai akibat pelelehan gunung es di kutub dan pemuaian air laut. Akibatnya, daerah pantai atau dataran rendah serta pulau-pulau kecil akan terhapus dari peta bumi. Kepulauan Maladewa, negara kecil dengan 1.200 pulau di Samudera Hindia dengan jumlah penduduk 330.000 jiwa akan tenggelam total pada waktu kurang dari lima puluh tahun. Begitu juga kota seperti New York dan London terancam akan tenggelam.
- Pelelehan lapisan es yang terjadi baik pada tumpukan es di kutub bumi maupun di pegunungan tinggi. Pelelehan lapisan es akan mempercepat pemanasan global karena pelelehan ini mengurangi reflektifitas dan menambah absortifitas permukaan bumi terhadap radiasi matahari.
- Perubahan pola penguapan dan jatuhan air (hujan, salju, embun). Perubahan ini seringkali memunculkan berbagai fenomena cuaca ekstrem seperti banjir, kekeringan, gelombang panas, badai dan tornado.
Perubahan iklim global juga mengakibatkan berbagai perubahan-perubahan ikutan yang diantaranya : 1. Kepunahan beberapa spesies tumbuhan dan binatang. Diperkirakan sekitar 15 sampai 37 % spesies yang kita kenal sekaang akan punah pada tahun 2050 sebagai akibat pemanasan global. 2. Peningkatan penyakit dan vektor-vektor penyakit. Akibatnya beberapa virus atau bacteria yang dulu hanya ada di daerah tropis, seperti malaria, DBD dan sejenisnya, akan melanda daerah beriklim sedang. 3. Perubahan pola pertanian. Pemanasan global akan mengubah pola distribusi suhu global. Daerah yang sekarang beriklim tropis akan menjadi lebih panas, bahkan bisa berubah menjadi gurun. Daerah yang sekarang berilkim subtropis akan menjadi sepanas daerah tropis sekarang dan seterusnya. Dengan demikian tanaman yang pada masa sekarang lebih cocok untuk daeran tropis sekarang harus digeser ke daerah sub tropis. Perubahan pola ini tidak selalu segera sesuai dengan kondisi tanah. Dengan demikian, perubahan pola ini akan memberikan ancaman gagal panen dalam skala global yang akan membawa pada bencana kemanusiaan global. Kapitalisme sebagai Penyebab Global Warming Peningkatan gas rumah kaca terutama CO2 dimulai secara signifikan setelah kebangkitan ideologi kapitalis di Eropa dengan industrialisasinya. Gambar 1 menunjukkan korelasi ini dan menggambarkan peningkatan yang lebih tajam pada tahun-tahun berikutnya ketika industri mulai berkembang. Sehingga tidak salah bila kapitalisme dinobatkan sebagai ideologi dan peradaban yang bertanggung jawab atas global warming. Disamping itu, negara-negara industri kapitalis merupakan negara yang paling bertanggung jawab dalam emisi berlebih CO2. Amerika Serikat penghasil CO2 terbesar, yaitu 25% dunia. Wyongming, negara bagian AS dengan penduduk yang tidak banyak, hanya 495.7000 orang, menghasilkan CO2 lebih banyak dibandingkan dengan tujuh puluh empat negara berkembang dengan jumlah populasi gabungan hampir sebaganyak 369 juta jiwa. Emisi CO2 yang dihasilkan Texas, dengan populasi 22 juta jiwa, setara dengan emisi gas yang dihasilkan oleh 120 negara berkembang dengan jumlah penduduk lebih dari 1,1 miliar manusia. Secara kuantitatif AS menghembuskan hampir 6500 Mega Ton CO2-equivalen yang 95% dari sektor energi, sementara Indonesia (minus kebakaran hutan) dengan jumlah penduduk yang hampir sama dengan AS menghembuskan hanya sekitar 400 Mega Ton CO2-equivalen. Bila ditotal maka negara kapitalis yang tergabung dalam G-8 (AS, Jepang, Jerman, Kanada, Inggris, Perancis, Italia dan Rusia) membuang CO2 sebanyak 68% dunia. Ini artinya negara industri kapitalis, dengan ideologi kapitalisnya, mengakibatkan bencana kehidupan berupa global warming. Kesalahan kapitalisme sehingga berdampak destruktif terhadap kehidupan dapat dirunut dari kesalahan falsafah dasar yang membangun ideologi ini. Falsafah dasar ini terkait dengan pandangannya terhadap konsep kebutuhan manusia dan problem ekonomi. Kapitalisme beranggapan bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas, sementara alat pemuas kebutuhan bersifat terbatas. Ini yang disebut dengan teori scarcity (kelangkaan). Dengan asumsi ini maka manusia harus melakukan aktivitas produksi untuk menjawab kelangkaan sumber daya pemuas. Peningkatan produksi dilakukan dengan pertumbuhan industri yang selanjutnya diistilahkan dengan pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, teori ekonomi kapitalis senantiasa memandang bahwa problem ekonomi manusia terletak pada teori kelangkaan ini. Problem ini akan terpecahkan (kemakmuran akan tercapai) dengan satu hal, yaitu pertumbuhan ekonomi. Itulah yang menyebabkan bahwa pertumbuhan ekonomi selalu menjadi tujuan utama dalam pembangunan ekonomi kapitalis. Gambar 1. Peningkatan emisi CO2 Pertumbuhan ekonomi kapitalis ini akan berdampak pada peningkatan emisi CO2 yang tidak terkendali. Pertumbuhan ekonomi kapitalis berarti peningkatan kebutuhan bahan baku industri, peningkatan kebutuhan energi, peningkatan produksi limbah dan perubahan gaya hidup. Semua aktivitas ini berdampak pada peningkatan CO2, baik secara langsung maupun tak langsung. 1. Peningkatan kebutuhan bahan baku industri Pertumbuhan volume industri berarti peningkatan kebutuhan bahan baku, yang mendorong manusia untuk melakukan eksploitasi sumber daya alam baik berupa hutan, biota laut, tambang sebagai bahan baku industri. Sumber daya alam berupa vegetasi (hutan) serta vegetasi laut tidak lain adalah absorber CO2 yang utama. Disamping digunakan sebagai bahan baku industri, kerusakan hutan juga terjadi sebagai akibat pengalihan penggunaan lahan. Dalam hal ini, hutan dialihkan menjadi perkebunan, yang tanamannya memiliki kemampuan serapan CO2 lebih rendah daripada hutan. Di beberapa tempat hutan juga dialihkan menjadi lahan pemukiman dan bahkan areal industri, sebagian yang lain rusak akibat pencemaran. Semuanya ini merupakan dampak dari pertumbuhan ekonomi ala kapitalis. 2. Peningkatan kebutuhan energi Pertumbuhan industri berarti meningkatkan kebutuhan akan energi. Pada Gambar 2, ditunjukkan peran berbagai sumber energi untuk memenuhi kebutuhan energi dunia sekarang ini. Tampak bahwa sumber energi fosil seperti batubara, minyak dan gas bumi (pembakarannya menghasilkan CO2) memegang peran sangat besar. Pada Gambar 3, ditunjukkan emisi CO2 per kWh dari penggunaan berbagai sumber energi. Tampak pula bahwa penggunaan sumber energi fosil, batubara, minyak dan gas bumi, memberikan emisi sangat besar per kWh dibandingkan dengan sumber energi lainnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sektor energi memberikan sumbangan yang sangat penting bagi peningkatan emisi CO2 di atmosfer. Gambar 2. Fraksi Penggunaan sumber energi dunia Gambar 3. Emisi CO2 per kWh sebagai hasil penggunaan berbagai sumber energi 3. Peningkatan produksi limbah Hal terpenting yang merupakan dampak peningkatan indutrialisasi sebagai dampak pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan produksi limbah. Limbah diproduksi sebagai konsekuensi pengolahan bahan baku menjadi produk industri, penggunaan bahan bakar dan pembuangan produk industri yang sudah usang. Efek langsung produksi limbah adalah kerusakan absorber CO2 alami, yaitu vegetasi daratan (hutan) maupun biota laut. 4. Perubahan gaya hidup Pertumbuhan ekonomi atau pertumbuhan industri harus ditunjang dengan penciptaan pasar untuk menjual produk industri. Penciptaan pasar ini biasanya dilakukan dengan penciptaan pola hidup konsumtif. Teknologi periklanan pun berkembang untuk membentuk pola hidup yang mengejar keinginan. Kemudian, berbagai industri dewasa ini semakin cenderung memproduksi produk-produk yang berumur pakai pendek (misal industri mobil, kosmetik dan sebagainya). Sebagian industri lain menciptakan trend produk baru untuk membuat produk lama tampak usang dan ketinggalan jaman. Dengan demikian konsumen didorong untuk membeli produk-produk baru padahal produk lama belum sepenuhnya termanfaatkan. Produk lama ini pada akhirnya akan dibuang sebagai sampah. Dengan demikian, pada dasarnya industri sekarang ini memproduksi sampah sebagai produk industrinya dan hal ini semakin meningkat. Untuk itu, industri sekarang menghasilkan sampah juga selama prosesnya dan tentu saja sambil mengeksploitasi sumber daya alam. Semuanya ini berakibat kerusakan alam. Dalam kaitan dengan global warming, semuanya ini akan merusak absorber CO2 alami. Bila ditelaah lebih jauh, kesalahan dari kapitalisme adalah ketidakmampuan ideologi ini dalam membedakan antaran kebutuhan (need) dan keinginan (want). Pandangan bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas sementara alat pemuas kebutuhan bersifat terbatas adalah pandangan yang menyesatkan. Alam yang ada sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia secara keseluruhan. Yang tidak terbatas sebenarnya adalah keinginan manusia akan materi. Kapitalisme tidak bisa membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang merupakan keinginan. Akibat teori kelangkaan ini semua diproduksi selama ada permintaan (keinginan), tanpa memperhatikan ia dibutuhkan ataukah tidak oleh manusia. Akibatnya, seperti dijelaskan di atas, banyak barang yang diproduksi sebenarnya tidak dibutuhkan sehingga menjadi sampah yang merusak ekologi. Dalam skala yang lebih luas aktivitas produksi yang tidak sehat ini berdampak pada eksploitasi sumber daya alam dan energi yang berakibat munculnya fenomena global warming. Pandangan kapitalis yang salah tentang hak pengelolaan alam juga turut mengakibatkan bencana global warming. Kapitalisme menekankan privatisasi sektor publik seperti tambang energi, mineral, hutan, air, laut. Akibatnya eksploitasi alam menjadi tidak terkendali karena dikuasai oleh segelintir manusia yang menghamba pada pertumbuhan serta tidak merasa bertanggung jawab terhadap lingkungan. Prinsip ekonomi dengan modal sesedikit mungkin menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya mengakibatkan masalah limbah bukan menjadi urusan bisnis, apalagi penanganan limbah membutuhkan modal yang tidak sedikit. Walhasil, kita melihat di setiap ada perusahaan asing mengeksploitasi sumber daya alam di sana ada persoalan limbah. Jadi penguasaan kepemilikian publik, seperti tambang mineral, energi, hutan, laut, oleh swasta ditambah prinsip ekonomi yang rakus dan regulasi yang pro pebisnis disertai korupnya kekuasaan menjadikan manusia hidup di bawah ancaman ekonologis yang dahsyat berupa penenggelaman bumi oleh global warming. Disamping itu, ekonomi kapitalis yang bertumpu pada sektor non-riil mengakibatkan hasrat untuk tumbuh menjadi tidak terbendung dan tidak terkendali. Perbankan dan sektor finansial ribawi turut memberikan fasilitas bagi korporasi dalam mengeksploitasi alam. Akibatnya sistem ini menghasilkan hyper growth, namun tidak mampu menyelesaikan masalah kemiskinan global, malah menghasilkan pemanasan global. Pemetaan Solusi Global Warming Menyelesaikan problem global warming tidak cukup hanya menyentuh aspek teknis engineering. Bila hanya berbicara dalam tataran itu maka para ahli telah merumuskan banyak cara untuk mengatasi global warming, diantaranya : 1. Penghematan energi. Hal ini berarti mengurangi pembakaran bahan bakar fosil yang merupakan sumber energi utama peradaban sekarang. Berbagai mesin (industri, transportasi) dan peralatan (rumah tangga, kantor) didesain untuk menghemat pemakaian energi. 2. Sequestrasi CO2 dengan media pelesap alami. Berbagai jenis batuan dapat menyerap CO2 untuk kemudian membentuk senyawa karbonat. Berbagai negara melakukan studi dalam hal ini dengan menggunakan lapisan batuan pada goa-goa bekas tambang garam. 3. Penangkapan dan penyimpanan CO2. Pada idea ini, CO2 yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar fosil tidak dibiarkan terlepas ke atmosfir tetapi ditangkap dan disimpan dengan cara dicairkan, diberi tekanan atau direaksikan menjadi senyawa karbonat. Problem yang muncul dalam hal ini adalah kebutuhan area atau medium yang sangat luas dan masif untuk penyimpanan CO2. 4. Penggantian bahan bakar. Solusi ini merupakan solusi engineering yang dianggap paling komprehensif tetapi sekaligus juga paling rumit. Pada metode ini, penggunaan bahan bakar fosil akan digantikan oleh bahan bakar lain. 5. Konservasi hutan, penghijauan dan menjaga vegetasi laut untuk absorbsi alami CO2. Semua solusi teknis engineering yang ditawarkan selain memiliki beberapa kendala teknis, juga tidak dapat berjalan efektif ketika tidak ada kebijakan politik untuk mengurangi emisi CO2, terutama dari negara-negara industri kapitalis. Sebagai contoh negara emitter CO2 terbesar Amerika Serikat dengan gigih menolak Protokol Kyoto tentang pembatasan internasional atas tingkat pencemaran akibat emisi. Bali Roadmap yang diselenggarakan Desember 2007 lalupun terganjal dengan sikap AS yang arogan. Beberapa negara industri juga cenderung tarik ulur dalam masalah pengurangan secara pasti emisi CO2. Keengganan negara industri untuk serius mengatasi pengurangan CO2 menunjukkan persoalannya bukan terletak pada masalah teknis-engingering, namun masalahnya adalah pada level kebijakan politik. Kebijakan politik yang mengabaikan nasib bumi ini adalah hasil dari ideologi kapitalis yang menjadikan ekonomi sebagai panglima. Mengurangi emisi karbon berarti negara maju harus mengurangi jumlah industri atau mengurangi jumlah produksi industri mereka. Hal ini berarti menghambat pertumbuhan. Penurunan pertumbuhan tentu bertentangan dengan cita-cita ekonomi kapitalis. Bagi mereka ini bencana ekonomi yang berdampak fatal pada kehidupan mereka. Jadi, negara kapitalis tidak mungkin mengambil kebijakan politik kalo harus menurunkan target pertumbuhan nasional. Dapat disimpulkan penyelesaian global warming bukan sekedar penyelesaian di teknis-engineering, bukan pula pada perubahan kebijakan politik, tapi pada aras yang lebih dasar yaitu ideologi. Ideologi kapitalis harus diganti kalo kita ingin penyelesaian tuntas masalah global warming. Ideologi ini sangat bersifat egois dan ingin menangnya sendiri. Kita tentu masih ingat bagaimana dulu negara kapitalis Eropa melakukan kolonialisasi di Asia dan Afrika. Begitupun sekarang ini, kolonialisasi dibungkus dengan baju globalisasi. Jadi egoisme yang inheren pada kapitalisme membuat mereka berhitung secara ekonomi tentang penuntasan pemanasan global, tidak peduli bagaimana nasib bumi ini. Bahkan keegoisan penganut kapitalisme ini sudah tidak rasional lagi. Pada pertemuan tahunan 2006 di Davos, beberapa orang dari industri minyak membicarakan peluang-peluang baru yang diberikan oleh pemanasan global: mencairnya Kutub Utara akan membuat minyak di bawah Laut Arktik lebih mudah didapatkan. Bayangkan! Demi keuntungan mereka tidak peduli dengan nasib tenggelamnya kota New York, London dan beberapa kepulauan di laut Pasifik. Bagaimana dengan negara berkembang? Setali tiga uang. Negara berkembang mau memperhatikan global warming karena kepentingan yang bersifat ekonomi pula. Walhasil, berbagai kesepakatan, konferensi atau pertemuan dunia yang menyangkut global warming telah bergeser menjadi isu ekonomi (perdagangan karbon), bukan lagi masalah ekosistem dan kemanusiaan. Inilah ideologi kapitalisme yang dipakai manusia bumi saat ini. Oleh sebab itu solusi terhadap persoalan global warming bukanlah persoalan mencari solusi teknis engineering ataupun solusi kebijakan politik, namun lebih jauh dari itu. Pergantian ideologi kapitalis dan penerapan ideologi alternatif merupakan solusi yang bisa diharapkan. Oleh sebab itu, Islam sebagai ideologi alternatif dapat dijadikan referensi seluruh manusia untuk menyelamatkan bumi. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan manusia, supaya Allah merasakan untuk mereka sebagian (dari akibat) perbuatan tangan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar berupa Islam)” (Q.S. Ar-Rum: 41). Islam sebagai Solusi untuk Bumi Sehat Islam memiliki perspektif khas dalam memandang hubungan manusia dan alam. Hal ini menjadi dasar bagi tegaknya keseluruhan peradaban Islam, termasuk penataan lingkungan. Persepektif ini dibangun dari konsep tauhid dan ibadah. Konsep Tauhid memberikan cara pandang bahwa manusia, alam dan kehidupan merupakan ciptaan Allah SWT, yang mana Allah telah menciptakan semua ini dengan tujuan yang telah ditentukan. Allah telah menciptakan manusia, alam dan kehidupan dalam suatu kesetimbangan yang sinkron dan dinamis (Q.S. Al Baqarah: 30, Q.S. Ali Imran: 190). Kemudian, konsep ibadah memberikan pandangan bahwa tujuan hidup manusia hanyalah untuk beribadah kepada Allah (Q.S. Adz Dzariyat: 56). Ibadah di sini berarti seluruh perbuatan manusia harus ditata sesuai dengan aturan dari Sang Pencipta. Setelah kehidupan dunia ini, akan datang hari akhir, dimana semua manusia akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya kepada Allah SWT. Dengan kedua konsep utama ini, maka Islam sangat berbeda dengan kapitalisme yang bersifat anthroposentris. Dalam Islam manusia tidak dapat berbuat semaunya di dunia ini tetapi harus terikat dengan aturan main Islam (Q.S. Al-Ahzab: 36). Dalam pandangan ekonomi, Islam berbeda dengan kapitalis yang bertolak dari teori scarcity (kelangkaan) dimana produktifitas atau pertumbuhan dijadikan acuan utama ukuran keberhasilan ekonomi. Bila pertumbuhan kapitalis berdampak pada produksi barang dan eksploitasi alam yang tidak terkendali maka dalam Islam pertumbuhan berjalan lebih konservatif dan hati-hati. Produksi dalam Islam menjadi lebih selektif dan mengutamakan kebutuhan hakiki manusia. Dalam konsep Islam dibedakan antara kebutuhan pokok dan kebutuhan mewah. Prioritas produksi dan konsumsipun mendahulukan kebutuhan pokok. Sehingga barang yang diproduksi berdasarkan keinginan dalam ideologi kapitalis belum tentu dibutuhkan dan diproduksi dalam ideologi Islam. Karena konsep tauhid dan ibadah maka di dalam peradaban Islam manusia memiliki pola konsumsi dan produksi yang lebih baik dan tidak berlebih. Pertumbuhan dengan model Islam ini akan lebih hemat sumber daya alam dengan mengurangi eksploitasi yang berlebihan; mengurangi dampak negatif dari eksploitasi alam berupa kerusakan alam dan polusi akibat limbah; serta menjamin keberlangsungan alam dan ketersediaan sumber dayanya untuk generasi mendatang. Pertumbuhan ekonomi Islam yang konservatif dan hati-hati ini dapat berjalan karena didukung oleh konsep ekonomi makro maupun mikro perspektif Islam. Konsep ekonomi makro Islam diantaranya: sistem moneter dengan berbasis mata uang emas dan perak dan bukan mata uang mengambang (floating money); sistem moneter non-riba yang mengandalkan sektor ekonomi riil dan meniadakan sistem ekonomi non riil ribawi (Q.S. Al-Baqarah: 275). Konsep ekonomi Islam mikro yang mendukung adalah konsep investasi (syirkah) yang memastikan bahwa setiap proyek (aktifitas ekonomi) akan berjalan jika benar-benar telah terdapat dana riil (yang berupa uang berbasis emas dan perak). Bila Kapitalis tidak dapat menghindari eksploitasi alam berlebih, sebagai konsekuensi privatisasi sektor publik, maka Islam menjamin terkendalinya pemanfaatan alam. Dalam Islam dibedakan kepemilikan manusia menjadi tiga macam, yaitu: kepemilikan umum, kepemilikan negara dan kepemilikan individu. Dalam Islam, kekayaan alam yang berjumlah besar seperti tambang energi, barang mineral, laut dan hutan akan dikelola oleh negara yang hasilnya untuk kepentingan rakyat dengan memperhatikan kesehatan ekologis dan kesetimbangan ekosistem. Disamping itu eksploitasi alam yang menimbulkan mudharat sistemik kepada manusia diharamkan. Jadi, eksplorasi dan pemanfaatan sumber daya alam di dalam Islam harus terkendali. Hal ini dapat terimplementasi bila negara yang mengelola sumber daya alam ini adalah negara yang amanah berdasar syariah. Bila Kapitalis menjadikan ekonomi sebagai panglima bagi pembangunan peradaban, yang artinya nilai materi (qimah madiyah) dijadikan orientasi utama dalam menjalani kehidupan maka dalam Islam materi hanyalah salah satu dari empat nilai yang dituju oleh manusia. Selain nilai bersifat materi, ada juga nilai lain seperti nilai kemanusiaan (qimah insaniyah), nilai spiritual-ibadah (qimah ruhiyah) dan nilai moralitas (qimah akhlak). Perbuatan manusia seperti jual beli, ijarah, syirkah termasuk perbuatan dengan qimah madiyah. Pendidikan, pelayanan kesehatan, pemeliharaan anak, pertolongan kepada orang yang membutuhkan pertolongan adalah perbuatan dengan qimah insaniyah. Begitu pula amal-amal yang dilakukan oleh pejabat negara dalam menjalankan tugasnya sebagai qimah insaniyah. Shalat, zakat, puasa, haji, berdo’a, membaca Al Qur-an, jihad fi sabilillah adalah perbuatan dengan qimah ruhiyah. Berpakaian, menjaga silaturahim adalah contoh perbuatan dengan qimah akhlak. Dengan demikian, maka manusia dalam Islam adalah hamba Allah SWT bukan hamba ekonomi. Kesadaran sebagai hamba Allah SWT membuat manusia memiliki kesempatan untuk hidup lebih baik. Manusia akan melakukan aktivitas berfikir dan berkarya dalam konteks penghambaan kepada Sang Pencipta. Manusia akan menyelenggarakan kehidupan bernegara, berekonomi, berpolitik dan mengekplorasi serta memanfaatkan alam untuk tujuan yang sesuai dengan rel seorang hamba. Dengan demikian kehidupan manusia akan menjadi kehidupan yang penuh rahmat dan barokah jauh dari persoalan global warming. “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (Q.S. Al A’raf : 96). Makalah disampaikan pada Workshop dengan tema “Globalisasi, Kemiskinan dan Lingkungan”, yang diselenggarakan pada tanggal 12-13 April 2008 oleh Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada dan Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) Universitas Gadjah Mada, UNiversitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan Universitas Kristen Duta Wacana. Islam adalah Dien yang diturunkan oleh Allah SWT kepada baginda Muhammad SAW, yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, mengatur dirinya sendiri dan mengatur hubungan antar manusia. Jadi, Islam disamping sebagai agama yang memiliki konsep ilahiyah spiritual, juga memiliki dimensi ideologis yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Islam tidak hanya memiliki konsep aqidah, ibadah ritual, akhlak, makanan, minuman, pakaian, namun juga memiliki sistem yang khas dalam perekonomian, politik pemerintahan, pendidikan, pergaulan, pidana, bahkan politik luar negeri. Islam adalah agama sempurna yang mengatur seluruh manusia. Pemahaman Islam dengan karakteristik mengatur jagad tidak hanya dipahami oleh kalangan muslim. Bahkan, Francis Fukuyama dalam bukunya The End of History and The Last Man juga memahami betul karakter Islam seperti ini. Ia mengatakan, "Adalah benar bahwa konstitusi Islam merupakan sebuah ideologi sistemik dan koheren, seperti halnya liberalisme dan komunisme, dengan kodenya sendiri mengenai moralitas dan doktrin keadilan politik dan sosial. Seruan Islam secara potensial adalah universal, yang menjangkau semua manusia sebagai manusia dan bukan hanya untuk anggota-anggota dari kelompok etnis atau bangsa tertentu.” Jadi Islam adalah ideologi unik yang berbeda dengan kapitalisme dan komunisme. Pandangan ini menganggap bahwa manusia pusat segala sesuatu. Manusia dapat menggunakan apa saja sesuai keinginannya tanpa harus terikat pada apapun. Pandangan ini berarti membolehkan manusia melakukan eksploitasi alam sesuai dengan keinginannya. Pandangan inilah yang pada akhirnya membuat manusia kehilangan kendali dalam mengekploitasi alam. Pandangan ini muncul sebagai konsekuensi langsung dari pandangan hidup sekuler yang menjiwai renaisance. Yang termasuk kepemilikan umum diantaranya adalah sumber daya alam dalam jumlah besar seperti sumber daya air (danau, sungai, laut air tanah, air hujan), udara, sumber daya energi, hutan, bahan tambang dalam jumlah besar. Kepemilikan negara meliputi harta zakat yang dikelola negara, harta-harta dari kharaj, jizyah, fa’i, ghanimah serta pajak yang diperlukan. Kepemilikan individu meliputi selain dari kepemilikan umum dan negara. Kepemilikan umum dikelola oleh negara dan sebagian besar hasilnya dipergunakan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok yang bersifat umum. Sehingga, dalam Islam ada jaminan terhadap sandang, pangan dan papan, disamping dijaminnya pendidikan, kesehatan dan keamanan untuk seluruh warga negara (muslim maupun non-muslim). Dengan demikian kebutuhan pokok yang bersifat umum selalu terjamin pemenuhannya dan hal ini tentunya sangat meringankan beban ekonomi masyarakat.
“Catatan kecil untuk para pemerhati Globalisasi” A Better World is A Must! Oleh : Nopriadi Pengantar : Membangun Optimisme Lahirnya Peradaban yang Lebih Baik Semboyan Another World is Possible pernah mengemuka di Forum Sosial Dunia di Porto Alegre, Brazil pada tahun 2001 dan 2002. Oleh International Forum on Globalization semboyan ini dirubah menjadi A Better World is Possible, sebagai media sosialisasi ke seluruh benua mengenai berbagai alternatif yang mungkin ditempuh demi terwujudnya tata dunia baru yang adil dan mampu melayani semua umat manusia. Pada Januari 2004 forum yang sama digelar selama seminggu di pinggiran kota Mumbai, India, dengan menghadirkan 100.000 orang dari berbagai latar belakang yang berbeda. Berbagai topik dibicarakan dalam forum ini, dan salah satu yang tidak terlupakan adalah tentang globalisasi. Terdapat sebuah konsensus tentang perlunya perubahan, yang tertuang dalam motto konferensi ini:”Masih ada Dunia yang Lebih Baik”. Rupanya dunia ini penuh sesak dengan persoalan sebagai akibat dari globalisasi. Dominasi negara adikuasa, Amerika Serikat, terhadap lembaga-lembaga dunia berdampak buruk pada keadilan. Neoliberalisme yang menjadi ’ruh’ globalisasi menghancurkan hak hidup manusia. Penguasaan kapitalis global atas sumberdaya alam negara Dunia Ketiga semakin menjadi-jadi. Hutang mereka pada negara Dunia Kesatu semakin tidak bisa terbayar. Kemiskinan meningkat berdampak pada malnutrisi jutaan manusia. Kematian akibat kelaparan semakin mewarnai dunia. Perdagangan manusia semakin kerap terdengar. Pornoaksi-pornografi sudah menjadi bagian budaya global, akhlaqpun menjadi hancur. Eksploitasi secara rakus oleh MNC-TNC mengakibatkan kemiskinan dan kerusakan lingkungan. Global Warming mengincar planet bumi ini. Inilah wajah dunia di era Cyber. Wajah dunia di jaman globalisasi. Di tengah potret buram globalisasi diperlukan sikap optimis untuk bangkit. Bagi seorang muslim, tidak ada tempat rasa pesimis dan putus asa. Islam menawarkan solusi untuk menyelesaikan problem globalisai, mengingat Islam bukan sekedar agama yang hanya mengurusi ibadah dengan Sang Pencipta. Tapi Islam merupakan ideologi yang memiliki konsep-konsep detil yang mengatur urusan publik. Islam menawarkan konsep unik tentang sistem ekonomi, politik, pemerintahan, sosial, budaya, hukum, pendidikan bahkan politik luar negeri. Kehebatan konsep ini dapat dipahami secara rasional, bukan sekedar diyakini karena keimanan. Siapapun orangnya, apapun agama dan keyakinannya dapat memahami ampuhnya ideologi Islam ini menyelesaikan problem dunia. Oleh sebab itu, seorang muslim seharusnya lebih lantang dan lebih optimis menyuarakan perlunya perubahan sistem dunia. Insya Allah besok hari akan terbit ’fajar baru kehidupan’ untuk semua manusia. A better world is a must! Apa yang Mereka Katakan tentang Globalisasi? Kata globalisasi sekarang ini menjadi kata yang cukup popular di dunia. Bila kita buka search engine www.google.com dan mengetikan kata globalisasi maka akan kita temukan minimal 734.000 hasil pencarian. Bila kita masukan globalization, maka kita temukan minimal 20.100.000 hasil pencarian. Ini menunjukkan globalisasi menjadi pembahasan menarik di planet bumi ini. Berikut ini kita lihat sebagian pendapat mereka tentang globalisasi. Globalization, also globalisation, refers to a process of increasing global connectivity and integration between nation-states, households or individuals, corporations and other organizations. It is an umbrella term referring to increased interdependence in the economic, social, technological, cultural, political, and ecological spheres. In the context of global trade, the term globalisation is the opposite of protectionism. Globalisasi adalah pasar yang meng-global, atau kapitalisme global. Pasar bukanlah konsep netral, tetapi nama lain dari kapitalisme. Kalau dulu bernama kapitalisme internasional, sekarang berubah nama menjadi kapitalisme global, karena secara kuantitatif telah membesar secara luar biasa. Kalau dulu sekitar tahun 1980-an, transaksi keuangan dunia hanya sekitar 300 juta dollar sehari, sekarang di tahun 1990-an meningkat tajam menjadi 1 trilyun dollar sehari! Kalau dulu transaksi memerlukan waktu berhari-hari, sekarang cukup dalam hitungan per-detik, maka milyaran dollar bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain, berkat electronic mail. Jadi arti kata global mengandung arti lingkupnya yang kompak, terintegrasi dan menyatu; menggantikan ekonomi nasional dan regional. Globalization is an objective reality underlining the fact that we are all passengers on the same vessel, that is, this planet where we all live. But, passengers on this vessel are traveling in very different conditions. The International Monetary Fund (IMF) provides the typical definition of globalization, which is the growing economic interdependence of countries worldwide through increasing volume and variety of cross-border transactions in goods and services, free international capital flows, and more rapid and widespread diffusion of technology. The World Bank defines globalization as the "Freedom and ability of individuals and firms to initiate voluntary economic transactions with residents of other countries". Globalization can mean a lot of things. At one end of the spectrum, Noam Chomsky defines it as "a conspiracy of the Western elite to establish private tyrannies across the world" Globalization means, then, the extension of the capitalist way of life to all corners of the globe. With the end of Cold War, globalization is globalizing Anglo-American style capitalism and the Golden Straitjacket. It is globalizing American culture and cultural icons. It is globalizing the best of America and the worst of America. Globalisasi adalah sebuah proses sistematis untuk merombak struktur perekonomian negara-negara miskin, terutama berupa pengerdilan peran negara dan peningkatan peranan pasar, sehingga memudahkan pengintegrasian perkonomian negara-negara miskin itu ke dalam genggaman para pemodal negara-negara kaya. Kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekadar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial , atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat. Ini adalah bebarapa ungkapan tentang globalisasi, yang diartikulasikan secara berbeda oleh banyak kalangan. Namun, dari ungkapan yang berbeda ini ada ’nada’ sama dalam memandang globalisasi. Ia adalah sebuah proses cepat dan berskala global dalam merubah dunia berdasarkan tata nilai dan ideologi kapitalisme. Bahkan Friedman secara khusus menyebut globalisasi sebagai proyek kapitalisme bergaya Anglo Amerika. Pengaruh globalisasi tidak hanya pada masalah teknologi (materiil), namun seluruh sendi kehidupan manusia, baik masalah ekonomi, politik, hukum, budaya, pendidikan, bahkan agama. Hizbut Tahrir Menyikapi Globalisasi Sebagai Partai Politik Internasional yang berdiri diatas ideologi Islam, Hizbut Tahrir melihat globalisasi dalam kaca mata ideologis. Globalisasi bukan sekedar fenomena semakin menyempitnya dunia menjadi global village sebagai ‘berkah’ dari kemajuan teknologi informasi-komunikasi dan transportasi. Revolusi teknologi di bidang teknologi telekomunikasi; teknologi jaringan komputer; teknologi media komunikasi optic dan wireless; teknologi multimedia seperti teknik representasi data, kompresi-dekompresi, enkripsi-dekripsi; serta teknologi pendukung lainnya bukanlah inti dari globalisasi itu sendiri. Walaupun kemajuan teknologi ini menjadi ciri era globalisasi, namun ia bukan intinya. Inti dari globalisasi itu adalah imperialisme. Sebuah penyebutan yang mengejutkan bagi sebagian kalangan? Namun, fakta dan bukti banyak mengkonfirmasi bahwa globalisasi merupakan metamorfosis baru dari imperialisme Kapitalis Barat. Dulu kita mengenal bentuk awal imperialisme berupa kolonialisasi, yaitu penguasan wilayah oleh negara-negara Barat atas Dunia Islam pada abad 19 dan Abad 20. Bentuk ini kemudian berakhir pasca perang dunia kedua (1945) dan berubah menjadi modernisasi. Modernisasi ini dikenal dengan istilah pembangunan (development). Hakekat modernisasi sama dengan kolonialisasi, yaitu praktik negara-negara Barat untuk terus mengukuhkan dominasinya atas negara-negara bekas jajahan pasca Perang Dunia II. Jadi globalisasi adalah metomorfosis paling mutakhir dari imperialisme, yang mulai digaungkan pada pertengahan tahun 80-an. Globalisasi, modernisasi dan kolonialisasi adalah istilah-istilah berbeda yang merujuk pada substansi yang sama yaitu imperialisme. Imperialisme sendiri merupakan pemaksaan dominasi politik, militer, budaya, dan ekonomi atas suatu negara untuk dieksploitasi. Imperialisme atau penjajahan (isti'mariyah) merupakan metode baku dari ideologi kapitalis dalam menyebarkan pengaruhnya. Kendati merupakan metode baku, tapi manifetasi imperialisme muncul dalam beragam bentuk, bisa berupa dominasi militer, politik, ekonomi, sosial, hukum, pendidikan, budaya maupun bentuk yang lain. Perlu untuk diingat, setiap bentuk imperialisme pasti menciptakan ketidakadilan dan kerusakan. Pada era kolonialisasi jutaan manusia hidup dalam penderitaan. Negara Kapitalis Barat merampok kekayaan alam negara Dunia Ketiga. Dibawah todongan senjata kedaulatan negara diperkosa, wanita dilecehkan, manusia diperbudak dan masyarakat pribumi disiksa. Pada tahun 1980-an, proses modernisasi menempatkan negara Dunia Ketiga menjadi negara miskin, terbelakang dan terpinggirkan, sekaligus tetap menjadi obyek eksploitasi negara maju. Pada tahun itu, negara-negara industri yang jumlah penduduknya hanya 26 % dari penduduk dunia ternyata menguasai lebih dari 78 % produksi, menguasai 81 % perdagangan dunia, 70 % pupuk, dan 87 % persenjataan dunia. Sementara 74 % penduduk di Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang dimasukkan ke dalam Dunia Ketiga tadi, hanya menikmati sisanya, yakni seperlima produksi dan kekayaan dunia. Begitupun dengan era globalisasi sekarang ini. Globalisasi memberi kemakmuran pada negara maju, tapi kemiskinan dan keterbelakangan pada negara-negara Dunia Ketiga. Menurut laporan UNDP tahun 1999, seperlima orang terkaya dari penduduk dunia mengkonsumsi 86 % barang dan jasa dunia. Sebaliknya seperlima penduduk termiskin hanya mendapatkan 1 persen lebih sedikit barang dan jasa dunia. Catatan buruk lain dapat dilihat dari penderitaan umat manusia dalam memenuhi kebutuhan pokoknya. Saat ini, diperkirakan lebih dari 840 juta penduduk dunia mengalami malnutrisi, dan enam juta balita meninggal setiap tahun sebagai akibatnya. Sekitar 1,2 miliar penduduk dunia hidup dengan penghasilan kurang dari satu dolar AS sehari, sekitar separuh penduduk dunia hidup dengan dua dolar ASsehari. Sementara di lain pihak, penghasilan dari kelompok 1% terkaya di dunia setara dengan 57% penduduk dunia. Melihat uraian di atas dan memperhatikan perkembangan dunia saat ini serta pemahaman tentang hakekat globalisasi, maka HTI mengambil sikap tegas terhadap globalisasi. Ia adalah fenomena berbahaya yang harus disikapi secara cerdas. Harus ada kewaspadaan penuh dari semua orang tentang fenomena ini. Sikap proaktif harus dikembangkan dalam menyikapi proses universalisasi ideologi kapitalis ini. Kelengahan, penerimaan membabi buta serta tanpa perlawanan berarti memberi jalan bagi mulusnya imperialisme yang terus menerus mencengkeram dan mengeksploitasi dunia, terutama dunia Islam. Perlu digaris bawahi di sini bahwa yang dilawan oleh HTI dari globalisasi bukanlah aspek kemajuan sains dan teknologi yang dihasilkannya. Kemajuan teknologi seperti komputer, televisi, handphone, internet, modem, teknologi wireless, software engineering, transportasi pesawat terbang, teknologi nano dan segala macam bentuk karya sainstek pada dasarnya adalah boleh, secara umum bersifat universal dan tidak terkait nilai (value free), sehingga boleh diambil dan diterapkan oleh umat Islam selama tidak bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam. Sains dan teknologi ini harus dikuasai bila kemanfaatannya sangat diperlukan demi kemajuan material umat manusia. Iapun harus dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan dakwah dalam mewujudkan perubahan dunia. Apa yang ditentang oleh HTI adalah fakta bahwa globalisasi merupakan suatu proses perubahan sosial (social engineering) bahkan rekayasa perubahan dunia (world change engineering) yang menjadikan seluruh manusia di planet ini, termasuk kaum muslimin, tunduk, meyakini dan mengamalkan ideologi kapitalis. Jadi, globalisasi sebagai proses perubahan ideologis tidak boleh dipahami secara lugu. Ia bukan sekedar proses menyatunya berbagai belahan dunia akibat kemajuan luar biasa dari teknologi komunikasi dan informasi. Globalisasi juga bukan sekedar proses integrasi perekonomian nasional ke kancah perekonomian internasional melalui penghapusan segala hambatan tarif dan non tarif. Globalisasi hakikatnya adalah proses universalisasi ideologi kapitalisme, utamanya di bidang ekonomi melalui pemaksaan prinsip-prinsip neo-liberalisme oleh badan-badan dunia seperti IMF, WTO dan Bank Dunia yang sengaja dibentuk untuk melancarkan semua usaha dominasi dan eksploitasi bangsa-bangsa yang lemah. Harapannya, seluruh dunia memeluk ideologi ini sebagai satu-satunya ideologi yang diklaim absah menjadi pemenang sejarah, khususnya setelah kehancuran Komunisme tahun 1991. Bertolak dari persepsi ini HTI dengan tegas menentang berbagai agenda imperialisme di balik baju manis globalisasi. Menyikapi Globalisasi di Indonesia Terhadap globalisasi di Indonesia, HTI juga menyikapinya dengan jelas dan tegas. Dalam pandangan HTI, di Indonesia, globalisasi dan liberalisasi makin jauh masuk utamanya melalui LOI (Letter of Intent) tahun 1998 yang ditandatangani bersama oleh Soeharto, presiden Indonesia ketika itu, dan Camdessus, mewakili IMF menyusul krisis moneter yang melanda Indonesia. Diantara butir LOI adalah penghapusan subsidi, privatisasi dan liberalisasi. Beberapa butir penting itu kini sudah dilaksanakan. Subsidi pupuk dihapus, begitu juga BBM yang membuat kedua komoditas strategis itu melambung terus harganya. Tentu saja rakyat sangat menderita karenanya. Bersama dengan liberalisasi sektor migas yang dilakukan melalui UU Migas tahun 2001 yang memuat pasal penghentian peran monopoli Pertamina mulai tahun 2005 ini, penghapusan subsidi itu ternyata berujung pada masuknya perusahaan asing di dalam bisnis migas di Indonesia. Artinya, melalui tangan IMF dan para kompradornya di dalam negeri Indonesia, kapitalis global bisa masuk dengan legal dan leluasa untuk menghisap kekayaan Indonesia. Apa yang akan kita katakan bila itu bukan merupakan penjajahan atau imperialisme ekonomi? Contoh lain dari dari makin merasuknya paham neo liberal ke tubuh ekonomi Indonesia adalah UU No 7 Tentang Sumber Daya Air (SDA) tahun 2004. UU itu dalam banyak pasal membuka peluang terjadinya privatisasi sektor air, sekaligus memungkinkan pengalihan fungsi air secara fundamental dari fungsi publik yang bersifat sosial menjadi fungsi komoditas yang bersifat komersial. Maka, bersama dengan berbagai komponen umat Islam yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) pada 29 April 2005 di Jakarta, HTI mengadakan diskusi publik dan demo besar bertema Menolak Liberalisasi Air dalam UU Sumber Daya Air. FUI sepakat bahwa UU tersebut harus ditolak dan diganti dengan pengaturan yang sesuai dengan syariah Islam yang mampu mempertahankan hak dasar rakyat atas air dan memungkinkan pengelolaan air secara adil. Perhatian HTI terhadap liberalisasi sektor sumber daya alam, yang menjadi sasaran empuk tindak eksploitasi kapitalis global, tidak pernah berhenti. Liberalisasi itu diantaranya terjadi pada kasus migas di blok Cepu. Dalam acara diskusi yang diadakan IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) medium Juni 2005 dimana HTI juga diundang, terungkap bagaimana tidak masuk akalnya kebijakan pemerintah Indonesia yang tetap memperpanjang kontrak dengan Exxon Mobil di ladang migas di blok Cepu yang dikabarkan mempunyai cadangan sebanyak 1,2 miliar barel yang semestinya berakhir 2010. Bukan hanya itu, Exxon Mobil bahkan mendapatkan persentase saham dan bagi hasil. Diskusi menilai, keputusan itu sungguh aneh, mengingat tidak ada satu pun alasan baik secara histories, teknis maupun ekonomis yang membuat Indonesia harus melanjutkan kontrak dengan Exxon Mobil. Satu-satunya penjelasan yang rasional adalah bahwa kebijakan pemerintah itu lahir akibat tekanan politik pemerintahan Bush serta kepentingan bisnis para kompradornya di Indonesia. Inilah globalisasi yang tidak lain berwujud imperialisasi ekonomi demi kepentingan eksploitasi sumberdaya ekonomi. Penutup : Universalisasi Islam sebagai jawaban Dunia Masa Depan Islam tidak boleh dipahami hanya sebagai agama yang hanya mengatur urusan private manusia dengan Allah SWT dan muamalah yang bersifat terbatas. Pemahaman Islam hanya sebagai agama berarti proses paksa sekularisasi yang memang menjadi agenda Barat. Islam harus dipahami secara komprehensif. Ia adalah Dien yang diturunkan oleh Allah SWT kepada baginda Muhammad SAW untuk mengatur urusan manusia dengan Tuhannya (dalam masalah ibadah dan aqidah), mengatur diri sendiri (dalam masalah makanan, minuman, pakaian, akhlaq), juga mengatur hubungan antara manusia (memiliki sistem ekonomi, politik, hukum, sosial, budaya, pendidikan. Politik luar negeri dll). Jadi Islam adalah agama sekaligus ideologi. Islam tidak hanya memberi ketenangan dan kedamaian diri bagi pemeluknya, namun ia juga berisi aturan untuk urusan publik manusia. Islam memiliki sistem dan cara hidup yang khas bagi umat manusia, termasuk non-muslim. Disamping itu, Islam sejak kelahirannya telah memiliki visi yang bersifat universal. Di awal ke-Nabian Muhammad saw di Mekkah muncul firman Allah SWT yang artinya : “Dan al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat manusia” (TQS. Al-Qalam : 52) Diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud r.a bahwa pada waktu ayat ini turun, baru ada enam orang pemeluk agama Islam. Meski demikian, ayat tersebut menyatakan bahwa kaum Muslim harus mendakwahkan Islam ke seluruh dunia. Ayat ini adalah salah satu dari beberapa ayat al-Qur’an yang memberikan suatu pandangan dunia (world view/fikrah kulliyah) dan misi yang bersifat mondial kepada siapa saja yang berpedoman pada aqidah Islam. Dalam ayat di atas, Allah SWT menggunkana kata al’alamîn yang merupakan bentuk plural (jamak) untuk menyebut seluruh umat manusia di dunia, tanpa memandang batasan waktu maupun tempat. Disamping itu, Allah SWT juga berfirman yang artinya: “Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (TQS. Saba’ : 28) “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. (TQS al-Anbiya’ : 107) Kenyataan Islam sebagai ideologi, sistem hidup dan memiliki misi universal tidak hanya dipahami oleh mainstream aktivis pergerakan Islam, namun kalangan propagandis kapitalis seperti Francis Fukuyama juga memahami betul karakter Islam seperti ini. Ia mengatakan: "Adalah benar bahwa konstitusi Islam merupakan sebuah ideologi sistemik dan koheren, seperti halnya liberalisme dan komunisme, dengan kodenya sendiri mengenai moralitas dan doktrin keadilan politik dan sosial. Seruan Islam secara potensial adalah universal, yang menjangkau semua manusia sebagai manusia dan bukan hanya untuk anggota-anggota dari kelompok etnis atau bangsa tertentu.” Dengan melihat kenyataan bahwa Islam sebagai ideologi dan memiliki misi yang bersifat universal, maka Islam sangat layak untuk membangun dunia yang baru. Islam sudah saatnya menggantikan kapitalisme untuk melayani semua manusia. Mengapa harus Islam? Selain karena kewajiban bagi kaum muslim dan kesempurnaan sistem kehidupan Islam, Islam juga telah terbukti secara empirik-historis membangun peradaban unggul di kancah dunia Internasional selama 13 abad semenjak Rasulullah SAW sampai runtuhnya sistem Khilafah Islam di Turki. Islam mampu menyatukan manusia dalam keadilan dan kesejahteraan bersama. Untuk itulah, maka kami HTI menyeru agar kita selalu bersikap optimis bahwa The Better World is A Must. Mari sisakan waktu untuk mempelajari konsep-konsep ideologis Islam dan memperjuangkannya bersama-sama demi dunia yang lebih baik. Makalah disampaikan pada Workshop dengan tema “Globalisasi, Media dan Pendidikan Kaum Muda”, yang diselenggarakan pada tanggal 8-9 Maret 2008 oleh Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada dan Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) Universitas Gadjah Mada, UNiversitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan Universitas Kristen Duta Wacana, pada Speech of Jaime N. Soriano during the flag-raising ceremonies of Integrated Microelectronics Inc. (IMI) Revrisond Baswir,Mafia Berkeley dan Krisis Ekonomi Indonesia, terbitan Pustaka Pelajar, 2006. Wikipedia berbahasa Indonesia. Hizbut Tahrir didirikan di Al-Quds (Yerussalem) tahun 1953 oleh Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani (1908-1977), radhiyallahu 'anhu, seorang 'alim dan terhormat, seorang pemikir besar, politisi ulung, dan hakim Mahkamah Banding di Al-Quds. Di bawah kepemimpinan Taqiyyudin, Hizbut Tahrir terus berjuang dan meluaskan pengaruhnya ke seluruh penjuru dunia, hingga menjangkau lebih 40 negara dengan puluhan juta pengikut di benua Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika. Pada tahun 1980-an Hizbut Tahrir mulai bergerak di Indonesia, dan pada tahun 2000 dengan nama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mulai muncul ke tengah publik melalui acara Kongres Internasional Khilafah Islamiyah di Jakarta. Barat di sini tidak dipahami sebagai ras atau orang yang hidup di tempat geografis tertentu. Ini adalah sebutan untuk negara-negara Barat yang menerapkan ideologi kapitalisme serta menjajakan dan memaksakannya kepada dunia. Hizbut Tahrir, Mafahim Siyasiyah li Hizb al-Tahrir, (Tanpa Tempat Penerbit : Hizbut Tahrir, 2005), hal. 9. Ismail Yusanto, juru bicara HIzbut Tahrir Indonesia, makalah yang disampaikan dalam Konferensi Internasional dengan tema "Modernization and National Identity in East Asia: Globalization and the Revival of Religion", diselenggarakan oleh Center for Interdisciplinary Study of Monotheistic Religions (CISMOR), pada Nopember 2005, di Kyoto, Jepang. International Forum on Globalization. 2003. Globalisasi Kemiskinan dan Ketimpangan (Does Globalization Help The Poor?), terjemahan oleh A. Widyasmara dan AB Widyanta, (Yogyakata : Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas. 2003). DR. Drajat G. Wibowo, dalam pengantar buku Making Globalization Work, tulisan Joseph E. Stiglitz. (Yogyakata : terjemahan Mizan. 2007). Abdul Qadim Zallum, Demokrasi Sistem Kufur : Haram Mengambil, Menerapkan, dan Menyebarluaskannya, hal. 40-41. "Modernization and National Identity in East Asia: Globalization and the Revival of Religion", diselenggarakan oleh Center for Interdisciplinary Study of Monotheistic Religions (CISMOR), Makalah Ismail Yusanto, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia, pada Nopember 2005, di Kyoto, Jepang. Barat harus diakui bangkit dengan ideologi kapitalisme-nya yang berintikan sekularisme. Ideologi ini berawal dari penolakan masyarakat Eropa terhadap dominasi gereja dan raja pada Abad Pertengahan, dari abad ke-5 sampai abad ke-15. Jadi bila Barat bangkit dengan sekulerisasi, bukan berarti Dunia Islam juga bisa bangkit dengan hal yang serupa. Semangat penolakan terhadap Kristen pada urusan publik tidak relevan bila dalam konteks Islam, karena Islam tidaklah sama dengan Kristen. Dalam persfektif Islam, non muslim haram dipaksa untuk memeluk Islam. Berkeyakinan, beribadah sesuai dengan agama yang diyakini adalah hak mereka. Dalam masalah aturan publik muslim dan non-muslim mendapat keadilan yang sama. Haram hukumnya bersikap tidak adil pada mereka. Bila muslim mendapat pendidikan dan kesehatan gratis, menurut perspektif Islam, maka non-muslim pun mendapat hak yang serupa. Ketidakadilan terhadap mereka berarti dosa yang akan dimintai di Hari Pembalasan. Zahid Ivan Salam, Jihad and The Foreign Policy of The Khilafah State, Khilafah Publications, London, England, 2001. Francis Fukuyama, The End of History and The Last Man, terjemahan oleh M.H Amrullah, penerbit Qalam, Yogyakarta, 2004. Karena keterbatasan ruang, maka keunggulan sistem kehidupan Islam dalam masalah politik pemerintahan, ekonomi, hokum, pendidikan, social budaya dan politik luar negeri tidak bisa dijelaskan di sini. Hizbut Tahrir Indonesia, sebagai salah satu komponen umat manusia di dunia tidak hentinya menyuarakan optimisme lahirnya dunia yang baru melalui penegakan syariah di bawah institusi Khilafah Islamiyah. Optimisme ini diajarkan dan ditularkan melalui pembinaan di masjid-masjid, sekolah, kantor dan juga rumah-rumah. Optimisme inipun sering diungkap dalam berbagai seminar dan pertemuan, baik yang diselenggarakan oleh HTI atau forum yang diselenggarakan oleh berbagai kalangan. Acara akbar yang baru saja digelar adalah Konfrensi Khilafah Internasional dengan mengusung tema ”Saatnya Khilafah Memimpin Dunia”. Acara yang diselenggarakan pada hari Ahad, 12 Agustus 2007 ini diadakan di stadion Gelora Bung Karno dan dihadiri lebih dari 100.000 peserta dari berbagai kalangan dan negara. Pembicarapun dihadirkan baik dari dalam mapun luar negeri.
“Catatan Kecilku untuk para Intelektual” Oleh : Nopriadi (Staff Pengajar Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada) Peradaban Barat haruskah diterima semua? Peradaban Barat haruskah ditolak semua? Peradaban Barat haruskah dipilah-pilah? Mengapa?Bagaimana?dan Apa argumennya? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas adalah inti dari maksud tulisan ini dibuat. Ini penting mengingat saat ini cukup banyak dari intelektual muslimin yang mengalami krisis identitas dan tidak menampakan jenis kepribadian Islam (syakshiah Islamiyah). Akibatnya banyak yang bersikap tidak proporsional terhadap peradaban asing (baca : Barat[i]). Ada yang terkena demam westomania, yaitu menganggap Barat segala-galanya, seperti pegiat Jaringan Iblis Liberal. Adapula yang secara membabi buta mengharamkan atau menolak segala yang dari Barat. Pola sikap seperti ini semestinya tidak terjadi pada diri seorang muslim, mengingat keyakinan yang dimilikinya adalah Dien yang sempurna. Islam bukan sekedar agama tapi sudah menjadi way of life (cara hidup) yang komplit dan mengurusi seluruh aspek kehidupan strategis. Ini secara de facto dan de yure berbeda dengan agama lain, seperti Kristen, Budha, Hindu ataupun Yahudi.[ii] Islam satu-satunya keyakinan yang mampu memberikan kaca mata secara jernih kepada pemeluknya sehingga mampu menyikapi berbagai persoalan kehidupan secara tepat, baik menyangkut ekonomi, politik, pemerintahan, budaya, hukum dsb. Muslim seharusnya lebih percaya diri dan bersikap elegan ketika menyikapi gemerlapnya peradaban Barat. Diharapkan dengan tulisan ini kita mampu melihat peta persoalan dengan jernih, mendudukannya secara tepat dan bersikap secara cerdas terkait dengan masalah adopsi karya dari sebuah peradaban, khususnya Barat. Mudah-mudahan dapat memberikan sedikit pencerahan. Manusia butuh akan idea dan sarana fisik Idea dan sarana fisik adalah dua hal yang sepanjang masa diproduksi dan digunakan oleh manusia dalam rangka memenuhi keinginan, kebutuhan maupun menyelesaikan problematika kehidupannya. Dengan keduanya manusia berharap dapat menjalani kehidupan secara normal. Yang dimaksud dengan idea di sini adalah gagasan, konsep ataupun produk pemikiran yang ada dalam benak manusia. Ia bisa bersumber dari pemikiran manusia un sich, atau bersumber dari wahyu (kitab suci). Biasanya ia dituangkan secara lisan, tulisan atau diwujudkan dengan tindakan/perbuatan. Contoh dari idea adalah gagasan tentang demokrasi, hak azasi manusia, konsep welfare state, sistem parlemen, liberalisme laissez-faire, trias politica, zakat, haji, jihad, konsep tentang komunikasi efektif, kepemimpinan transformasional, managemen strategis, konsep pengobatan herbal, hipnoterapis, hukum relativitas Einstein maupun hukum mekanika Newton. Termasuk idea di sini adalah karya-karya seperti The 8th Habit-nya Steven Covey, Good to Great-nya Jim Collins, Tao Te Ching-nya Lao Tzu, Psyco-Cybernetics-nya Maxwell Maltz, The Alchemist-nya Paulo Coelho, The Wealth of Nations-nya Adam Smith, The Social Contract-nya Rousseau, Ar-Risalah-nya Imam Syafií, Muqoddimah-nya Ibnu Khaldun, Bulugul Maram-nya Ibnu Hajar Atsqolani, Ahkamul Shultoniyah-nya Imam Al-Mawardi, Nidzhom al Islam-nya Taqiyuddin An-Nabnahi, maupun How to Win Friends and Influence People-nya Dale Carenegie. Semua ini adalah idea yang dihasilkan, dikembangkan dan diaplikasikan oleh manusia untuk memenuhi keinginan, kebutuhan dan problem solvings kehidupannya. Sementara yang dimaksud dengan benda atau sarana fisik adalah hal-hal yang memiliki wujud dan bisa diindera secara langsung maupun tak langsung. Ia terbentuk bisa karena campur tangan manusia, bisa pula secara alamiah terbentuk melalui mekanisme alam. Namun yang menjadi perhatian kita di sini adalah sarana fisik yang dihasilkan melewati kreasi manusia, seperti komputer, webcam, microprocessor, patung, washing machine, salib, televisi, kaligrafi, masjid, vihara, gereja, baju bikhu, kipas angin, reaktor nuklir, satelit ikonos, radar, pesawat terbang dan lain sebagainya. Sementara benda fisik seperti udara, air, gunung, cahaya matahari dan lain sebagainya tidak termasuk dalam pembahasan tentang kreasi peradaban. Peradaban dominan sebagai trend setter idea dan sarana fisik Kenyataan menunjukkan bahwa peradaban dominan akan menjadi trend setter bagi peradaban yang lain dalam hal produksi dan aplikasi idea dan sarana fisik. Dulu di masa Romawi berkuasa apa-apa yang berasal dari sana diadopsi oleh negara lainnya, seperti konsep hukum yang tertuang dalam corpus juris[iii]. Kodifikasi hukum ala Romawi ini diadopsi oleh banyak manusia pada zaman kejayaannya. Ketika Islam berkuasapun, fiqh tidak hanya dipelajari oleh muslim, tapi menjadi minat banyak kalangan. Saat ini Barat menjadi peradaban dominan. Wajar bila sarana fisik maupun idea yang berasal dari Barat akan ngetrend dan digemari pula di negeri-negeri lain. Lihat saja Mac Donald, Kentucy, Pizza Hut, Cola, Pepsi, rambut ala Demi Moore, film-film Holly Wood dan berbagai produk teknologi tidak hanya dijumpai di Barat, namun digemari pula di berbagai sudut penjuru dunia, termasuk di dunia Islam. Tidak cuma itu, idea yang berasal atau dikembangkan dari Barat saat ini menjadi paradigma atau terms of reference umat manusia di seluruh dunia. Ini bisa dibuktikan dengan melihat kenyataan berbondong-bondongnya umat manusia, termasuk kaum muslimin, yang belajar ke negeri Barat untuk mendalami berbagai masalah pemikiran, agama, hukum, politik, ekonomi, seni, manajemen, psikologi, sains-teknologi dan berbagai tsaqofah dan disiplin ilmu lainnya. Harvard Business School, Massachushate International Technology (MIT), Oxford University, Cambridge University, Chicago University, McGill’s Institute of Islamic Studies dan California University adalah sedikit dari sekian banyak sekolah yang digandrungi dan dijadikan impian para scholar maupun calon scholar dari berbagai negeri, termasuk dari negeri-negeri Islam. Jutaan orang telah berhasil membanjiri berbagai university, institute atau college tersebut, namun yang antri dan yang hanya bisa bermimpi jumlahnya jauh lebih banyak lagi. Hal ini membawa kita pada ingatan masa lalu dimana dunia Islam pernah menjadi tempat pelancong ilmu dari Eropa, Asia dan dari berbagai penjuru dunia lainnya. Madrasah[iv],Kuttab[v] banyak sekali bertebaran di negeri Islam, begitupun halaqoh[vi] yang didirikan oleh para khalifah. Banyak lembaga pendidikan yang tersebar di kota-kota seperti Baghdad, Damaskus, Kairo,Granada, Seville, Pisa, Malaga, Cordoba dan lainnya. Beberapa sekolah tinggi yang terkenal di antaranya Mustansiriah, Nidhamiyyah, Sarwiyyah, an-Nuriah, Khawja Najamuddin dan Darb-i-Mahan. Tempat ini membahas berbagai cabang ilmu, dari maslaah Dien sampai maslah ilmu pengetahuan umum seperti matematika,geografi, sejarah dan kedokteran. Kenyataan lain yang menunjukkan bahwa Barat sekarang ini menjadi kiblatnya idea adalah melimpahnya toko-toko buku atau perpustakaan yang menyediakan buku-buku orisinil maupun hasil terjemahan dari barat. Buku-buku mereka digemari dan menjadi koleksi yang diburu, persis seperti para remaja menggandrungi para selebriti dari Barat. Buku-buku ini mengupas hampir seluruh sendi kehidupan seperti masalah motivasi personal, konsep kebahagiaan, konsep kesehatan, membangun keluarga bahagia, kiat sukses dalam bisnis, ilmu retorika, konsep politik, pemerintahan, ekonomi, HAM, demokrasi, civil society, kedokteran, fisika, dan lain sebagainya. Karya-karya mereka ini tidak hanya menjadi kebutuhan, namun menjadi karya favorite di kalangan pemuda muslim. Sama halnya dengan sejarah Islam. Dulu toko buku dan perpustakaan tersebar di berbagai kota, seperti di Baghdad, Kairo, Cordova, Toledo, Sharaz, Merv, Mosul,Basrah, Fez, tunis dan lain sebagainya. Mehdi Nakosteen mencatat di Baghdad saja ada 36 perpustakaan, diantaranya Bayt Al-Hikmah, perpustakaan Umar Al-Waqidi, Dar Al-Ilmi, Nizamiyah, perpustakaan Madrasah Mustansiriyah, Al-Baiqani, Muhammad Ibn Al-Husain, Ibnu Kamil. Perpustakaan-perpustakaan ini menyediakan banyak buku dari berbagai disiplin ilmu serta dinikmati oleh siapa saja, baik muslim maupun non-muslim dari berbagai penjuru negeri. Dari deskripsi singkat di atas dapatlah disimpulkan bahwa sebuah peradaban yang dominan secara sunatullah akan menjadi rujukan dan kiblat dalam masalah sarana fisik dan idea. Saat ini Baratlah yang menjadi rujukan karena dominasi peradabannya. Sebelumnya Islam juga pernah menjadi rujukan idea dan sarana fisik, yaitu pada saat menjadi super power dunia. Mengambil sikap atas kreasi sebuah peradaban asing Idea dan sarana fisik, masing-masing, dapat dipetakan menjadi dua macam. Ada idea yang lahir dari pandangan hidup atau ideologi tertentu (yang disebut hadharoh) seperti konsep demokrasi, HAM, trias politica, konsep trinitas, konsep zakat, jihad, diyat, jizyah, maupun konsep-konsep lain yang terkait dengan sistem ekonomi, sistem politik, sistem pemerintahan, sistem perundangan dsb. Hadharah ini merupakan sekumpulan persepsi tentang kehidupan. Ada pula idea yang bersifat free value, tidak dipengaruhi pandangan hidup tertentu, seperti kebanyakan konsep dalam masalah manajemen, administrasi dan sains-teknologi. Hal ini kita sebut saja sebagai ilmu pengetahuan. Kemudian ada sarana fisik yang bersifat umum (madiyah ‘am) yang tidak khas pandangan hidup tertentu seperti komputer, hp, kereta api, mobil, pesawat terbang, kaca mata, penggaris, motor, mobil dsb. Ada pula sarana fisik yang bersifat khas (madiyah khoz), dipengaruhi oleh hadharoh tertentu seperti patung, salib, kaligrafi Qurán dan sebagainya. Tabel berikut untuk memetakan idea dan sarana fisik yang ada di sekitar manusia. Peta Idea dan Sarana Fisik | Macam | Idea | Sarana fisik | | Terpengaruh pandangan hidup | Hadharoh | Madiyah Khoz | | Tidak terpengaruh pandangan hidup | Free Value Idea | Madiyah ‘Am | Dengan pemetaan di atas manakah yang boleh dan tidak boleh digunakan/diadopsi oleh seorang muslim? Kreasi peradaban manakah yang bisa ditolerir atau tidak sama sekali? Yang boleh diadopsi/digunakan oleh seorang muslim adalah ilmu pengetahuan (free value idea) dan madaniyah ám . Alasannya karena tidak terpengaruh pandangan hidup lain dan bersifat universal yang bisa dimanfaatkan oleh siapa saja. Sementara madaniyah khoz dan hadharoh dilarang untuk mengambil dan mengadopsinya. Alasannya karena berasal atau dipengaruhi oleh pandangan hidup asing (bukan Islam). Membolehkan dan tidak membolehkan ini tidak didasari oleh pandangan sempit dengan pertimbangan maslahat-mudharat versi kecenderungan hati manusia. Namun, harus dengan hujjah atau argumentasi syarí. Artinya Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW dijadikan rujukan untuk melihat segala sesuatu boleh ataukah tidak. Inipun bagi yang masih percaya dan meyakini Qurán dan Hadits sebagai dua sumber hukum otoritatif yang dibawa oleh Rasululullah saw. Pertimbangan manfaat dan mudharat un sich adalah cara berpikir yang sangat tidak standar bagi seorang muslim. Pola pikir seperti ini primitif dan naif karena segala sesuatu dilihat dari kecenderungan hati (sangat tipis dibedakan dengan kecenderungan nafsu). Pertimbangan atau penempatan masalah maslahat dan mudharat Insya Allah akan dikupas secara tuntas di lain kesempatan. Bolehnya menggunakan madaniyah ám dan free value idea bisa dilihat bagaimana praktek Rasulullah saw dan para sahabat. Dalam rangka mengantisipasi kebutuhan akan teknologi, Rasulullah saw pernah mengirim dua orang sahabat, yaitu: Ürwah Ibnu Masúud dan Ghailan Ibnu Maslamah”ke kota Jarasy di Yaman untuk mempelajari pembuatan peralatan perang yang bernama Dabbaabah[vii], setelah beliau mengetahui bahwa alat tersebut mampu digunakan untuk menerobos benteng lawan.[viii] Begitupun dalam perang khandaq. Kaum muslimin menggunakan strategi parit yang diusulkan oleh sahabat Salman Al-Farisi untuk membentengi kota Madinah dari serangan musuh. Metode ini diadopsi dari Persia dan belum dikenal oleh Rasul dan para sahabat. Umar bin Khattab adalah orang yang pertama kali membuat diwan di dalam sejarah Islam. Hal ini diteruskan oleh kaum muslimin. Setelah Islam menguasai Irak, maka diwanul istiifa’(instansi pengumpul harta fa’i) dan isntansi pengumpul harta mulai berjalan seperti praktek yang terjadi sebelumnya di sana. Diwan Syam mempergunakan gaya romawi, karena Syam-ketika itu-merupakan bagian dari kerajaan Romawi. Sedangkan diwan Irak mempergunakan gaya Persia, karena Irak-ketika itu-merupakan bagian dari kerajaan Persia. Dari peristiwa di atas dapatlah kita simpulkan bahwa madaniyah ám dan free value idea adalah boleh untuk diadopsi atau digunakan, karena bersifat universal. Karena itu segala ilmu pengetahuan maupun produk dari sains teknologi bersifat boleh untuk dipakai. Kaum muslimin tidak dilarang belajar tentang roket, hukum fisika Einstein, hukum mekanika kuantum, thermodinamika, radar, telekomunikasi, sistem administrasi, managemen organisasi, ilmu menanak nasi ala Cina, menggoreng telur ala Eropa dan lain sebagainya. Bahkan status hukum sebagian ilmu tadi hukumnya fardhu kifayah,dan bisa menjadi fardhu ’ain dalam kondisi tertentu. Al-Imam Al-Ghazali berkata : ”Apabila ilmu dan karya-karya yang dimiliki non muslim lebih baik dan lebih utama dari yang dimiliki kaum muslimin, maka kaum musimin berdosa dan kelak mereka dituntut atas kelalaian itu” Saíd Hawwa menjelaskan pandangannya : ”Kami mencatat ada ribuan ilmu pengetahuan yang semuanya paling tidak dianggap fardhu kifayah bagi umat Islam, fardhu kifayah bukan berarti hanya sebatas orang yang mengetahui (melakukannya) saja, tetapi harus ada kelompok orang yang memenuhi kebutuhan umat. Ini berarti tidak cukup adanya tenaga ahli dalam ilmu atom/nuklir saja, tetapi harus ada industri pengembangannya supaya umat tidak terkena dosa. Jadi harus ada tenaga-tenaga ahli dan harus ada reaktornya, sehingga dengan demikian terhindalah umat dari dosa” Ibnu Taimiyyah menegaskan lagi: ”Pekerjaan-pekerjaan yang bersifat fardhu kifayah apabila tidak dilaksanakan akan berubah menjadi fardhu áin , terutama bila yang lain tidak mampu mengerjakannya. Kalau masyarakat membutuhkan tenaga pertanian, tekstil atau teknik sipil maka itu merupakan tugas wajib yang bisa dipaksakan penguasa apabila ahlinya menolak Namun para pekerja harus diberi imbalan yang layak dan pemerintahan tidak boleh memberi kesempatan orang untuk berbuat kezaliman dengan mengurangi imbalan/hak mereka.” Sementara argumen tidak diterimanya hadharoh asing dan madaniyah khoz adalah beberapa peristiwa berikut : Suatu saat Umar bin al-Khattab membawa sobekan Taurah, dan Rasulullah saw menunjukkan rasa marahnya dengan mengatakan : ”Apa (yang kamu bawa) ini, bukankah aku gtelah membawa (al-Kitab) yang jelas dan jernih? Kalau seandainya saudaraku Musa as hidup pada zamanku, tentu beliau tidak akan susah-susah lagi, kecuali mengikutiku”(HR Ahmad dan al-Bazzar dari Jabir). Disamping itu, hal ini diperkuat dari beberapa nash, diantaranya: ”Siapa saja yang mengambil selain Islam sebagai Dien, maka tidak akan pernah diterima” (Q.S Ali-Imran:85)
”Apakah hukum jahiliyah yang mereka ambil? Dan hukum siapakah yang lebih baik dari hukum Allah bagi orang-orang yang beriman/” (Q.S Al-Maidah: 50) Dengan demikian kaum muslimin dilarang menggunakan madaniyah khoz seperti patung, salib, baju bikhu. Dilarang pula mengadopsi hadharah sistem demokrasi (kedaulatan di tangan rakyat), sistem hukum Barat, sistem sosial Barat, sistem pemerintahan Barat, sistem ekonomi dan keuangan Barat, trinitas, budaya free sex, pluralisme dan lain sebagainya. Perlu juga dicatat di sini adalah bahwa menolak hadharoh asing bukan berarti larangan untuk mempelajari dan mendalaminya. Boleh mempelajari hadharoh mana saja. Yang dilarang hanyalah mengadopsi dan meyakini hadharoh tersebut sebagai kebenaran dan lebih layak daripada hadharoh Islam. Bila Islam memiliki hadharoh yang benar dan baik, untuk apa lagi mengadopsi hadharoh Barat? Bila kita berpikir positif (husnudzhon) maka satu-satunya alasan yang bisa dipahami mengapa para intelektual masih gandrung terhadap hadharoh Barat adalah kegagalannya memahami hadharoh Islam yang genuine. Kebodohanya akan konsep Islam-lah yang membuat mereka masih mengagungkan hadharoh Barat ini. Manusia tidak bisa hidup tanpa hadharoh, maka manusia musti mengadopsi hadharoh tersebut. Bila yang ia pahami hanyalah hadharoh Barat, bukan Islam, maka wajar ia akan mengadopsi hadharoh dari Barat. Mudah-mudahan kita tidak termasuk di dalamnya dan masih menyisakan kehanifan untuk belajar hadharoh Islam. Penutup Setelah bisa memetakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dalam masalah adopsi idea dan penggunaan sarana fisik, serta menyadari status hukum yang melandasinya, maka semua tergantung pada kita semua untuk memilih. Mudah-mudahan Allah swt memberi kekuatan pada kita untuk memilih berdasar standar syarí, bukan pertimbangan maslahat-mudharat un sich, yang bisa menyesatkan. Bila kita masih merasa berat untuk memilih standar syariat maka marilah kita berusaha menyempurnakan pemahaman Dien kita, serta berdoá kepada Allah SWT agar dimudahkan untuk menerima konsep-konsep Islam. Mudah-mudahan kita mau secara jujur dan ikhlas dalam mempelajari Islam. InsyaAllah setelah memahami Islam secara utuh akan memunculkan rasa cinta kita pada peradaban Islam yang memiliki berjuta keunggulan. Dengan memahami keunggulan dan kejernihan produk sendiri, diharapkan tumbuh rasa optimisme untuk memperjuangkan dan mengembalikan kehidupan peradaban Islam. Bukankah peradaban Islam ini tidak bersikap ekslusif? Peradaban Islam tidak hanya untuk orang Islam, namun dipersembahkan untuk semua manusia.[ix]. Kemudian yang juga penting adalah agar kita terhindar dari ‘ketersilauan’ akan hasil kreasi peradaban lain. Mudah-mudahan Allah swt dapat membuka mata kita, serta menghindarkan kita dari ketergantungan akan peradaban Barat. Ketergantungan ini bisa jadi karena lemahnya pemahaman tentang konsep peradan Islam yang genuine, atau karena banyaknya investasi (harta, waktu, tenaga, pikiran) yang dicurahkan untuk mempelajarinya, atau karena sudah menjadi mata pencaharian. Mudah-mudahan kita bersikap jujur..... Wassalam www.4intelektual.blog.com
Catatan Kaki : [i] Barat yang dimaksud di sini adalah ideologi Kapitalisme, bukan merujuk pada orang atau ras tertentu. Jadi leibh kepada ideologinya. Kapitalisme sama dengan sekulerisme, yaitu ideologi yang memisahkan agama dari masalah kehidupan (publik). Muhammad Qutb mendefinisikannya sebagai iqomatu al hayati álati ghayri asasin mina al-dini, yakni membangun struktur kehidupan di atas landasan selain agama (Islam). Syaikh Taqiyyudin An Nabhani meringkasnya dengan istilah fashluddin anil hayah, yaitu memisahakan agama (Islam) dari kehidupan. Dinamakan kapitalisme karena aspek ekonomi adalah yang paling menonjol dari ideologi ini. [ii] Francis Fukuyama menempatkan Islam sejajar dengan ideologi Kapitalis dan Sosialis dalam hal memiliki potensi untuk mengatur semua manusia dengan berbagai jenis keyakinan, ras, agama, adat istiadat dan sebagainya. [iv] Madrasah adalah pendidikan sekolah untuk umum, atau secara harfiah disebut Tempat untuk Memberikan Pelajaran. [v] Kuttab adalah lembaga pendidikan tingkat dasar yang sudah ada sejak masa Nabi. Di dalamnya diajarkan baca tulis, yang kemudian berkembang menjadi pelajaran ilmu Dien. [vi] Halaqoh adalah model pendidikan di mana seorang guru duduk dikelilingi oleh murid-mudrid yang mendengar pelajaran guru. Halaqoh bukan pendidikan tingkat dasar, namun setara dengan college. [vii] Sejenis tank saat itu yang terdiri dari kayu tebal berlapis kulit dan tersusun dari roda-roda. Alat ini dipergunakan untuk menerjang pagar ataupun pintu-pintu benteng musuh atau dipergunakan untuk berlindung dari serangan musuh. [viii] Lihat : ‘Islam Bangkitlah!’, karya Abdurrahman Al-Baghdadi terbitan Gema Insani Press, Jakarta, 1994. [ix] Lihat Fukuyama dalam bukunya The End of History and The Last Man.
The Great Khilafah and Islamic Civilization* (Telaah sejarah dan syar’i atas Kebesaran Khilafan dan keagungan peradaban Islam) Oleh : Nopriadi** 1. Prolog : Sebuah Acknowledgement “…There was once a civilization that was the greatest in the world. It was able to create a continental super-state that stretched from ocean to ocean and from northern climes to tropics and deserts. Within its dominion lived hundreds of millions of people, of different creeds and ethnic origins. One of its languages became the universal language of much of the world, the bridge between the peoples of a hundred lands. Its armies were made up of people of many nationalities, and its military protection allowed a degree of peace and prosperity that had never been known…”[i] ─ Carly Fiorina ─ Sejarah telah mencatat dalam tinta emas bahwa peradaban Islam memegang rekor tercepat, terbesar dan teragung dalam mewarnai, mempengaruhi dan menaungi kehidupan global. Tercepat, karena kaum muslim membutuhkan waktu yang relatif pendek untuk melampaui wilayah geografis kekuasaan Romawi pada masa kejayaannya. Kurang lebih 100 tahun semenjak khilafah berdiri, wilayah Islam sudah mencapai satu setengah kali kekuasaan Kaisar Trajan (100 M). Dikatakan terbesar karena kekuasaan Islam membentang hingga 4500 mil melewati tiga benua: Asia, Afrika dan Eropa. Terakhir dikatakan teragung, karena mercusuar peradaban manusia ini menyimpan banyak cerita miracle dan kisah keberhasilan. Apa yang dicapai kaum muslimin waktu itu telah melapaui batas impian manusia modern sekarang tentang dream civilization. Ketika semua orang bermimpi mendapatkan keamanan, sistem Islam telah membuktikannya. Ketika semua bermimpi kesejahteraan, Islam telah memberikannya. Ketika semua bercita-cita hidup di negara yang kuat dan adil, Islam pun telah mempersembahkannya. Singkat kata, peradaban Islam dengan sistem Khilafahnya pernah menjelma menjadi center of excellence (pusat dari segala keunggulan). Khilafah Islam menjadi kekuatan politik yang sangat berpengaruh dan disegani oleh seantero dunia, tidak terkecuali oleh penguasa raja-raja di nusantara. 2. Kunci Keberhasilan Peradaban Islam Banyak kalangan yang tidak memahami rahasia keberhasilan peradaban Islam. Mereka lebih banyak melihat cerita keberhasilan ini sebagai cerita berseri teman pengantar tidur. Padahal, ia bukan dongeng, bukan pula kisah 1001 malam. Ia adalah jejak sejarah yang berisi pictures tentang fakta keagungan sebuah peradaban. Bila kita jujur menilai sejarah, maka kejayaan Islam dan kewibaan kaum muslimin tidak pernah terjadi dengan absennya syariat Islam. Syariat Islam telah menjadikan kaum muslimin distinct (berbeda) dengan umat lain. Umat Islam adalah umat terbaik yang dipersembahkan untuk manusia ketika berpegang teguh pada Islam dan menyebarkanya ke seluruh penjuru dunia (Q.S Ali Imran 110). Sebaliknya sejarah membuktikan, semakin lemahnya penerapan Islam dalam kehidupan, maka semakin terpuruk kaum muslimin. Apatah lagi ketika Islam absen secara total dalam dinamika pengaturan umat. Kaum muslimin tidak sekedar mengalami kemunduruan, tapi meluncur tajam ke lembah kenistaan dan penderitaan. Disamping itu, sejarah juga mencatat bahwa syariat Islam tidak bisa terimplementasi secara komprehensif dan sempurna tanpa adanya institusi negara. Institusi negara merupakan keharusan bagi penerapan Islam. Satu-satunya institusi negara yang compatible dengan sistem Islam adalah apa yang dikenal dengan Khilafah Islamiyah. Khilafah Islamiyah adalah sistem pemerintahan yang menerapkan syariat Islam dan mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Kepala negara sekaligus kepala pemerintahan dipegang oleh seorang Khalifah. Jadi Khalifah adalah wakil umat dalam urusan pemerintahan dan kekuasaan serta dalam menerapkan syariat Islam[ii] Bila manusia hidup dengan syariat di bawah kepemimpinan seorang khalifah, maka kehidupan penuh berkah yang akan diraih (QS an-Nahl[16] :97). Disamping itu, Islam adalah sebuah desain untuk kebahagiaan serta rahmat bagi umat manusia(QS Anbiyaa’[21] :107). Rahmat Islam tidak bersifat eksklusif untuk kaum muslimin, tapi bagi semua manusia ketika hidup dalam naungan khilafah wa syariah. Jadi, kunci keberhasilan kaum muslimin dalam membangun peradaban impian manusia (man’s dream civilization) terletak pada penegakan khilafah wa syariah. Berikut ini dipaparkan beberapa fakta historis tentang keberhasilan kaum muslimin. Selain untuk bernostalgia masa lalu (apa salahnya mengenang kejayaan masa lalu ?), kita juga akan melihat alasan rasional dan syar’i mengapa fakta keberhasilan itu bisa dirasakan oleh pendahulu kita. Perlu dicatat, peristriwa miracle bukan sekedar milik masa lalu. Ia mestinya bisa dibayangkan sekarang. Tentu saja sangat mungkin untuk diputar ulang di masa depan, asalkan kita masih berpegang teguh kepada dua hal, pegangan para pendahulu kita: Qur’an dan Sunnah. Bukankah Qur’an yang kita pegang sama dengan Qur’an pendahulu kita ? Bukankah as-Sunnah yang kita miliki juga masih sama dengan as-sunah pendahulu kita ? Dalam paparan ini, akan dipotret dua bagaimana penataan politik dalam negeri dan keberhasilan politik luar negeri. Disampng itu, kita akan putar jarum jam sejarah nusantara ke belakang untuk melihat khilafah Islam dalam menaungi wilayah nusantara (ternyata kaum muslim di Indonesia pernah hidup dalam naungan khilafah). 3. Penataan Politik Dalam Negeri Kebijakan politik dalam negeri khilafah adalah mengimplementasikan syariat Islam secara total bagi seluruh warga negara. Warga negara terdiri kalangan muslim dan kalangan non-Muslim (ahlu adzhimah). Semua warga negara memiliki status sama dalam hal menikmati hak dan menjalankan kewajiban berdasarkan syariat. Kita akan menyoroti 3 aspek penyelenggaran politik dalam negeri : bidang ekonomi, hukum dan peradilan serta pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi. a. Keberhasilan di Bidang Ekonomi Sebuah cerita menarik tentang keberhasilan ekonomi Islam dapat dilihat pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada masa ini kebijakan politik ekonomi Islam meraih kesuksesan. Pada tahun kedua kepemimpinannya, Umar bin Abdul Aziz menerima kelebihan uang Baitul Mal secara berlimpah dari gubernur Irak. Beliau lalu mengirim surat kepada gubernur tersebut : “Telitilah, barang siapa berhutang, tidak berlebih-lebihan dan berfoya-foya, maka bayarlah hutangnya”. Kemudian gubernur itu mengirim jawaban kepada beliau : ” sesungguhnya aku telah melunasi hutang orang-orang yang mempunyai tanggungan hutang, sehingga tidak ada seorang pun di Irak yang masih mempunyai hutang, maka apa yang harus aku perbuat terhadap sisa harta ini?” Beliau menjawab “Lihatlah setiap jejaka yang belum menikah, sedangkan ia menginginkan menikah, kawinkanlah dia dan bayar mas kawinnya”. Gubernur tersebut mengirimkan berita lagi bahwa dia sudah melaksanakan semua perintahnya, tetapi harta masih juga tersisa. Selanjutnya khalifah mengirimkan lagi surat kepadanya “Lihatlah orang-orang ahlu adzhimah yang tidak mempunyai biaya untuk menanami tanahnya, berilah ia apa-apa yang dapat mensejahterakannya.” Dalam kesempatan lain, khalifah memerintahkan pegawainya untuk berseru setiap hari di kerumunan khalayak ramai, untuk mencukupi kebutuhannya masing-masing “Wahai manusia! Adakah di antara kalian orang-orang yang miskin? Siapakah yang ingin kawin? Kemanakah anak-anak yatim?” Ternyata, tidak seorangpun yang datang memenuhi seruan tersebut. Keberhasilan penataan ekonomi, tidak terlepas dari kebijakan politik ekonomi negara yang bertujuan terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu. Bukan pertumbuhan ekonomi seperti pada sistem ekonomi kapitalis. Islam menyediakan seperangkat aturan, agar setiap individu terjamin kebutuhan elementernya: sandang, pangan dan papan. Berikut ini dipaparkan gambaran global politik ekonomi Islam, agar kondisi ekonomi pada masa Khalifah Umar bin Abdul Azis lebih mudah dipahami. b. Bidang Hukum dan Peradilan - Keadilan Hukum dan Law Enforcement
Keadilan dan kesamaan di depan hukum terbukti dari kasus hilangnya baju besi Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Dalam sebuah riwayat ketika beliau kembali dari perang Shiffin, beliau merasa kehilangan baju besi, baju perlengkapan perang. Kemudian beliau menemukan baju milikinya itu di toko seorang Yahudi ahlu dzimmah. Beliau mengatakan kepada pemilik toko, “Ini baju besiku. Aku belum pernah menjualnya dan belum pernah memberikan kepada orang lain. Bagaimana bisa ada di tokomu?”. Orang Yahudi itupun membantahnya. Ia mengklaim baju itu miliknya sebab ada di tokonya. Ali ra, penguasa yang memiliki wilayah yang luas, tidak serta merta mengambil paksa harta miliknya tersebut. Beliau justru mengajak yahudi itu menyelesaikan perkara tersebut di pengadilan. Qodhi Syuriah, yang mengadili perkara itu, meminta Khalifah menghadirkan saksi atas kepemilikan tersebut. Khalifah mengajukan putranya Hasan beserta pembantunya Qonbar. Akan tetapi sang qodhi menolak saksi-saksi tersebut. Ali kemudian menegaskan, ”Apakah Anda menolak kesaksian Hasan yang oleh Rasul dikatakan sebagai peghulu surga?” Meskipun demikian, Qodhi Syuriah bersikukuh dengan ketetapannya. Khalifah pun akhirnya menerima kekalahan di pengadilan. Saat itulah orang yahudi pemilik toko itu angkat bicara, ”Duhai Khalifah Ali, Amirul Mukminin! Anda berperkara denganku tentang baju besimu. Tetapi hakim yang engkau angkat ternyata memenangkanku atasmu. Sungguh, aku bersaksi bahwa ini adalah kebenaran dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain ALLAH dan Muhammad adalah Rasulullah.”. Allahu Akbar... Adakah presiden atau raja sepeti sayyidina Ali ra sekarang ini? Juga kemanakah hakim seperti qodhi syuriah ? Kesadaran hukum tidak hanya kewajiban penguasa. Warga negarapun terdorong untuk menegakkan hukum, apapun resikonya. Riwayat Abdullah bin Buraidah dengan sangat menyentuh bercerita tentang al-Ghaimidiyah ‘Telah datang kepada Rasulullah SAW, Al-Ghaimidiyyah dan ia berkata ; “Ya Rasulullah saw, aku telah berzina, sucikanlah aku!” Beliau saw menolaknya. Besoknya ia berkata lagi, “Wahai Rasulullah mengapa engkau menolak aku, engkau menolak aku sebagaimana engkau menolak Ma’iz. Demi Allah aku telah hamil”. Rasulullah saw bersabda “Jangan, pulanglah sampai engkau melahirkan”. Ketika ia telah melahirkan, ia mendatangi Rasulullah saw kembali dengan anaknya yang berada di gendongan, seraya berkata “Ini adalah anakku” Rasulllah saw bersabda, “Pergi dan susuilah sampai engkau menyapihnya!”. Ketika ia telah menyapihnya ia mendatangi Rasullullah saw sambil membawa anaknya yang sedang menggenggam sepotong roti. Ia kemudia berkata, “Ya Nabiyulah, aku telah menyapihnya dan ia sudah bisa memakan makanan”. Lalu, anak itu diberikan kepada salah seorang laki-laki dari kaum Muslim. Kemudian Rasulullah saw memerintahkan menanam wanita itu hingga di dadanya, lalu memerintahkan manusia untuk merajamnya. Rahasia keberhasilan penegakan hukum dalam pemerintahan Islam tidak terlepas dari kokohnya tiga pilar penerapan hukum. Ketiga pilar tersebut adalah : 1) Individu yang bertakwa, 2) Masyarakat yang memiliki kultur ‘amar ma’ruf nahi munkar, dan 3) Negara yang adil (menerapkan secara konsisten syariat Islam). Disamping itu, keberhasilan hukum Islam juga tidak terlepas dari fungsi sanksi sebagai zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus). Fungsi sebagai pencegah karena dengan sanksi dalam Islam membuat orang lain berpikir ulang untuk melakukan hal yang serupa. Sebagai penebus berarti pemberlakukan hukuman di dunia, menjadikan si pelaku bebas azab akhirat atas kejahatan tersebut. c. Bidang Pendidikan, Science & Technologi Kemajuan di bidang pendidikan serta penguasaan science dan teknologi mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Bani Abassiyah. Philip K. Hitti menyebut secara khusus masa ini sebagai the most brilliant period (masa paling cemerlang). Pada masa ini banyak terlahir ulama, ilmuan sekaligus intelektual dengan multi-competency. Gambaran tentang keberhasilan ini dilukiskan dengan apik oleh Pangeran Charles dalam makalahnya yang berjudul ‘Salah Paham Terhadap Islam’. Makalah ini disampaikan ketika ia berpidato di Sheldonian Theatre, Pusat Pengkajian Islam di Oxford, London, 27 Oktober 1993. Berikut cuplikannya (terjemahan): “....Misalnya kita telah meremehkan pentingnya masyarakat dan kebudayan Islam selama 800 tahun di Spanyol antara abad ke-8 dan ke-15. Sumbangan Muslim terhadap pemeliharaan pengetahuan klasik selama berabad-abad kegelapan, dan terhadap lahirnya Renaisance telah lama diakui...” “...mereka (kaum muslim )juga menafsirkan dan mengembangkannya dalam tradisi peradaban itu dan telah memberikan sumbangan vital di banyak bidang usaha manusia- dalam Sains, Ilmu Bintang (Falaq), matematika, aljabar (yang merupakan kata Arab), Hukum, sejarah, Kedokteran, Farmasi, Optik, Pertanian, Arsitektur, Teologi dan Musik. Averroes (Ibnu Rusyd), seperti juga sejawatnya Avicenna (Ibnu Sina) dan Rhazes (Al Razi) di Timur, menyumbang pada studi dan praktek kedokteran dalam banyak hal yang selama beberapa abad berikutnya dimanfaatkan oleh Eropa...” “...Kabarnya terdapat 400.000 buku di perpustakaan penguasa Cordoba, yang jumlahnya lebih banyak dari semua buku yang ada di semua negara-negara lain di Eropa. Itu semua terjadi karena Dunia Islam belajar cara membuat kertas dari Cina lebih dari empat ratus tahun sebelum negara-negara non-Muslim Eropa mempelajarinya. Banyak ciri yang dibanggakan Eropa modern sebenarnya berasal dari Kaum Muslimin di Spanyol ....” Kemajuan Islam di bidang ilmu dan pengetahuan ini bisa dipahami karena syar’i menempatkan ilmu sedemikian tinggi, sehingga mengkaji dan mendalaminya merupakan amal ibadah berbuah pahala. Semangat ini bisa dilihat dari : - Q.S Al-Mujadalah[58]:11 dan Q.S Az-Zumar[39]:9
- Hadits Rasul SAW : “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim” (HR Ibnu Adi dan Baihaqi)[iii]
- “Mencari ilmu adalah kewajiban atas setiap Muslim dan Muslimah”. [HR. Thabrani].
- “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan jalan baginya menuju surga” (HR Muslim dan Tirmizi dari abu Hurairah ra)
Selanjutnya negara menjamin tersedianya pendidikan dan sarana pengembangan ilmu bagi umat. - Rasulullah SAW bersabda :”Seorang Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya”(HR Bukhari dan Muslim).
- Rasulullah saw. telah menetapkan kebijaksanaan terhadap para tawanan Perang Badar. Beliau mengatakan bahwa para tawanan itu bisa bebas sebagai status tawanan jika seorang tawanan telah mengajari 10 orang penduduk Madinah baca-tulis. Tugas itu menjadi tebusan untuk kebebasan dirinya.
Imam Ibn Hazm, dalam Al-Ahkâm, menjelaskan bahwa seorang imam (kepala negara) berkewajiban memenuhi sarana-sarana pendidikan. Beliau mengungkapkan: ”Diwajibkan atas seorang imam untuk menangani masalah itu dan menggaji orang-orang tertentu untuk mendidik masyarakat”[iv]. Ad-Damsyiqi menceritakan suatu kisah dari al-Wadliyah bin Atha’. Ia menyebutkan bahwa di kota Madinah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak. Atas jerih-payah mereka, Khalifah Umar ibn al-Khaththab, memberikan gaji kepada mereka masing-masing sebesar 15 dinar setiap bulan, setara dengan 63,75 gram emas (satu dinar = 4,25 gram emas). Bila 1 gram emas sama dengan Rp. 100.000, maka penghasilan guru untuk anak-anak saat itu setara dengan Rp. 6.375.000. Bandingkan dengan gaji seorang profesor di Indonesia ?. 4. Politik Luar Negeri a. Fakta Keberhasilan Politik Luar Negeri Para khalifah yang berkuasa setelah wafatnya Rasulullah saw memahami betul bagaimana kebijakan politik luar negeri berdasarkan Islam. Semenjak Rasulullah membangun daulah di Madinah, kemudian diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin, Bani Umayyah, Bani Abassiyah hingga Bani Utsmaniyah, kebijakan politik ini secara konsisten dijalankan. Keberhasilan pelaksanaan kebijakan politik luar negeri Islam sungguh sangat spektakular. Ini bisa dilihat dari luas ranah kekuasaannya dari masa ke masa. Keberhasilan futuhat ini digambarkan oleh Gibbon, penulis Inggris terkemuka dengan ungkapan : ”The spread of Islam was unparalleled and was facing the British Isles. For the Islamic State (Khilafah) was a mere 250 miles away from the white cliffs of Dover and if it were not for some other circumstances and the English Channel, Britain would have been part of that Islamic State and the Qur’an and the Arabic language would have been taught in Oxford” (Penyebarluasan Islam tidaklah tertandingi dan mereka sampai menghadap kepulauan Inggris. Kekuatan daulah Islam (Khilafah) tinggal berjarak 250 mil dari tebing karang putih Dover. Kalau bukan karena beberapa hal dan tidak ada terusan Inggris, tentu Inggris sudah menjadi bagian dari daulah Islam. Dan Al-Qur’an serta bahasa Arab akan diajarkan di Oxford) . Insya Allah akan datang masanya ... Buah yang bisa dirasakan secara langsung dari keberhasilan politik luar negeri adalah banyak dan tersebarnya kaum muslimin yang berjumlah mencapai 1,9 miliar orang. Disini kita bisa merenung sejenak, bagaimana orang-orang tua kita bisa mengenal dan memeluk ajaran Islam. Bagaimana risalah itu sampai kepada mereka. Bila mereka tidak hidup dalam kurun yang sama dengan Rasulullah saw, lantas bagaimana mereka mendapatkan informasi tentang Islam ? Jawabannya adalah jihad. Telah terungkap berbagai futuhat (pembebasan) yang dilakukan oleh pasukan-pasukan muslim dibawah komando seorang Khalifah. Sebelumnya Rasulullah saw melakukan hal serupa. Satu demi satu wilayah dikuasai (baca: dibebaskan). Wilayah pertama yang berhasil dibebaskan oleh kaum Muslim adalah Irak, yang dihuni oleh campuran bangsa Arab dan Persia pemeluk agama Kristen, Mazdakkya, dan Zoroaster. Selanjutnya, imperium Persia yang dihuni oleh penganut Zoroaster, Yahudi dan Kristen. Kemudian Syam, sebuah koloni Romawi yang didominasi oleh budaya Romawi dan agama Kristen. Orang-orang keturunan Suriah, Armenia, Yahudi, Arab dan sebagian kecil bangsa Romawi tinggal di wilayah tersebut. Mesir ditaklukkan tidak lama kemudian. Mesir dihuni oleh orang-orang Koptik, Yahudi dan Romawi. Tidak lama kemudian menyusul wilayah-wilayah di Afrika Utara. Wilayah yang dihuni bangsa Berber terebut sebelumnya berada di bawah kekuasaan Romawi. Setelah Bani Umayyah berkuasa, kaum Muslim berhasil menaklukkan wilayah Sindh, Khawarizmi, dan Samarkand serta menjadikan wilayah-wilayah tersebut sebagai bagian dari negara Islam. Andalusia berhasil ditaklukkan kemudian, dan menjadi bagian dari negara Khilafah. Pasukan Sultan Murad telah berhasil merengkuh sebagian besar wilayah Eropa ke dalam naungan Islam pada tahun 1382. Semenanjung Balkan menjadi wilayah Islam setelah dibebaskan pasukan Musim pada abad ke-14 dan 15M. Bulgaria dibebaskan pada tahun 1396, Serbia pada tahun 1460 M (ibukotanya, Beograd, diambil alih pada tahun 1521). Bukarest, ibukota Rumania direbut pada tahun 1461 M, Bosnia pada tahun 1462, Albania pada tahun 1467, Moldovia pada tahun 1473 M, Krimea pada tahun 1475, Hungaria dan ibukotanya, Budapest, pada tahun 1526M, dan Austria pada tahun 1592M. Ibukota Austria, Wina, beberapa kali dikepung pasukan Muslim, tetapi tidak berhasil diambil alih. Bangsa Polandia membayar jizyah[v] pada tahun 1536M, Muhammad Al Fatih mengambil alih Istambul pada tahun 1453. Pasukan Muslim di bawah kepemimpinan Thariq bin Ziyad dan Uqbah bin Nafi’ah berhasil menunduki Afrika Utara dari tangan orang-orang Bizantium pada tahun 670 M, kemudian mendirikan kota Qairawan untuk digunakan sebagai markas. Diriwayatkan bahwa pada waktu itu, ‘Pasukan negara Islam bergerak cepat di sepanjang garis pantai yang memanjang hampir 1500 mil, menghancurkan semua lawan yang menghalangi gerak lajunya, sampai akhirnya kuda-kuda mereka harus berhenti di sebelah utara Agadir (Maroko) karena terhalang ombak Samudera Atlantik’. Pasukan Muslim bahkan menembus Spanyol dan Perancis dari sini. Setelah menguasai Spanyol, kaum Muslim bergerak menuu Perancis melalui dua rute yang terdapat di bagian Selatan negeri tersebut. Pasukan kaum Muslim bergerak melintasi celah-celah pegunungan yang tinggi di bawah kepemimpinan Ambasa dan Sami bin Malik. Rute pertama membawa pasukan Muslim hingga dua pertiga perjalanan menuju Paris, sedangkan pasukan Muslim yang melalui rute kedua berhasil membuat wilayah Selatan Prancis, termasuk Toulouse, Narborne, dan Perpignan, hingga ke Lyon berada dalam pengaruh kekuasaan negara Islam dan pasukan kaum muslim. Para Khalifah memberangkatkan pasukan-pasukan daulah Islam. Pasukan tersebut berhasil menerobos wilayah-wilayah baru dan belum dikenal sebelumnya dengan gagah berani. Mereka melakukan aktivitas tersebut semata-mata demi meninggikan kalimat-kalimat Allah swt. Nash-nash Qur’an dan hadits Nabi saw merupakan sources of motivation and inspiration untuk melaksanakan pekerjaan berat itu. “Aku telah diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka mengakuinya maka darah dan harta mereka terpelihara dariku, kecuali denga yang hak, dan hak mereka adalah pada Allah “ (HR. Bukhari) “Kedua kaki hambaKu yang dilibat debu dalam perang fisabilillah tidak akan tersentuh api neraka” (HR Bukhari) “Allah akan menghimpun seluruh dunia hingga aku bisa melihat bagian Timurnya dan bagian Baratnya. Dan Allah akan menjadikan kekuasaan umatku atas seluruh dunia” (HR Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, al Hakim, dan Musnad Imam Ahmad) b. Kekuasaan Khilafah Islampun merambah wilayah Nusantara “Dari Raja di Raja.. ;yang adalah keturunan seribu raja.. kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahaban; dan saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya hukum-hukumnya”[vi] Kalimat di atas adalah potongan surat Maharaja Sriwijaya kepada khalifah Umar bin Abdul Azis. Ini menunjukkan bahwa pada waktu itu informasi tentang Islam telah sampai ke wilayah nusantara. Sebelumnya kebesaran Islam juga telah sampai pada masa kepemimpinan Muawiyyah. Ini bisa dilihat dari sebuah surat yang juga pernah dikirimkan Maharaja Sriwijaya kepada Muawiyyah. Pendahuluan isi surat itu adalah : “Dari Raja Al-Hind yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, (dan) yang istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani putri raja-raja, dan yang memiliki dua sungai besar yang mengairi pohon gahgaru, kepada Muawiyah...”[vii] Tersebarluasnya kebesaran Khilafah Islam tidak terlepas dari peranan Khalifah Umar bin Al-Khattab yang telah melahirkan superpower dunia baru. Pada abad 7 M di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Al-Khattab futuhat berhasil dilakukan sampai ke kerajaan Persia dan berhasil menduduki sebagian wilayah Romawi Timur, seperti Mesir, Siria dan Palestina. Pertanyaan berikutnya, bagaimana hubungan antara Khilafah Islam dengan kesultanan Aceh, Ternate, Banten dan lainnya kemudian? Apakah hubungan ini sekedar hubungan persaudaraan sesama muslim atau hubungan sruktural sebagai bagian dari wilayah Khilafah Islam ? Catatan sejarah menunjukkan bahwa kerajaan Aceh dan juga kesultanan Islam lainnya di Nusantara lebih merupakan bagian dari kekuasaan Khilafah Islam. Ada beberapa indikasi historis yang menunjukkan hal tersebut, diantaranya : - Sultan Salim II (974-982H / 1566-1574) pada September 975H/1567 M mengirim Laksamana Turki di Suez, Kurtoglu Hizir Reis, berlayar menuju Aceh dengan sejumlah ahli senapan api, tentara dan artileri. Jumlah pasukan yang tiba di Aceh sebanyak 500 termasuk ahli-ahli senjata api, penembak, dan ahli-ahli teknik. Dengan bantuan ini, Aceh menyerang Portugis di Malaka pada tahun 1568 M[viii]. Kurtoglu Hizir Reis bersama armada dan tentaranya disambut dengan suka cita oleh umat Islam Aceh. Kurtoglu Hizir Reis kemudian diberi gelar sebagai gubernur (wali) Aceh.[ix] Dalam fiqh negara wali merupakan utusan resmi khalifah yang ditempatkan di daerah.
- Banyak institusi politik melayu di Nusantara mendapatkan gelar sultan dari penguasa-penguasa tertentu di Timur tengah. Pada tahun 1048H/1638 M, Penguasa Banten, Abd al-Qodir (berkuasa 1037-1063H/1626-1651) dianugerahi gelar sultan oleh Syarif Makkah sebagai hasil dari misi khusus yang dikirimnya untuk tujuan itu ke Tanah Suci. Sementara itu, kesultanan Aceh terkenal mempunyai hubungan erat dengan penguasa Turki Ustmani dan Haramayn. Begitu juga Palembang dan Makasar yang turut menjalin hubungan khusus dengan penguasa Makkah9. Pada saat itu, para penguasa Makkah merupakan bagian tak terpisahkan dari Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki.
- Dilihat dari penggunaan istilah, kesultanan Islam di Nusantara mengasosiasikan dirinya tak terpisahkan dari kekhalifahan. Beberapa kitab Jawi klasik menyebut hal ini. Hikayat Raja-raja Pasai (hal. 58, 61-62, 64), misalnya, menyebut nama resmi kesultanan Samudea Pasai sebagai “Samudera Dar al-Islam”. Istilah Dar al-Islam juga digunakan kitab Undang-undang Pahang untuk menyebut kesultanan Pahang. Adapun Nur al-Din al-Raniri, dalam Bustan al-Salatin (misalnya, pada hlm. 31, 32, 47), menyebut kesultanan Aceh sebagai Dar al-Salam. Istilah ini juga digunakan di Pattani ketika penguasa setempat, Paya Tu Naqpa, masuk Islam dan mengambil nama Sultan Ismail Shah Zill Allah fi-Alam yang bertahta di negeri Pattani Dar al-Salam (Hikayat Patani, 1970:75).
- Dalam ilmu politik Islam klasik, dunia ini terbagi dua, yaitu Dar al-Islam dan Dar al-Harb. Dar al-Islam merupakan daerah yang diterapkan hukum Islam dan keamanannya ada pada tangan kaum Muslim. Sedangkan Dar al-Harb adalah lawan kata dari Dar al-Islam. Penggunaan istilah “Dar al-Islam” atau “Dar al-Salam” menunjukkan bahwa para penguasa Melayu Nusantara menerima konsepsi geopolitik Islam tentang pembagian dua wilayah dunia itu.
- Khilafah Turki Utsmani, seperti disebutkan oleh Hurgronje (1994, halaman 1631)[x], bersifat pro-aktif dalam memberikan perhatian kepada penderitaan kaum Muslim di Indonesia dengan cara membuka perwakilan pemerintahannya (konsulat) di Batavia pada akhir abad ke-19. Kepada kaum Muslim yang ada di Batavia para konsul Turki berjanji akan memperjuangkan emansipasi hak-hak orang-orang Arab sederajat dengan orang-orang Eropa. Selain itu, Turki juga akan mengusahakan agar seluruh kaum Muslim di Hindia Belanda terbebas dari penindasan Belanda.
- Aceh banyak didatangi para ulama dari berbagai belahan dunia Islam lainnya. Syarif Makkah mengirimkan utusannya ke Aceh seorang ulama bernama Syekh Abdullah Kan’an sebagai guru dan muballigh. Sekitar tahun 1582, datang dua orang ulama besar dari negeri Arab, yakni Syekh Abdul Khayr dan Syekh Muhammad Yamani. Di samping itu, di Aceh sendiri lahir sejumlah ulama besar, seperti Syamsuddin Al-Sumatrani dan Abdul Rauf al-Singkeli. Abdul Rauf Singkel mendapat tawaran dari Sultan Aceh, Safiyat al-Din Shah untuk menduduki jabatan Kadi dengan sebutan Qadi al-Malik al-Adil yang sudah lowong beberapa lama karena Nur al-Din Al-Raniri kembali ke Ranir (Gujarat). Setelah melakukan berbagai pertimbangan, Abdul Rauf menerima tawaran tersebut.
- Ketika Sultan Ala Al-Din Riayat Syah Al-Qahhar naik tahta di Aceh pada tahun 943 H/1537 M, ia kelihatan menyadari kebutuhan Aceh untuk meminta bantuan militer kepada Turki. Bukan hanya untuk mengusir Portugis di Malaka, tetapi juga untuk melakukan futuhat ke wilayah-wilayah yang lain, khususnya daerah pedalaman Sumatera, seperti daerah Batak. Al-Kahar menggunakan pasukan Turki, Arab dan Abesinia.21 Pasukan Turki sebanyak 160 orang ditambah 200 orang tentara dari Malabar, mereka membentuk kelompok elit angkatan bersenjata Aceh. Selanjutnya dikerahkan Al-Kahhar untuk menaklukkan wilayah Batak di pedalaman Sumatera pada tahun 946 H/1539 M. Mendez Pinto, yang mengamati perang antara pasukan Aceh dengan Batak, melaporkan kembalinya armada Aceh di bawah komando seorang Turki bernama Hamid Khan, keponakan Pasya Utsmani di Kairo.[xi]
- Hubungan beberapa kesultanan di Nusantara dengan Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki nampak jelas. Misalnya, Islam masuk Buton (Sulawesi Selatan) abad 16M. Silsilah Raja-Raja Buton menunjukkan bahwa setelah masuk Islam, Lakilaponto dilantik menjadi ‘sultan’ dengan gelar Qaim ad-Din (penegak agama) yang dilantik oleh Syekh Abd al-Wahid dari Makkah. Sejak itu, dia dikenal sebagai Sultan Marhum. Sejak itu pula nama sultan dipuja dalam khuthbah Jum’at. Menurut sumber setempat, penggunaan gelar ‘sultan’ ini terjadi setelah diperoleh persetujuan dari Sultan Turki (ada juga yang menyebutkan dari penguasa Makkah). Dan Syekh Wahid pula yang mengirim kabar (tentang hal ini, pen.) kepada Sultan Rum (Khalifah) di Turki[xii]. Realitas ini menunjukkan bahwa Makkah berada dalam kepemimpinan Turki, dan Buton memiliki hubungan ‘struktural’ dalam bentuknya yang masih sederhana dengan Khilafah Turki Utsmani melalui perantaraan Syekh Wahid dari Makkah.
- Sementara itu, di wilayah yang saat ini disebut Sumatera Barat, Penguasa Alam Minangkabau yang menyebut dirinya sebagai “Aour Allum Maharaja Diraja” dipercaya merupakan adik laki-laki sultan Ruhum (Rum). Orang Minangkabau percaya bahwa penguasa pertama mereka adalah keturunan Khalifah Rum (Utsmani) yang ditugaskan untuk menjadi Syarif di wilayah tersebut[xiii]. Hal ini memberikan informasi bahwa kesultanan tersebut memiliki hubungan dengan Khilafah Utsmaniyah.
- Disamping ada kesultanan di Nusantara (Indonesia) yang berhubungan langsung dengan Khilafah Utsmaniyah, ada pula beberapa kesultanan yang berhubungan secara tidak langsung, yaitu melalui kesultanan lainnya, misalnya, kesultanan Ternate. Pada tahun 1570-an, saat perang Soya-soya melawan Portugis, sultan Ternate, Baabullah, dibantu oleh para sangaji dari Nusa Tenggara yang terkenal dengan armada gurap dan Demak dengan laskar Jawanya. Begitu juga Aceh dengan armada maritim yang perkasa berkekuatan 30.000 kapal perang telah memblokir pelabuhan Sumatera dan memblokade pengiriman bahan makanan, amunisi Portugis lewat jalur India dan Selat Malaka. Musuh Ternate berarti musuh Demak[xiv].
Berdasarkan catatan sejarah di atas menunjukkan adanya hubungan yang amat dekat antara Aceh, kesultanan di nusantara dengan Khilafah Utsmaniyah. Bisa diduga kuat (dzhan) Aceh dan kesultanan lainnya merupakan bagian dari wilayah Turki Utsmani, yaitu sebagai wali. Beberapa persoalan yang menimpa Aceh menjadi persoalan Turki. Bahkan Turki tidak hanya melindungi wilayah Aceh dari gangguan asing, tapi juga membantu Aceh melakukan futuhat dan dakwah di daerah sekitarnya. Namun demikian, kita masih perlu melakukan riset lebih lanjut bagaimana intensitas hubungan kesultanan Aceh plus kesultanan nusantara lainnya dengan Turki Utsmani. Yang jelas syar’i tidak memungkinkan hubungan tersebut sekedar hubungan yang bersifat persaudaraan. Hubungan itu mestinya hubungan yang bersifat struktural antara Khalifah dengan walinya, terlepas lemah atau kuatnya kontrol dari pusat. Beberapa argumen yang mendukung: - Secara syar’i tidak dimungkinkan ada lebih dari satu khalifah untuk kaum muslimin. Bila umat Islam memiliki satu khalifah yang sah pada masa Khulafaur Rasyidin, Bani Umayyah, Bani Abassyah dan Bani Utsmaniah,. Bagaimana mungkin kaum muslimin di Indonesia memiliki khalifah sendiri ? Rasulullah SAW bersabda :
“Apabila dibai’at dua orang Khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya” (HR. Imam Muslim) - Masih segar dalam ingatan kita bagaimana para sahabat mempertahankan satu orang khalifah untuk seluruh kaum muslimin. Kasus persengketaan dan peristiwa tahkim antara sahabat Ali ra dengan Muawiyyah memberikan pelajaran kepada kita bahwa kaum muslimin hanya ridha’ bila dipimpin oleh seorang Khalifah.
- Dalam Islam dikenal dengan konsep kewalian. Wali adalah orang yang diangkat oleh Khalifah untuk menjadi pejabat pemerintahan (hakim) di suatu daerah serta menjadi pimpinan di daerah tersebut[xv]. Nabi saw pernah mengangkat Amru bin Jazm untuk menjadi wali di Yaman, Muadz bin Jabal menjadi wali di Janad, Ziyad bin Labid di Hadramaut dan Abu Musa Al Asy’ari di Zabid dan ’Adn. Begitu juga sahabat sepeninggal Rasulullulah saw melakukan hal yang sama. Umar bin Khattab misalnya pernah mengangkat Mu’awiyyah bin Abi Sufyan di Syam. Jadi, lebih dimungkinkan kesultanan Aceh dan lainnya sebagai bagian dari Khilafah Islam kaum muslimin, bukan kekuasaan yang berdiri sendiri dan lepas sama sekali dengan Khalifah kaum muslimin.
c. Konsep Kebijakan Politik Luar Negeri dalam Islam Keberhasilan futuhat (pembebasan) Islam di dunia tidak terlepas dari konsep kebijakan politik luar negeri perspektif Islam. Ada tiga hal mendasar dalam kebijakan politik luar negeri yang perlu dipahami, yaitu Azas, Prinsip dan Metode. Azas dari kebijakan politik luar negeri adalah aqidah Islam. Aqidah Islam berisi pandangan menyeluruh tentang manusia, alam dan kehidupan, serta hubungan ketiganya dengan Dzat yang ada sebelum dan sesudah alam kehidupan di dunia.[xvi] Pemahaman tentang aqidah akan melahirkan konsep hidup tentang asal eksistensi, misi (peranan) di dunia dan visi manusia ke depan. Aqidah menyadarkan manusia bahwa ia hanyalah sekedar a creature (makhluk) yang diciptakan oleh Sang Pencipta (Creator). Visi hidup adalah meraih puncak kebahagiaan di alam akherat. Misi hidup di dunia adalah sebagai makhluk yang mengabdi kepada Allah SWT, menjalankan sebagai perintah dan menjauhi laranganNya. Salah satu perintahNya adalah menyebarkan Islam. ”Katakanlah (hai Muhammad). Ini adalah jalan( agama)ku. Aku dan pengikutku menyeru(kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata“(QS Yusuf 108) Adapun prinsip kebijakan luar negeri adalah penyebarluasan Islam ke seluruh penjuru dunia. Dalam hal ini Allah SWT berfirman : ”Dan AlQur’an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat manusia ” (QS Al-Qalam[68] :52) Zahid Iva Salam dalam bukunya Jihad and the Foreign Policy of the Khilafah State menerangkan ayat ini : “This was an early revelation in Makkaa. It has been reported that Ibn Masood mentioned that there were only six Muslims at the time of its revelation, even though the verse was saying that the Muslims must address the entire world. This, among many other revelations, gave anyone who embraced the ‘aqeedah of Islam a worlview and a world mission. Furthermore, Allah SWT in the above verse uses the word al alameen which is a plural form to mean all the worlds irrespective of time and place” (Ayat ini diturunkan pada masa-masa awal di Mekkah. Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa pada waktu ayat itu turun jumlah kaum muslimin baru sebanyak 6 orang. Meskipun demikian, ayat tersebut menyatakan bahwa kaum muslim harus mendakwahkannya ke seluruh dunia. Ayat ini merupakan satu ayat, dari sekian banyak ayat Qur’an, yang memberikan kepada pemeluk aqidah Islam sebuah pandangan dunia (worldview) dan misi yang bersifat mendunia. Lebih jauh, Allah SWT di dalam ayat tersebut menggunakan kata al-‘alamin, yang merupakan bentuk jamak, untuk menyebut umat manusia di seluruh dunia, tanpa memandang batasan waktu dan tempat.) Allah SWT juga berfirman : “Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad) melainkan kepada umat manusi seluruhnya, sebagai pembawa berita dan pemberi peringatan” (Q.S Saba’[34]:28) “Katakanlah : Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua “(QS al-‘Arah[7]:158]. “Dan tidaklah kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”(QS al-Anbiya[21]: 107) Jadi dalil-dalil di atas merupakan dasar bagi penyebar luasan Islam ke seluruh penjuru dunia. Inilah yang menjadi prinsip kebijakan politik luar negeri perspektif Islam. Adapun Metodenya (thariqah) adalah dakwah dan jihad. Metode ini tidak berubah walaupun para penguasa Khilafah Islam berganti. Metode ini tidak berubah semenjak Rasulullah saw mendirikan daulah di Madinah sampai dengan runtuhnya Khilafah. Rasulullah saw sebagai kepala negara mencontohkan bagaimana menyiapkan tentara dan memprakarsai jihad untuk meruntuhkan hambatan fisik yang menghalangi dakwah Islam. Pada waktu itu yang menjadi hambatan fisik adalah kaum kafir Quraish, sehingga harus diperangi. Rasulullah saw berhasil menyingkirkan kekuatan dan institusi kekuasaan kafir Quraish dan kabilah lainnya di Jazirah Arab sehingga Islam bisa menyebarluas ke seluruh penjuru dunia. Yang perlu dipahami jihad bukanlah imperialisme seperti yang dilakukan negara-negara kapitalis. Jihad dibutuhkan untuk meruntuhkan kekuatan fisik (institusi pemerintahan) yang telah menghalangi warganya menerima dakwah Islam. Dakwah Islam yang paling efektif adalah penerapan Islam secara langsung agar kaum kafir merasakan sendiri ketenteraman dan kenyamanan hidup di bawah naungan Khilafah Islam. 5. Penutup: Renungan “Islam pasti akan mencapai wilayah yang diliputi sian dan malam. Allah tidak akan membiarkan rumah yang megah (perkotaan)maupun yang sederhana (perkampungan), melainkan akan memasukkan agama ini ke dalamnya, dengan memuliakan orang-orang yang mulia dan menghinakan oran-orang yang hina. Mulia karena Allah memuliakannya dengan Isalm. Hina karena Allah menghinakannya akibar kekafirannya (HR Ahmad). “Allah akan menghimpun seluruh dunia hingga aku bisa melihat bagian Timurnya dan bagian Baratnya. Dan Allah akan menjadikan kekuasaan umatku atas seluruh dunia” (HR Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, al Hakim, dan Musnad Imam Ahmad). “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka merubah apa yang ada pada diri mereka” (QS Ar Ra’du 11) * Disampaikan pada Seminar Khilafah dan Peradaban Islam di Auditorium UNY Yogyakarta, tanggal 6 Maret 2005. ** Staf Pengajar Teknik Universitas Gadjah Mada, Anggota Hizbut Tahrir Indonesia [i] Ini adalah cuplikan pidato Carly Fiorina, seorang tokoh bisnis Amerika yang juga CEO Hewlett-Packard Company. Pidato ini disampaikan pada 26 September 2001 dalam sebuah konferensi yang bertema "TECHNOLOGY, BUSINESS AND OUR WAY OF LIFE: WHAT'S NEXT" di Minneapolis, Minnesota. Forum ini dihadiri oleh para pemimpin bisnis Internasional. Carly Fiorina tidak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap peradaban Islam. Ia tidak hanya memberikan sanjungan positif pada kebesaran peradaban Islam, tapi juga menyeru para peserta forum, kalangan elit bisnis yang baru saja terpukul dengan runtuhnya World Trade Center, agar mencontoh model kepemimpinan Islam. Lebih lengkap refer to: http://www.hp.com/hpinfo/execteam/speeches/fiorina/ HP Carly Fiorina Speech Technology, Business and our Way of Life What's Next.mht [ii] Lebih lengkap lihat Nidhamul Hukmi fil Islam, karangan Taqiyuddin An Nabhani [iii] Lihat Al-Fathul Kabir, jilid II, h.213 [iv] Hidup Sejahtera dalam Naungan Islam, Abdul Azis Al-Badri, GIP, 1998. [v] Jizyah adalah hak yang diberikan oleh Allah SWT kepada kaum Muslimin dari orang-orang kafir, karena ada ketundukkan mereka kepada pemerintahan Islam.Jizyah tersebut merupakan harta umum yang akan dibagikan untuk kemaslahatan seluruh rakyat. [vi] Potongan surat ini didokumentasi oleh abd Rabbih (246-329 H/860-940 M) dalam Al-Iqd Al-Farid. [vii] Lihat : Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Edisi Revisi (Jakarta: Prenada Media, 2004). [viii] Lebih detil lihat : Marwati Djuned Pusponegoro (eds.), Sejarah Nasional Indonesia, Jilid III (Jakarta: Balai Pustaka, 1984). [ix] Lebih detil lihat : Metin Innegollu, “The Early Turkish-Indonesian Relation,” dalam Hasan M. Ambary dan Bachtiar Aly (ed.), Aceh dalam Retrospeksi dan Reflkesi Budaya Nusantara, (Jakarta: Informasi Taman Iskandar Muda) [x] Lebih detil lihat : Snouck Hurgronje, 1994, Nasehat-nasehat C. Snouck Hurgronje semasa kepegawaiannya kepada pemerintah Hindia Belanda; 1889 –1936. (Jakarta : INIS), hal. 1631 [xi] Lihat : Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara ; Sejarah wacana dan kekuasaan. (Bandung : Rosda, 1997). [xii] Lihat : Abd. Rahim Yunus, Posisi Tasawuf dalam Sistem Kekuasaan di Kesultanan Buton pada Abad ke-19, INIS Jakarta, tahun 1995, hal. 10. [xiii] W. Marsden, The History of Sumatra, London: Thomas Paine & Sons, 1783, 272, 283 dikutip oleh Ayzumardi, 2004, op.cit. hal. 33. [xiv] Lihat RZ. Leirissa, Shalfiyanti, dan Restu Gunawan, Ternate Sebagai Bandar Jalur Sutra, Jakarta: Ilham Bangun Karya, tahun 1999. [xv] Lihat Nidzhamul Hukmi fi Islam karangan Taqiyuddin an-Nabhani. [xvi] Lihat Nidhamul Islam karangan Taqiyuddin an-Nabhani.
Seni
Komunikasi Ideologis pada Kalangan Terdidik
Nopriadi
Staf Pengajar di
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
”Payung untuk semua muslim di dunia? Menurut
saya Khilafah itu utopis!.”
”Sulit terbayang bagaimana sistem
ekonomi tanpa interest (riba). Perubahan yang membuat chaos!”
”Gerakan
anda tidak realistis!”
”Lebih baik lakukan hal yang riil, bangun ekonomi umat, berdayakan mereka dengan
pelatihan aplikatif!”
”Kita tidak berada di ruang kosong. Kita hidup di sebuah negara. You tidak
realistis.”
Anda pernah mendengar
ungkapan-ungkapan seperti di atas? Nada sesumbang ini kerap muncul di tengah optimisme
dan gelora semangat seruan kembali pada kehidupan Islam. Sebagian kalangan, terutama
kelompok terdidik (educated people),
menilai gagasan back to Islam tidak lebih dari sebuah impian, yang akan berakhir
menjadi mimpi. Apatah lagi menyatukan muslim seluruh dunia di bawah payung Khilafah
Islamiyah ! Gagasan mulia ini, meski didukung argumentasi nash, masih dilihat sebagai
visi yang beraroma utopia bahkan sebagian telah memvonis sebagai visi yang utopis.
Isyarat keengganan dari sebagian kalangan terdidik akan semakin jelas tatkala
khilafah dengan sistemnya yang canggih dikumandangkan sebagai problem solver
satu-satunya atas segala problem kehidupan. Mereka sangat sulit menerima(baca:
menangkap) opini yang sering digaungkan oleh para duta Islam secara jernih.
Padahal opini ini, Islam is the solution with Calipahte and Syariah, adalah
penting untuk membangun kepercayaan diri dan optimisme umat agar mau kembali ke
pangkuan Islam secara total.
Tulisan berikut bertujuan untuk
menganalisis kesenjangan semangat dan kendala komunikasi yang biasa terjadi
dengan kalangan terdidik. Dimulai dengan menganalisis faktor penyebab, kemudian
menawarkan strategi komunikasi efektif saat berdialog dengan mereka. Perlu
dicatat, kalangan terdidik disini adalah kelompok umat yang memiliki tradisi berpikir ilmiah, memiliki metodologi berpikir
’mapan’ dan selalu bersandar pada fakta empirik. Mereka adalah kalangan
profesional seperti para pakar, dosen, pengamat dan peneliti. Termasuk pula para
profesional bisnis, entrepreuner,
maupun pejabat eksekutif, yudikatif, legislatif, atau siapa saja yang memiliki
pola pikir ’mapan’ dalam menyelesaikan problem, baik terkait masalah sosial maupun
bidang spesifik yang digelutinya. Secara sosio-ekonomis kalangan ini termasuk masyarakat
kelompok menengah ke atas yang posisinya sangat strategis dan signifikan bagi proyek
perubahan peradaban.
Mudah-mudahan tulisan ini bisa
diambil manfaat, baik oleh pihak yang terlibat dalam dakwah mulia ini (semoga
Allah SWT merahmati anda dalam perjuangan ini), juga untuk kalangan terdidik yang mau mengapresasi semangat dakwah (mudah-mudahan
Allah selalu melimpahkan hidayah-Nya kepada anda).
Kendala komunikasi pertama: Lack of Knowledge
Bagi sebagian kalangan terdidik seruan kembali pada
kehidupan Islam dengan khilafah dan syariah terkesan sebagai gagasan
bombastis, melebih-lebihkan (hyperbolic)
dan produk berpikir meloncat (logical
jumping). Kesan ini sering muncul ketika edukasi dan opini kecanggihan
sistem Islam diartikulasikan dengan penuh semangat bersamaan dengan paparan bobroknya
realitas produk kapitalisme. Biasanya para duta Islam mencoba menawarkan sistem
Islam sebagai konsep terbaik, the best
among others, dan mencoba mempersuasi dengan argumen syara’. Sering disampaikan
bahwa daulah Islam adalah global state yang wajib untuk seluruh muslim
di dunia. Khilafah dengan syariatnya mampu menjamin terpenuhinya sandang,
pangan dan papan serta pendidikan, kesehatan dan keamanan bagi masyarakat! Sistem
ekonomi Islam mampu memberantas kemiskinan dan kesenjangan ekonomi. Sistem
pidana Islam mampu mengurangi secara signifikan kejahatan dan kerusakan sosial!
Sistem pendidikan Islam tidak materialis, namun mampu membangun kepribadian
Islam sekaligus membekali ilmu alat untuk hidup! Islam is the best dan mampu menyelesaikan seluruh problem-problem
riil kehidupan! Problem datang, kasih sistem Islam, maka semua akan beres! Pesan dan pola
komunikasi seperti ini sering tidak mendapat minat dari kalangan terdidik. Mereka
bertambah ’gerah’ karena penjelasan-penjelasan seperti ini selain seperti melayang di udara, juga sulit dipahami
how to-nya.
Tidak terbayangkan oleh mereka bagaimana
gambaran penyatuan negeri-negeri Islam ke dalam satu payung negara khilafah,
karena faktanya umat Islam hidup terpisah di lebih dari 50 negara, masing-masing
memiliki kepentingan nasional dan problematika spesifik yang complicated.
Begitu juga, sulit terbayangkan dalam benak mereka bagaimana ada sebuah negara
yang akan bisa menandingi bahkan menundukkan super power dunia Amerika Serikat. Mereka juga sulit memahami
bagaimana mungkin negara khilafah kelak dapat menerapkan sistem ekonomi Islam
yang mensejahterakan, seperti masa zaman Umar bin Abdul Azis, padahal realitas
umat sekarang berada dalam kemiskinan, dipimpin oleh para koruptor dan di bawah
dominasi penjajah kapitalis. Jadi, segala tawaran pictures masa depan berdasar syara’, bagi mereka, terkesan tidak
lebih seperti khayalan di malam hari, tidak sesuai konteks yang ada sekarang.
Perlu dipahami bahwa persoalan
ini sebenarnya muncul karena kurangnya pengetahuan (lack of knowledge) pada kalangan terdidik seputar sistem Islam. Sistem
Islam adalah sebuah sistem menyeluruh dan saling terkait (integral and holistic) yang didalamnya ada berbagai sistem: sistem sosial,
sistem ekonomi-keuangan, sistem politik-pemerintahan, sistem pidana-perdata,
hubungan internasional dan lainnya. Memahami bahwa Islam menjamin pendidikan
terbaik dan gratis bagi masyarakat tidak hanya memerlukan pemahaman tentang
sistem pendidikan, namun juga musti paham politik kebijakan ekonomi dan sistem keuangan
dalam konteks negara Khilafah. Bila sistem Islam mencita-citakan about zero percent criminality, berarti tidak hanya membutuhkan pemahaman tentang adilnya
sistem uqubat, namun juga perlu
wawasan seputar sistem ekonomi, pendidikan dan pemerintahan. Thesis bahwa khilafah
dapat menjadi super power dunia dan mampu memukul Amerika tidak hanya
membutuhkan pengetahuan tentang konsep amir jihad, wajib militer dan kebijakan
industri perang, namun juga perlu wawasan sistem ekonomi-keuangan, konsep
hubungan luar negeri, juga kekuatan spritual (al-quwwatu ar-ruhiyah) pada diri umat. Jadi, dibutuhkan tali
temali pengetahuan seputar sistem-sistem yang ada agar sampai pada level pemahaman
dan bisa mengapresiasi kecanggihan sistem-sistem Islam. Sesuai kaidah
berpikir, pemahaman bisa terjadi secara sempurna bila cukup pengetahuan sebelumnya
(prior knowledge) yang mendukung. Sayangnya
prior knowledge yang cukup biasanya belum
terwujud pada kalangan terdidik. Mereka belum memiliki wawasan integral dan
holistik tentang sistem Islam. Ini bisa dimaklumi dari kenyataan bahwa mereka
belum mendapatkan pembinaan intensif seputar sistem Islam, disamping belum mengakses
literatur-literatur yang terkait dengannya. Kondisi lack of knowledge inilah yang membuat mereka mudah terjebak pada vonis
dakwah untuk mengembalikan kehidupan Islam sebagai ide bombastis, hyperbolic dan logical jumping.
Maka dari itu duta Islam harus
selalu sadar tentang kondisi ini. Sadar bahwa lack of knowledge menyebabkan terjadinya kesenjangan semangat dan dapat
menjadi kendala dalam komunikasi. Perlu kesabaran dan trick cerdas dalam melakukan dialog. Pastikan dalam setiap memaparkan
suatu sistem Islam terlebih dahulu diberikan prior knowledge yang cukup agar dapat memahami gagasan yang
disampaikan. Kesalahan yang sering terjadi adalah para duta Islam terlalu
semangat dengan penjelasannya dan lupa kalo orang yang diajak dialog belum
terbina dengan wawasan Islam yang bersifat sistemik. Kegagalan menyadari kadar
pengetahuan mereka tentang sistem Islam akan berbuah penolakan atau penerimaan
setengah-setengah. Ingat prinsip ”first to understand, and then to be
understood” , pahami dulu (mereka), baru kemudian anda akan dipahami. Prinsip ini harus dipakai
ketika berdialog dalam menyampaikan Islam.
Menyadari bahwa kurangnya prior knowledge tidak berarti memvonis
mereka sebagai orang-orang yang kurang wawasan. Jangan salah paham! Mereka
adalah orang-orang terdidik dengan kadar intelektualitas yang sangat baik dan
berwawasan luas. Bahkan, wawasan mereka bisa jadi jauh lebih bermutu ketimbang wawasan
para duta Islam, terutama seputar bidang keahliannya. Persoalannya hanya pada
rumus alam bahwa isi pesan dapat dipahami
secara sempurna setelah cukup informasi atau pengetahuan agar pesan itu bisa ditangkap
seperti yang diinginkan. Itu saja. Bila mereka sebelumnya tidak dibina
dengan sistem-sistem Islam, maka jangan berharap mereka bisa memahami dengan
baik dan mudah tentang Islam sebagai satu-satunya
problem solver. Islam mampu
menyelesaikan secara tuntas terhadap persoalan riiil di tengah masyarakat butuh
pembelajaran tentang sistem-sistem Islam. Seorang
profesor nuklir masih perlu belajar dasar ilmu fisiologi tentang sistem kardiovaskular
untuk bisa memahami mekanisme kerja jantung dan sistem pembuluh darah di dalam
tubuh.
Kendala komunikasi kedua: ketidaktahuan
tentang konsep (fiqrah) dan metode (thariqah)
Kendala kedua adalah ketika kalangan terdidik belum menyadari
sepenuhnya bahwa upaya menegakkan sistem khilafah dilakukan dengan suatu metode
yang menjamin terwujudnya cita-cita. Gerakan Islam untuk memperjuangkan ini
adalah gerakan dakwah ideologis yang mengemban konsep(fikrah) sekaligus memiliki kelengkapan metode (thariqah) untuk mewujudkan konsep tersebut. Ketidaktahuan akan adanya
metode ini akan berbuah sikap pesimis, antipati dan kadang frustasi. Kejelasan
metode menjadi sangat penting apalagi untuk sebuah cita-cita atau perubahan
besar. Sebuah cita-cita yang tinggi (future condition) biasanya jauh berbeda
dengan realitas saat ini (current
condition). Jauhnya cita-cita dan realitas menggoda siapa saja untuk bersikap pesimis. Apalagi kalo ia terlalu
terpaku pada realitas sekarang (current conditions centric). Coba
bayangkan, apa yang akan dikatakan dan dirasakan oleh seorang pengemis bila
anda mengatakan kepadanya bahwa suatu saat ia menjadi seorang konglomerat? Beginilah kira-kira yang dirasakan oleh kalangan
terdidik tentang janji khilafah tegak dan janji tentang kecanggihan sistem
Islam dalam menyelesaikan problem komplikasi umat. Persoalannya hanya terletak
pada tuntutan akan kejelasan metode mewujudkan konsep (cita-cita) tersebut.
Yang bisa meyakinkan mereka bahwa cita-cita besar bisa
diraih adalah adanya kejelasan metode, sekaligus strategi, yang menjamin realisasinya.
Sebelum itu ada maka cita-cita hanya akan terkesan sebagai angan dan impian
yang manis untuk dibayangkan. Misalkan tentang keniscayaan kembalinya khilafah.
Bagi sebagian mereka cita-cita tegaknya khilafah adalah out of mind, karena adanya Khilafah berarti perubahan fenomenal dan
besar di level global. Sebuah perubahan eskalatif pada kondisi sosial, politik,
hukum, budaya, hubungan antar negara dan sendi-sendi kehidupan lainnya. Ini adalah cita-cita
tinggi yang berbeda dengan realitas sekarang. Walhasil, bila duta Islam lupa
atau tidak bisa meyakinkan mereka tentang keberadaan metode yang canggih (sophisicated method), maka jangan
berharap mereka akan menerima, mengapresiasi dan mendukung perjuangan ini.
Kalaulah kemudian ada kalangan
terdidik yang setuju dan menerima bahwa khilafah suatu saat akan kembali karena
alasan syara’, mereka akan tetap kesulitan membayangkan bagaimana cara kemunculannya.
Bila mereka gagal memahami bagaimana metode merwujudkannya, jangan berharap
mereka bisa menerima secara legowo
tentang proyek masa depan ini. Para duta Islam harus bisa meyakinkan mereka
bahwa dakwah dilengkapi dengan metode yang jelas, syar’i dan rasional untuk
mewujudkan cita-citanya. Bila tidak maka mereka akan berkesimpulan bahwa
khilafah membutuhkan waktu yang sangat lama (unlimited time). Implikasinya, mereka akan berpandangan lebih baik
melakukan hal-hal yang ‘realistis’ dan sekarang ’dibutuhkan’ oleh umat. Dengan
tidak mengurangi apresiasi terhadap ikhtiar perjuangan yang mereka pilih dan
InsyaAllah mendapat pahala dari Allah swt, kita dengan sangat terpaksa
mengatakan bahwa mereka akan mudah terjebak pada jenis perjuangan yang tidak relevan,
bersifat reaktif, temporer dan berubah-ubah orientasinya sesuai dengan
berubahnya realitas. Dalam bahasa
manajemenya, kaburnya visi dan
atau strategi menyebabkan execution yang tidak relevan.
Perlu digarisbawahi di sini, seorang duta Islam tidak cukup
hanya mengatakan bahwa khilafah merupakan kewajiban umat Islam. Tidak cukup hanya dengan
menjelaskan kehebatan dan ketangkasan sistem Islam dalam menyelesaikan problem
manusia.. Juga tidak cukup hanya dengan ’mendongeng’ tentang kenangan manis
daulah Islam dalam mengatur dunia. Singkatnya, tidak cukup sekedar memaparkan
konsep dengan argumen syarí, historis dan tuntutan kekinian. Namun perlu
dicatat di sini, mereka harus diyakinkan dengan keberadaan sebuah metode untuk
meraih konsep-konsep tersebut. Untuk apa impian indah, kalo tidak tau cara
mendapatkannya ?
Para duta Islam harus bisa
menjelaskan tentang metode dakwah ini dengan sejelas-jelasnya, dimulai dengan
argumentasi syara’, penjelasan yang logis dan rasional, serta visualisasi yang
jelas dan jernih. Ini dilakukan agar mereka bisa melihat cara dan jalan keluar (wayout) dari realitas sekarang menuju
cita-cita yang diharapkan. Sekali lagi, pastikan mereka memahami bahwa gerakan Islam tidak sekedar berbicara tentang
konsep yang melangit, namun juga dilengkapi dengan metode canggih yang menjamin
tercapainya perwujudan konsep tersebut. Bila
Khilafah adalah sebuah konsep hebat -yang juga merupakan kewajiban syar’i,
terbukti secara historis, dijamin berhasil oleh nash, dan sekarang masih
menjadi cita-cita- maka dakwah adalah proses rekayasa sosial ideologis yang
canggih untuk merealisasikannya. Dua
hal ini harus tersampaikan kepada mereka dengan jelas tanpa samar: konsep yang
jelas dan metode yang relevan dengan kondisi riil kehidupan .
Kendala komunikasi ketiga: campur aduk
pembahasan konsep (fiqrah) dan metode
(thariqah)
Kegagalan komunikasi juga bisa
disebabkan ketika pembahasan antara konsep dan metodenya tidak dipisahkan. Pencampuradukan
ini disamping membuat mereka sulit menangkap bahwa gerakan dakwah memiliki
metode yang jelas, juga membuat mereka berat untuk memahami dan keluar dari
realitas kekinian. Manusia pada dasarnya lebih mudah menangkap realitas yang
dihadapi daripada memahami masa depan yang terlampau jauh dari realitas. Untuk
itulah, ketika berdiskusi tentang khilafah dan sistemnya, berarti bicara
tentang masa depan yang akan diwujudkan. Jangan lupa khilafah memiliki alasan
syar’i, landasan historis dan tuntutan kekinian. Tentu ini saja sudah
membutuhkan perhatian, konsentrasi dan diskusi yang panjang lebar sampai pada
pemahaman yang memuaskan.
Setelah mereka memahami wujudnya
Khilafah adalah keniscayaan, dilihat dari tinjauan syar’i, landasan historis
dan tuntutan kekinian, baru kemudian mereka sangat perlu mengetahui metode
mewujudkannya. Untuk mewujudkannya berarti bicara tentang konsep perubahan
sosial ideologis berdasarkan Islam, yaitu dakwah yang sesuai dengan syara’. Konsep
social engineering ideologis inipun
memerlukan pembahasan yang cukup berat, dilihat dari aspek syara’, historis dan
juga rasional.
Pencampuradukan pembahasan akan
membuat frustasi. Tujuan agar kalangan terdidik tergerak untuk mendukung dan
masuk dalam barisan dakwah tidak akan berhasil dengan pembahasan yang
campuraduk dan tidak jelas. Harus dipisah antara pembahasan konsep dan metode.
Dipisah ini bukan dalam pengertian waktu, hari, jam dsb. Namun, pemisahan ini
dalam rangka memberi kerangka berpikir ideologis bahwa konsep dan metode adalah
dua hal berbeda yang perlu dipahami. Jadi para pengemban dakwah harus jeli dan
bisa memastikan bahwa diskusi yang dilakukan jelas pembahasannya, apakah
tentang konsep ataukah tentang metode. Apakah tentang khilafah dengan
sistem-sistemnya ataukah tentang dakwah sebagai metode untuk mewujudkannya.
Diskusi harus berada pada track yang sama.
Sebagai catatan terakhir untuk kendala kedua dan
ketiga ini. para duta Islam dituntut untuk memahami dan berempati dengan kondisi
kalangan terdidik yang masih sulit menerima seruan karena faktor ketidakjelasan
konsep dan metode. Toh, kenyataan para duta Islam bisa begitu optimis dan yakin
dengan perjuangan pengembalian khilafah dan syariat, disamping karena pembinaan
iman, juga karena telah mengkaji beberapa kitab yang terkait dengan metode
dakwah seperti Takattul li Hizb, Dukhul
Mujtama’dan lain-lain. Jadi wajar pemahaman dan pengetahuan yang banyak tentang
dakwah, sebagai proses rekayasa sosial ideologis, akan memudahkan kita memahami
keniscayaan berdirinya khilafah. Hal ini tidak terjadi pada sebagian besar para
kalangan terdidik. Sehingga dibutuhkan kesabaran, pantang menyerah dan selalu
mencari strategi efektif untuk menjelaskan metode perjuangan menegakkan
khilafah. Penting untuk meluangkan waktu mendoakan mereka agar mudah diberi
kepahaman oleh Allah swt.
Kendala
komunikasi keempat: terpengaruh pola pikir barat
Kendala keempat yang biasa terjadi
adalah bila kaum terdidik sudah terpengaruh atau memakai pola pikir barat dalam
menyelesaikan problem kehidupan. Harus diakui, barat saat ini telah berhasil mendominasi
tidak hanya secara politik, ekonomi, militer, hukum, budaya namun juga bidang pemikiran.
Serangan pemikiran (al-ghazwu’l fikri)
atau perang pemikiran (al-harbul fikri)
ini dilakukan barat kepada Islam sejak sebelum runtuhnya Khilafah Turki Utsmani
sampai sekarang. Tujuannya adalah agar ideologi kapitalis dipeluk oleh kaum
muslimin. Bila ini terjadi maka umat akan menerima tsaqofah Barat sebagai kebenaran dan dijadikan solusi atas segala problem
kehidupan. Barat akan dijadikan rujukan dan meminjam istilah Amin Rais, umat
akan mengalami westomania, penyakit
kejiwaan yang menganggap Barat segala-galanya.
Harus dicatat pula Barat sangat
serius dengan agenda brain washing ini
di negeri-negeri Islam, terutama untuk kalangan terdidik. Barat tidak ragu
mengeluarkan dana milyaran dolar melalui berbagai corporate dan fondation yang dimilikinya dan beroperasi di negeri-negeri
Islam. Mereka membiayai proyek-proyek penelitian; beasiswa untuk sekolah di
luar negeri pada bidang-bidang sosial-politik-ekonomi-budaya-humaniora-agama
dan pemikiran; membiayai perubahan kurikulum di perguruan tinggi, pesantren
bahkan sekolah dasar; membiayai berbagai produk rancangan undang-undang; mendanai
banyak sekali LSM-LSM komprador; masuk dalam bisnis media; dan banyak lagi
lainnya. Walhasil, dengan agresifnya proses westoxication
(peracunan barat) membuat proses adopsi terhadap pemikiran dan pola pikir barat
sudah menjadi gejala umum, terutama pada kalangan terdidik. Perlu
digarisbawahi di sini, dengan kerangka pikir (frame of reference) yang sudah terbangun dari ideologi kapitalis barat
ini menjadikan mereka sulit untuk ’think outside the box’.
Konsep-konsep Islam akan mudah
tertolak karena bertentangan dengan sistem kepercayaan (mafahim, miqyas, dan qanaah)
yang telah mereka miliki berdasar ideologi kapitalis. Ini adalah perkara alamiah
yang harus disadari. Para duta Islam harus memiliki kesadaran penuh dan tidak reaktif
dalam menjelaskan dan merespon sikap mereka. Duta Islam juga harus bisa
memahami physiological mechanism pada
setiap tahap komunikasi yang terjadi ketika berdialog. Tahapan komunikasi yang
umum seperti berikut ini harus dicermati:
1.
pesan tentang khilafah atau sistem Islam diterima;
2.
pesan disaring dan diberi makna berdasarkan nilai,
kepercayaan, dan latar belakang yang mereka miliki, ini adalah tahapan untuk
membangun mafhum.
3.
pesan akan dievaluasi berdasarkan konsep yang
mereka yakini (miqyas);
4.
emosi akan ditambahkan karena mereka telah
memiliki qanaah tertentu;
5.
reaksi akan diberikan atas pesan yang disampaikan.
Harus diingat bahwa mafhum, miqyas dan qanaah yang mereka miliki dibangun dari cara
berpikir Barat. Wajar bila kemudian setiap gagasan Islam akan mudah tertolak. Namun,
yang penting anda bisa menangkap secara utuh tahapan berpikir dan kondisi
psikologisnya tatkala berkomunikasi. Ini penting agar anda bisa mencari momen yang
tepat untuk masuk dengan argumen yang cerdas, kuat dan memuaskan, sehingga
Insya Allah anda bisa memahamkan, mempengaruhi serta merubah cara berpikirnya.
Usahakan dialog dilakukan secara intensif,
dan desain sebuah pola komunikasi egaliter yang masing-masing bisa menyampaikan
gagasannya. Pola dialog ini membuat kedua belah pihak bisa menjelaskan konsep
dan metode masing-masing secara jelas. Sehingga, dengan persiapan yang sangat
matang, para duta Islam dapat menunjukkan secara jelas tentang cita-cita
(konsep) dan cara mewujudkannya (metode) untuk realitas sekarang ini (konteks).
Dengan pola seperti ini, kalangan terdidik akan mendapat kesempatan untuk
melihat, mendengar dan merasakan the
beauty of Islam dan cara mewujudkannya. Disamping itu, nanti akan terlihat
bahwa penyelesaian selain dengan Islam tidak akan bisa merubah secara
signifikan problem yang dihadapi. Pola dialog seperti ini dapat diilustrasikan seperti
dua orang yang sedang menunjukkan pohon yang ditanam secara berdampingan. Yang
satu dibangun dari akar aqidah Islam, batang-daun adalah syariat, buah adalah
manfaat dunia-akhirat yang diraih. Sementara pohon satunya akarnya adalah
aqidah campuran atau bahkan sekulerisme, batang-daun adalah sistem
sekuler, dan buahnya adalah mafsadat dan sumber problem kehidupan.
Pola saling melihat ini penting
agar mereka bisa mendengar dan melihat secara
utuh idealisme yang ingin ditransfer dan dipahami. Perlu disadari dialog seperti
ini bisa jadi tidak selesai dalam waktu singkat. Namun, harus disadari bahwa
kesempatan untuk melihat idealnya sistem Islam adalah fase penting bagi mereka agar
dapat menangkap hidayah secara utuh, tanpa terhalang oleh perkara teknis dan
emosional yang tidak perlu. Untuk itu pola dialog seperti ini dibutuhkan
kematangan konsep, kepercayaan diri, wawasan luas, kecerdasan komunikasi dan
persiapan yang serius.
Catatan
Terakhir
Dua aspek penting untuk mulusnya
persuasi dalam dialog adalah kesan yang harus ditangkap oleh kalangan
intelektual. Kesan di sini bukan dalam pengertian dibuat-buat, namun harus
secara jujur terekspresi dalam dialog. Kesan pertama adalah dakwah ini
merupakan buah atau konsekwensi iman dan kesan kedua adalah para duta Islam
merupakan orang yang cerdas, berwawasan, intelek dan terbuka.
Dakwah sebagai buah dari iman dapat dilakukan pertama
dengan adanya kesadaran para duta Islam
bahwa tugas ini semata-mata karena Allah swt, bukan karena semangat
golongan, bukan pula untuk menjajal pengetahuan atau kepuasan intelektual.
Kedua, tidak ragu untuk menyitir nash Qurán atau hadits yang relevan dan dengan
kadar yang proporsional dalam berargumentasi.
Adapun kesan kedua dapat
dimunculkan pertama dengan selalu mengikuti perkembangan baik di level lokal,
nasional dan juga internasional.Para duta Islam memahami dengan baik
fakta-fakta yang berkembang. Kemudian duta Islam harus banyak belajar seputar
ide atau konsep-konsep yang ada, dari Barat atau Timur, terutama sekali konsep
yang dipahami oleh para kalangan terdidik. Ini penting agar para duta Islam
bisa melakukan dua hal. Yang pertama mampu mendekatkan wawasan yang dimiliki
pakar dengan ide-ide Islam. Mendekatkan di sini agar terlihat secara rasional
bahwa Islam itu hakekatnya ’hidup’ dan mampu menyelesaikan kondisi riil. Yang
kedua para duta Islam akan terampil melakukan intifa’ terhadap tsaqofah
Barat. Intifa’ di sini adalah proses
pemanfaatan apa yang boleh dimanfaatkan sebagai media pengargumentasian dalam
rangka mempertahankan Islam.
Mengingat dakwah pada kalangan
terdidik merupakan aktifitas strategis untuk mendapat dukungan terhadap dakwah,
maka persiapan serius adalah kuncinya. Hasil memang bukan kekuasaan kita, namun
yang bisa dilakukan adalah melaksanakan perintah Allah swt dengan serius dan
amanah. Insya Allah dengan ikhtiar sungguh-sungguh dan dilandasi keikhlasan
untuk menunaikan amanah dari Allah swt, keberhasilan meraih dukungan para
intelektual akan beroleh hasil. Semoga Allah swt memudahkan urusan ini. Wallahu álam.
Tubuh
mungil itupun terjerembab jatuh setelah didorong bapaknya yang sedang
kesetanan. Tidak puas melihat anaknya menahan tangis, tongkat sapu pun
dilayangkan hingga mengenai pantat anak kecil yang baru 6 tahun itu. Tiga pukulan
yang keras akhirnya membuat tangis anak itu menggelegar. Tubuhnya terguncang menahan
sakit dan tangisnya terdengar pilu. Setelah puas melihat anaknya menangis, sang
bapakpun berkata dengan kasar:
”Kenapa
Ilman mencuri uang bapak? Untuk apa uang 50 ribu itu? Bukankah selama ini Ilman
diberi sehari 5 ribu untuk jajan di sekolah? Sementara anak lain tidak ada yang
diberikan sebanyak itu. Setiap tahun Ilman diberikan baju, tas, sepatu dan
semua kebutuhan. Bapak bekerja siang dan malam untukmu Man!!!!”
Anak
ini hanya bisa menangis tersedu. Dia tidak mampu menjawab pertanyaan dan
kemarahan bapak yang dicintainya. Dia hanya bisa merintih menahan sakit di
bagian kepala yang baru saja terbentur. Suasanapun berangsur mereda dan menjadi
sunyi. Namun, tiba-tiba saja dari ruang tengah berdering telepon. Sang bapak
yang sudah terlihat capek ini perlahan mendekati gagang telepon. Dikejauhan
terdengar suara perempuan. Ternyata, ia adalah ibu guru anak ini. Setelah
basa-basi sebentar bu gurupun bercerita,
”Bagaimana
si Ilman pak? Maaf saya menelpon bapak karena ada hal penting yang perlu bapak
ketahui. Akhir-akhir ini si Ilman terlihat murung. Kira-kira sudah satu minggu
ini. Tadi pagi dia datang menemui saya. Dia mengemukakan kebingungannya. Ia
mengaku telah mencuri uang bapak. Dan saya lihat uang yang dicuri 50 ribu
rupiah. Dia bertanya apakah itu berdosa. Saya mengatakan bahwa itu dilarang agama.
Kemudian dia mengeluarkan uang sebanyak 30 ribu rupiah dari tasnya. Sayapun
kaget dan bertanya apakah itu hasil dari mencuri. Dia menggelengkan kepala dan
mengatakan tidak. Uang itu dikumpulkan dari uang jajan yang bapak berikan
setiap hari. Jadi, selama ini dia tidak jajan selama seminggu.
Yang
membuat saya iba dan sedih ketika Ilman bertanya apakah uang yang ia kumpulkan ini
cukup untuk pergi ke Surga? Saya tanya kenapa? Katanya ia ingin bertemu ibunya
yang sekarang di surga. Ia kangen sama ibu Pak. Ia ingin seperti teman-temanya
yang masih bisa berkumpul dengan kedua orang tuanya. Ia kangen sekali sama ibu
Pak. Kata Ilman ibunya telah menghilang setelah ketemu terakhir di rumah sakit.
Maaf.....”.
Telpon
itupun terputus. Tidak kuat menahan tangis sang bapak berlari menuju Tubuh
mungil itu. Tubuh kecil itupun diangkat dengan penuh kasih. Namun takdir
berbicara lain, anak itu telah menyusul ibunya di surga....
Profesional
muda yang dirahmati Allah,
Anak
adalah titipan. Ia adalah buah dari cinta kasih bersama pasangan kita. Allah SWT
telah menganugerahkan anak itu untuk dibesarkan, dipelihara, dirawat, diajarkan
kasih sayang, dididik
agar taat kepada orang tua dan agamanya.
Anak
jugalah yang bisa mengangkat derajat orang tuanya di surga. Rasulullah saw
bersabda:
“Sesungguhnya
Allah SWT akan mengankat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Kelak ia
akan berkata, ’’Wahai Rabbku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku?’ . Dijawab,’karena permohonan ampunan
anakmu untukmu”
Profesional
muda,
Sudahkah
kita memperlakukan anak kita dengan baik? Sudahkah kita mengetahui
harapan-harapannya? Impiannya? Keinginannya? Dan…yang terbaik untuknya?
Ingatlah, anak yang shaleh adalah satu-satunya orang yang masih bisa berkirim
kebaikan pada kita, disaat semua pintu amal telah terputus. Saat kematian
bersama kita, ketika di alam barzah, menunggu hari Perhitungan.
wassalamuálaikum
wr.wb.
(hikmah di Trijaya FM)
Assalamuálaikum wr.wb. Profesional muda yang dirahmati Allah,
Apakah anda bertanya tentang kesenangan ? Kesenangan adalah emosi positif yang bisa diamati secara fisik pada kegiatan otak, yaitu arus neurotrasmitter atau mekanisme hormonal. Karena itu, anda bisa menikmati kesenangan dengan merangsang salah satu bagian otak yang sering disebut ”pusat kesenangan” atau pleasure center. Tanamkanlah sebuah elektroda pada hypothalamus, rangsanglah secara elektrik dan dopamin, zat kimia yang dikeluarkan neuron untuk menimbulkan rasa senang atau rasa enak, akan terbesit dengan deras. Walhasil, kita dapat merasa senang dengan melakukan stimulasi otak.
Profesional muda,
Tidak semua yang senang pasti membawa kebahagiaan. Apa yang membedakan kesenangan dengan kebahagiaan ? Kesenangan adalah pengalaman sekilas yang berkaitan dengan ganjaran tertentu. Anda bekerja keras, kemudian mendapat bonus dari perusahaan maka anda pun merasa senang.
Sementara kebahagiaan adalah keadaan yang berlangsung lebih lama, yang berhubungan dengan penilaian pada kehidupan secara keseluruhan. Kesengan tidak membawa kepada kebahagiaan bila tidak sejalan, atau bertentangan, dengan tujuan hidup. Seorang muslim yang taat, tidak akan merasa bahagia bila kendaraan yang dipakai setiap hari adalah kendaraan hasil korupsi.
Bagi seorang muslim, kebahagiaan itu terletak pada ridah Allah SWT. Kita akan bahagia kalo menjadikan Islam sebagai cara hidup. Kita akan bahagia kalo cara hidup kita berpusat pada perintah Allah SWT dan jauh dari larangan-Nya. Kita akan bahagia apabila kita hidup di atas cara hidup yang membawa kita pada surga, terlepas di dunia kita tinggal di rumah mewah atau di dalam gubuk derita.
Masih ingatkah cerita keluarga Yasir ra dan kebahagiaan Sumayyah ra ?
Diceritakan Summayah ra disiksa dengan siksaan dan pelecehan yang sangat menyakitkan oleh kafir Quraisy. Dia diseret ke tengah terik matahari, disiksa dan terakhir ditombak kemaluannya sehingga berujung pada kematian.
Ketika Rasulullah SAW menyaksikan mereka dalam keadaan yang sangat menderita, beliau bersabda :
“Bersabarlah wahai keluarga Yasir! Karena sesungguhnya yang dijanjikan kepada kalian adalah surga.”
Mendengar kata-kata Rasulullah saw ini, Sumayyah yang berbahagia mengatakan “Saya dapat melihatnya, ya Rasulullah”.
Kebahagiaan terletak pada cara hidup dan tujuan hidup yang benar. Bila kita memilih cara hidup yang benar, yaitu Islam, dan tujuan hidup yang benar, yaitu surga, maka tidak ada pilihan bagi kita selain kebahagiaan di dunia dan kemenangan akherat.
Wassalamuálaikum wr.wb.
Assalamuálaikum wr.wb.
Rasulullah
saw telah merintis strategi sebelum perang dengan membentuk dan mengirimkan
pasukan khusus yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi intelegen. Ibnu
Ishak menceritakan, “Sore itu beliau saw mengirimkan Ali, az-Zubair r.a, dan
Saád bin Abi Waqqash ra, bersama sejumlah pengikutnya ke sumber air Badar untuk
mencari informasi. Adalah Yazid ibn Ruman yang meriwayatkan kisah ini dari
Urwah ibn az-Zubair. ‘Mereka bertemu dengan dua orang pengambil air bagi pasukan
Quraisy, yaitu Aslam bersama dengan Arid Abu Yasar. Mereka membawa kedua anak
tersebut ke tempat pasukan Muslim dan menanyai keduanya, sementara Rasulullah
saw tengah mengerjakan shalat. Kedua anak tersebut mengaku bahwa mereka
bertugas mengambil air untuk kepentingan pasukan Quraisy. Setelah selesai
shalat, Rasulullah saw bertanya kepada kedua anak tersebut :
‘Cobalah kamu terangkan keadaan kaum
Quraisyi!” Mereka menjawab, ‘Mereka
berada di balik bukit di seberang lembah ini’. Nabi kemudian kembali bertanya,’Berapakah jumlah kaum Quraisy yang datang?’
Mereka menjawab, ‘Banyak’. Rasulullah
saw bertanya, ’Berapa banyak jumlahnya?’.
Mereka menjawab. ’Kami tidak tahu’. Kemudian
Nabi bertanya, ’Berapa ekor unta yang
mereka sembelih setiap harinya?’. ’Kadang
mereka menyembelih sembilan ekor setiap hari, dan kadang sepuluh ekor.
Rasulullah saw menyimpulkan’Kalau begitu jumlah mereka antara 900 sampai 1000
orang’.
Sebuah
pasukan berkekuatan 200.000 personel bersenjata lengkap yang tak lain merupakan
pasukan kekaisaran Romawi berperang dengan pasukan muslim. Abdullah bin Rawahah
telah terbunuh pada sore itu. Khalid bin Walid ra menghabiskan malam itu tanpa
melakukan serangan kepada musuh. Esok paginya, Khalid bin Walid mengatur ulang
formasi pasukan, dengan menempatkan pasukan berkuda di belakang dan mengganti
pasukan sayap di seleah kiri dan kanan. Pasukan Romawi yang tidak mengenal
panji-panji, tanda-tanda, dan formasi pasukan Muslim, mengira bahwa akan datang
pasukan bantuan. Maka merekapun merasa takut dan mundur dengan rasa panik,
sehingga mereka mengalami kekalhanan karena belum pernah aa musuh yang mampu
membuat mereka mundur dari medan perang. Itu adalah peristiwa yang terjadi pada
perang Mu’tah.
Profesional
muda yang dirahmati Allah,
Dua peristiwa
perang ini begitu memukau dalam sejarahnya. Bila kita perhatikan berbagai
peristiwa yang terjadi di masa Rasulu dan Sahabat, maka kita dapat memetik
banyak ibrah dan pelajaran tentang
kecepatan berpikir, leadership, planning, organizing, strategy, tactic dan berbagai analisis yang
penting untuk kehidupan kita. Bila dunia bisnis dan organisasi mengadopsii seni
berperang Sun Tzu, mengapa kita tidak
menggalinya dari cerita Rasull dan sahabat?
Seorag pakar
militer yang terkenal sekaligus Panglima Divisi III Pasukan Jerman, Jenderal
Aaron Rommel, suatu kali pernah ditanya tentang rahasia keberhasilan taktiknya
dalam peperangan, Ia menjawab secara lugas bahwa ia meniru taktik yang dipakai
olehpanglima perang pasukan Muslaim terkenal Khalid bin Walid r.a.
Wasalamuálaikum wr.wb
(hikmah ramadhan 2006 di Trijaya FM, Yogyakarta)
Assalamuálaikum wr.wb.
Profesional muda yang berbahagia,
Seorang
profesional menulis sebuah puisi. Puisi ini mungkin tidaklah indah.
Juga tidak memiliki nilai seni yang teramat tinggi. Namun, ia berisi
jeritan hati yang sangat relevan dengan kehidupan modern saat ini,
sebuah kehidupan yang penuh dengan stress dan depresi karena masalah
ekonomi dan keagungan materi. Kehidupan yang melupakan kehidupan
akherat. Puisi ini diberi judul : Kehidupan Profesional Gagah. Mari
kita dengar bait demi bait puisi itu.
Syair untuk Profesional Gagah
Seorang profesional gagah memakai sutra yang licin Berhias dengan emas dan permata Rumah berkilau dengan kedudukan sebagai raja Setiap hari dikerumuni nikmat dunia Banyak manusia iri akan kemilau status dan posisinya
Apa yang akan anda katakan tentang profesional gagah ini ? Saat pulang ke rumah dia hidup menderita Saat pulang kerumah dia jambak rambutnya sendiri Saat pulang kerumah dia minum air mendidih Saat pulang kerumah dia sayat lidahnya sendiri Saat pulang kerumah dia bakar tubuhnya sendiri
Apa yang engkau katakan tentang profesional gagah ini ? Sebelum pulang ke rumah dia sadar bahwa dia akan menderita Sebelun pulang ke rumah dia tau bahwa dia akan menyakiti diri sendiri Sebelum pulang ke rumah dia paham tidak ada yang dapat menolong Sebelum pulang ke rumah dia mengerti bahwa ia tak kuasa melawan takdir alam
Profesional muda yang gagah, Mengapa kenyataan harus dilawan dengan kesombongan ? Mengapa tubuh yang ringkih ini harus dikorbankan ? Mengapa akal yang sehat harus dihianati? Mengapa mencintai yang sedikit dengan mengorbankan yang banyak ?
Masih adakah yang iri dengan profesional gagah ini ?
Profesional muda,
Benarlah
puisi ini. Saat ini kita banyak menyaksikan manusia, tidak hanya para
profesional, yang tahu akan pulang ke rumah atau akherat. Dan tau pula
bahwa ia akan disiksa lebih dari puisi tadi karena keinginan diri
sendiri. Bukankah kita tau apa akhir kehidupan nanti? Bukankah kita tau
bahwa semua itu akibat dari perbuatan kita di dunia? Namun, mengapa
manusia masih menghambakan pada materi dan melupakan kampung halaman
(akherat)?
Allah saw berfirman Q.S Faathir[35] : 5 :
“Hai
manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali
janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah
syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah”
Wassalamuálaikum wr.wb.
(hikmah trijaya FM)
Assalamuálaikum wr.wb. Profesional muda,
Syair-syair
kehidupan telah dikumandangkan oleh banyak pujangga. Setiap baitnya membawa
makna dan kadang hanya sekedar kata. Keindahan dan nada sumbang tak jarang
sering bersahutan melantun dengan banyak irama. Tetapi, tidak susah untuk
membedakannya.
Syair
seorang durjana Hitler telah banyak ditiru dan digugu. Kebohongan
yang terus menerus akan menjadi kebenaran. Itulah bait yang sekarang ini terasa
nyaring dinyanyikan oleh durjana-durjana abad modern.
Atas nama demokrasi, hak asasi
manusia, keadilan dan setumpuk istilah merdu dikumandangkan secara nyaring
bersamaan dengan desing senapan, peluru, tank serta bom-bom cluster pemusnah
massa. Satu kata demokrasi membunuh seribu nyawa. Satu kata hak asasi manusia
membunuh sepuluh ribu manusia. Satu kata keadilan semesta membunuh seratus ribu
jiwa.
Wahai sang durjana, mengapakah
hati yang membeku dibiarkan semakin membatu?
Wahai si pengobral kata,
mengapa komando yang terdengar merdu harus diiringi musik kematian ?
Wahai sang raja, tidakkah di
atas langit masih ada langit ? Setelah kehidupan akan datang kematian dan
setelah kematian akan datang lagi kehidupan.
Kini tiba saatnya untuk
membedakan mana bait indah dan mana bait sumbang. Sudah tiba saatnya untuk
menghentikan irama-irama kematian. Sudah saatnya melantunkan syair-syair yang
bebas dari penipuan. Demokrasi, HAM, Keadilan, Pluralisme, dan istilah-istilah
merdu yang dikumandangkan sang durjana teramat perlu untuk diwaspadai.
Syair yang sekaligus peluru sudah saatnya ditinggalkan.
Tugas para pejuang untuk
mengganti dengan syair baru. Tugas para pejuang untuk mendendangkan irama
kehidupan. Ganti dan ganti setiap kata dengan kata. Setiap bom, mesin dan
senapan dengan semangat tegakan Islam. Setiap ambisi berkuasa dengan daulah
khilafah.
Laa 'Izzata illa bil Islam
Walaa Islama illa bisy Syariah
Walaa Syariata illa bid Daulah
Daulah Khilafah Rasyidah
Tiada
kemuliaan tanpa Islam
Tak sempurna Islam tanpa Syariah
Takkan tegak Islam tanpa Daulah
Daulah Khilafah Rasyidah
Professional
muda,
Let’s Inspire Ummah to Find Their True Words and Ways. Bring back
Islam to eliminate the illness of life. Islam is the most melodious sound. Islam is the solution...
Wassalamu’alaikum
wr.wb.
(hikmah ramadhan di Trijaya FM)
Assalamuálaikum wr.wb. Profesional muda,
Bayangkan bila anda menjadi manusia global yang super sukses. Malam hari anda makan lesehan di Malioboro, Yogyakarta. Keesokan harinya anda sudah terlihat berjalan di Orchard Street, Singapura. Sorenya anda mengikuti meeting di negara Gadjah Putih, Thailand. Besoknya anda sudah landing di bandara John F Kennedy, New York. Selanjutnya check in di Grand Hyatt, New York. Tidak lupa anda berbelanja dasi Giani Varsace di Trump Plaza seharga $ 95. Besok paginya anda menikmati indahnya kampus Harvard Business School, di pinggir sungai Charles, untuk memberikan speech tentang bisnis kepada mahasiswa dan pebisnis. Tidak lupa sebelum out dari Negara Paman Sam anda sempatkan mengunjungi High Tech Area di Silicon Valey. Kemudian anda menandatangani Momerandum of Understanding dengan pejabat dan pebisnis Cina di Shanghai. Siang anda mampir sebentar di Hongkong, sekedar shoping untuk beli oleh-oleh. Berikutnya anda pulang sejenak ke Jakarta sebelum berangkat ke Mealbourne, Australia. Dan keesokannya anda menyaksikan pertunjukan opera di Paris.
Bila ini sudah terjadi dan akan terjadi dalam kehidupan anda, apa yang anda rasakan ? Apakah anda merasa kesempurnaan peran dalam panggung kehidupan ini ? Mungkin anda akan mengatakan belum sempurna. Kemudian, katakanlah anda tidak lupa sholat, puasa, zakat, dan setiap dua tahun naik haji plus umroh. Sudah sempurnakah peran anda dalam hidup ini ?
Bagi anda yang sudah atau akan menjalani cerita sukses ini, ada baiknya mengingat sebuah hadits Rasulullah saw :
“Barang siapa yang bangun pada pagi harinya, dan ia hanya memikirkan dunianya. Maka orang tersebut tidak berarti apa-apa di sisi Allah. Dan barang siapa (pada pagi hari tadi) tidak memikirkan urusan (problem) kaum musimin, maka ia bukanlah golongan mereka (muslim)”.(HR...)
Profesional muda yang dirahmati Allah, apalah artinya kesuksesan karir atau bisnis. Apalah artinya kehidupan spritual yang dijalankan, bila kita dicap oleh Allah SWT dan rasulnya bukan sebagai bagian dari kaum muslimin.
Oleh karena itu, seorang muslim dituntut tidak sekedar sukses dalam kehidupan profesional dan bisnis, juga tidak sekedar sukses dalam hubungannya dengan Allah SWT, tapi seorang muslim dituntut untuk menyempurnakan perannya sebagai pemerhati dan penyelesai persoalan umat.
Profesional muda jadilah seorang profesional muslim, yang tidak hanya berpikir tentang karir tapi juga tentang umat. Jadilah duta Islam, ambasador of Islam.
Insya Allah, kelak kita akan bertemu dengan Allah SWT dalam keadaan bahagia dan berseri karena telah menjalani hidup untuk mengurusi urusan kaum muslimin dan manusia secara keseluruhan.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Kecerdasaan Spritual vs Kecerdasan Ideologis
Oleh :
Nopriadi
Inspirator pada UQ-Leadership Center dan Staff Pengajar di Universitas Gadjah Mada
Dalam bidang pengembangan managemen, SDM, organisasi, bisnis, psikologi dan kajian self-help kita mengenal istilah SQ atau kecerdasan spritual. Istilah ini muncul melengkapi dua jenis kecerdasan sebelumnya, yaitu kecerdasan rasional (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ). Bila IQ berbicara tentang ‘apa yang saya pikir’dan EQ mengupas ‘apa yang saya rasakan’, maka SQ membahas ‘siapa saya’.
Istilah SQ menjadi populer melalui buku SQ: Spritual Quotient,The Ultimate Intelligence (London,2000) karya Danah Zohar dan Ian Marshall (ZM), masing-masing dari Harvard University dan Oxford University. SQ diklaim memiliki dasar dan bukti ilmiah. Pakar neurosains pada tahun 1990-an menemukan adanya “Titik Tuhan” atau God Spot di dalam otak. Titik Tuhan ini adalah sekumpulan jaringan saraf yang terletak di daerah lobus temporal otak, bagian yang terletak di balik pelipis. Dari eksperimen yang menggunakan sensor magnetis ditemukan adanya korelasi antara aktivitas berpikir tentang hal sakral seperti kedamaian, cinta, kesatuan, Tuhan dengan aktivitas magnet pada lobus temporal otak. Penemuan ini tidak sekedar berkontribusi pada bidang saraf dan otak, namun menjadi kajian dan perbincangan menarik untuk bidang sosial, psikologi, managemen, bisnis, agama dan juga ideologi.
Dalam tulisan ini akan dibahas 3 hal, yaitu SQ tidak bebas nilai (aspek ontologi); penerapan SQ untuk kasus korporasi(aksiologi); dan mengembangkan kecerdasan alternative untuk perubahan peradaban, kecerdasan ideologis berbasis Islam.
SQ Tidak Bebas Nilai Universalitas fenomena God Spot sebagai akibat aktifitas biologis dan psikologis bisa diterima, karena didasarkan pada eksperimen ilmiah. Namun tidak berarti rumusan dan pemanfaatan SQ menjadi bebas nilai. ZM menyatakan SQ adalah konsep universal yang tidak ada hubungannya dengan agama atau sistem keyakinan terorganisasi lainnya. Kecerdasan spritual adalah kecerdasan yang dipakai untuk merengkuh makna, nilai, tujuan terdalam dan motivasi tertingi manusia. Sehingga, dengan kecerdasan ini manusia dapat memutuskan untuk melakukan segala macam kebaikan, kebenaran, keindahan dan kasih sayang dalam hidup. Benarkah ?
Untuk itu mari dicermati rilis buku lain ZM, Spritual Capital: We Can Live by Using Our Rational, Emotional and Spritual Intelligence to Transform Ourselves and Corporate Culture (London,2004). Dalam buku ini ZM mengakui keyakinan dan keberpihakannya pada kapitalisme, walau disadari kapitalisme telah menjebak manusia dan dunia korporasi pada perburuan keuntungan kompetitif yang kejam. Namun, modal spritual (SC) adalah ikhtiar untuk menyuntikkan ‘ruh kebaikan’ pada ideologi kapitalis, yang memiliki prinsip the pursuit of profit for its own sake (pencarian keuntungan demi keuntungan itu sendiri).
Keberpihakan ‘guru’ spritual ZM pada kapitalisme menunjukkan posisinya sebagai penganut ideologi ini. Ideologi ini menjadi cara pandang ZM terhadap kehidupan dunia, yang selanjutnya menentukan cara mempersepsi dan cara mensikapi persoalan hidup. Implikasinya, rumusan ZM tentang spritualitas juga berdiri di atas cara pandang ini.
Sekarang kita lihat bagaimana definisi spritualitas dalam persfektif Islam. Sprituality dalam bahasa Arab disejajarkan dengan istilah rúhaniyah. Muhammad Husain Abdullah dalam Mafahim Islamiyah mendefinisikan rúhaniyah sebagai idrak shillah billahi (kesadaran hubungannya dengan Allah SWT). Hidup dengan spritualitas yang tinggi berarti sebuah kehidupan yang berada dalam kondisi iman yang baik (jawwu iman). Perasaan ini mendorong seorang muslim mengikatkan diri dengan segala perintah dan segala larangan Allah SWT dengan penuh ridho serta ketenangan (thumaninah). Singkatnya, muslim dengan tingkat spritualitas tinggi memiliki cara hidup Islam yang totalitas. Segala sesuatu diukur dari kesesuaian dengan aqidah dan syariat Islam.
Jadi, ada perbedaan jelas antara Islam dan ZM. Dalam Islam, spritualitas terkait dengan perintah dan larangan Allah SWT. Sementara dalam konsep ZM spritualitas terkait dengan makna dan nilai manusia terdalam yang diklaim bersifat universal. Ini berarti rumusan kecerdasan spritual tidak akan bebas nilai.
Titik Konflik dengan Islam: studi kasus Freeport Bagaimana bila spritualitas menurut ZM dan Islam diaplikasikan pada kehidupan nyata? Misalkan saja dunia korporasi dengan contoh kasus PT Freeport. Perusahaan ini selama periode 10 tahun telah memproduksi 5,5 juta ton tembaga, 828 ton perak dan 533 ton emas di Papua. Jadi telah meraup keuntungan triliunan dolar dengan sedikit disisihkan untuk negara Indonesia. Sementara, perusahaan ini menyisakan problem ekologi dan sosial yang parah. Menurut lembaga audit Dames & Moore ada sekitar 3,2 miliar ton imbah yang dihasilkan selama beroperasi. Di Timika juga berkembang bisnis esek-esek sehingga tercatat sebagai kota dengan penderita HIV/AIDS terbanyak di Indonesia. Singkat kata, dengan profile eksistensi seperti ini Freeport membutuhkan suntikan spritualitas.
Bila ingin disuntikan spritualitas maka perusahaan ini harus dibimbing oleh visi dan nilai (vision and value led). Visi utamanya harus terlihat nyata dan mengilhami seluruh policy dan tindakan. Ia harus mengadopsi nilai-nilai seperti menyelamatkan kehidupan; meningkatkan kualitas kehidupan; memperbaiki taraf kesehatan, pendidikan, komunikasi; memenuhi kebutuhan dasar manusia;melestarikan ekologi global, dan memulihkan kesadaran akan keunggulan; kebanggaan dalam melayani dan seterusnya (Spritual Capital, London, 2004). Ini berarti Freeport harus ’banyak berkorban’ untuk memenuhi value ini. Pertanyaan yang menggelitik, mungkinkah Freeport dengan ikhlas merubah tabiat dan mau mengurangi kenikmatan demi nilai luhur spritualitas?
Titik konflik dengan Islam sebenarnya bukan pada nilai-nilai yang terdengar universal tadi. No problem with those statements of value. Namun, masalahnya terletak pada eksistensi dan posisi korporasi dalam pengelolaan SDA yang terkategori sebagai kepemilikan umum (collective property). Apakah syariat membolehkan sebuah korporasi menguasai SDA yang seharusnya milik rakyat? Apakah korporasi boleh terlibat dalam pengelolaan SDA? Bagaimana bentuk keterlibatan yang masih diperbolehkan oleh syariat?
Bila masalah ini ditelusuri berdasar perspektif Islam, maka kontrak karya harus dibatalkan. Paradigma pengelolaan SDA milik umum berbasis swasta (corporate based management), seperti kasus Freeport, haram secara syariah. Terlebih banyak kecurangan dan berdampak pada kerusakan kelestarian lingkungan dan sosial. Perusahan yang baik masih bisa dilibatkan dalam pengelolaan negara (state based management) yang hasilnya diperuntukan sepenuhnya untuk rakyat. Keterlibatan ini sebatas sebagai tenaga jasa atau pekerja yang digaji dengan besaran tertentu, bukan sebagai pengelola. Lebih detil tentang pengelolaan SDA berdasar syariah bisa merujuk kitab Nidzhom Iqtisody karangan Syaikh Taqiyudin An-Nabhani.
Mengembangkan Kecerdasan Ideologis berbasis Islam Sebenarnya ada impian besar dibalik gagasan modal spritual (SC). ZM menyuntikan spritualitas sebagai ’ruh kebaikan’ pada kapitalisme untuk Menciptakan Perubahan Dunia. Artinya ZM ingin menjaga eksistensi ideologi kapitalis dengan cara menerima, memodifikasi dan menyebarkannya. Menurut hemat penulis, bagi seorang muslim impian untuk Menciptakan Perubahan Dunia adalah dengan Mengembalikan Kehidupan Islam, bukan dengan memodifikasi kapitalisme. Instrumennya bukan dengan menyebarkan SQ model ZM, tapi mengembangkan kecerdasan ideologis (ideological intelligence) berbasis Islam ke tengah-tengah umat.
Dengan kecerdasan ideologis berbasis Islam umat akan memiliki kecerdasan menyerap segala problem kehidupan dan menemukan akar permasalahnya. Akar masalah itu terletak pada absennya ideologi Islam dan diterapkannya kapitalisme di dunia. Maka dari itu, menciptakan perubahan di dunia dimulai dengan mengganti kapitalisme, bukan memodifikasinya, dan mengembalikan kehidupan Islam.
Kecerdasan ideologis berbasis Islam juga mendorong semangat menawarkan ideologi Islam sebagai alternatif satu-satunya. Konsep yang lahir dari ideologi Islam seperti sistem ekonomi dan keuangan, sistem politik dan pemerintahan, sistem pidana dan perundangan dan lain sebagainya akan dipasarkan secara cerdas ke berbagai kalangan. Kecanggihan konsep Islam musti diartikulasikan bersamaan dengan kegagalan kapitalisme. Ini dilakukan untuk menambah keyakinan umat akan keunggulan konsep yang mereka miliki. Bila dilakukan dengan cerdas maka isu penegakan ideologi Islam, sebagai kewajiban Ilahi sekaligus pilihan rasional, akan menjadi opini dan kesadaran publik.
Untuk meraih ini semua, maka kecerdasan ideologis berbasis Islam harus dibumikan secara massif. Proses sosial engineering yang canggih harus dimainkan. Model dakwah Rasul dan para sahabat yang mengambil jalan intelektual, percaya diri, terorganisir, tanpa kekerasan, dan menggandeng banyak kalangan merupakan pilihan terbaik dan harus ditiru serta dijalankan. Insya Allah bila ini dilakukan dengan amanah dan kesungguhan, kecerdasan ideologis berbasis Islam akan menular ke tubuh umat, sehingga pergantian ideologi kapitalis dan kembalinya kehidupan Islam akan menjadi kenyataan. Semoga Allah SWT memberi pertolongan atas cita-cita ini. Wallahu álam.
The Power of Moslem
(hikmah Ramadhan 2007 di Trijaya FM)
Assalamuálaikum wr.wb. Profesional muda,
Masih ingat cerita perang Mu’tah ?
Ini adalah cerita perang kolosal dan fenomenal yang menggambarkan bagaimana kekuatan yang dibangun di atas landasan spritualitas mampu mengalahkan pasukan yang hanya mengandalkan kekuatan fisik.
Ini adalah cerita perang antara pasukan muslim yang berjumlah 3.000 orang dengan pauskan koalisi Romawi dan pasukan gabungan kabilah-kabilah Arab yang berjumlah total 200.000 orang? Bisa dibayangkan bagaimana 3 ribu pasukan melawan 200 ribu tentara ? Bayangkan ini adalah perang klasik yang bersenjatakan pedang, tombak panah dan juga tangan kosong. Tidak ada senapan, bom cluster, pesawat, helikopter dan senjata modern lainnya.
Dengan jumlah yang tidak imbang ini wajar muncul nada dan gejala kegelisahan pada sebagian kaum muslimin. Melihat gelagat ini Abdullah bin Rawahah membakar optimisme dengan menyatakan:
”Wahai kaum!Demi Allah, sungguh yang kalian benci untuk kalian keluar adalah meminta mati syahid! Kita tidak memerangi manusia karena jumlah, kekuatan atau banyaknya mereka. Kita tidak memerangi mereka, kecuali karena agama yang Allah memuliakan kita dengannya. Maka majulah, karena di sana ada satu dari dua kebaikan: menang atau mati syahid”.
Kemudian terjadilah pertempuran hebat. Strategipun diatur sedemikian rupa.
Khalid bin Walid, sebagai pimpinan pasukan muslim, membuat taktik seolah-olah pasukan bantuan datang dari Madinah. Apa yang terjadi selanjutnya? Pasukan koalisi musuhpun mundur. Inilah yang dikatakan orang Romawi:
’Jika apa yang telah dilakukan oleh tiga ribu orang pasukan kaum muslimin terhadap kita telah kita lihat, lalu bagaimana jika bantuan pasukan mereka tiba, yang tidak diketahui jumlah dan kekuatannya”.
Profesional muda yang dirahmati Allah,
Ada potensi yang luar biasa dimiliki oleh seorang muslim, bila aktifitasnya dibangun dari landasan spritualitas. Sudah terlalu banyak cerita miracle tentang the power of moslem. Yang kadang terasa mustahil. Tapi itulah sebuah kenyataan.
Kenyataan bahwa landasan spritualitas atau idrak sillah billah atau kesadaran akan hubungannya dengan Allah, menyimpan energi kehidupan yang luar biasa.
Dengan spritualitas, Muhammad saw mampu membangun peradaban alternatif, yaitu Islam. Tariq bin Jiyad mampu menembus Eropah dari Afrika. Muhammad Al-Fatih mampu menaklukkan Konstantinopel.
Pertanyaan untuk kita, spritualitas yang kita miliki akan kita arahkan untuk apa ?
Wassalamuálaikum wr.wb.
(hikmah ramadhan 2006 di Trijaya FM Yogyakarta)
Assalamuálaikum wr.wb.
Profesional muda yang berbahagia,
Keindahan pagi sering terlewati. Kumandang azan shubuh menyudahi impian malam. Kokok ayam bersahutan memanggil para pejuang. Terkadang, kicauan burung bernyanyi syahdu membuka hari baru. Udara segar pagi menyiapkan berjuta energi untuk kehidupan. Embun di ujung daun, membasahi jendela kaca dan atap rumah kita menunjukkan keindahan hidup. Perlahan namun pasti embunpun memudar menyongsong datangnya sang fajar.
Sungguh, betapa nikmat fragmen kehidupan ini. Hidup akan terus mengalir sampai pada batas yang pasti. Semua keindahan hidup terletak pada genggaman tangan kita. Cerita indahnya kehidupan juga tergantung bagaimana kita menuliskan skenarionya.
Seorang muslim teramat pantas untuk berbahagia. Bagi seorang muslim hidup ini adalah kemenangan. Tidak ada sepenggal kata ’menderita’ atau kata ’pecundang’ dalam kamus kehidupan yang ia buat. Yang ada hanyalah keindahan demi keindahan, kemenangan demi kemenangan, kebahagiaan demi kebahagiaan, walau bagaimanapun keadaan mereka.
Tahukah kita rahasia apa yang membuat hidup seorang muslim begitu mempesona ? Walau setting hidupnya di alam kemiskinan, gubuk derita, kurangnya sandang dan pangan. Keindahan itu terletak pada pusat hidupnya. Keindahan itu juga ada pada landasannya. Keindahan itu juga ada pada ujung dan impiannya.
Allah SWT berfirman, ”...Ingatlah, hanya dengan menginat Allah hati akan menjadi tenteram” (Ar-Ra’du : 28) Rasulullah saw bersabda, ”Sangat mengagumkan urusan (hidup) seorang mukmin itu. Sesungguhnya setiap urusannya menjadi kebaikan baginya. Dan tidaklah yang demikian ini dialami oleh seorangpun kecuali hanya oleh orang yang beriman. Jika dia menerima nikmat, dia bersyukur, maka syukur itu itu menjadi kebaikan baginya. Jika dia menerima keburukan, dia bersabar, maka sabar itu menjadi kebaikan baginya.” (HR Muslim)
Profesional muda, berbahagialah menjadi seorang muslim. Bila itu belum anda rasakan, pegang teguh Islam. Jadikan ia prinsip hidup dan bangun cita-cita dan impian hidup di atas azasnya, yaitu Aqidah Islam.
Wassalamu’laikum wr.wb
Oleh : Nopriadi(Urang Banjar, Staf Pengajar di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Croissant simbol pelecehan dan keberuntungan EropaLe croissant adalah sejenis roti kecil berbentuk bulan sabit. Di Perancis, negara yang memiliki populasi muslim terbesar di Eropa, orang biasa menyantapnya bersama secangkir kopi di pagi hari. Makanan asli Austria ini dibawa oleh putri kerajaan Austria, Marie Antoniette, ke Perancis ketika menikah dengan Louis XVI. Roti ini memiliki jejak historis yang terkait dengan kegagalan futúh (pembebasan wilayah) ke Wina. Tahun 1683 pasukan muslim mengepung kota Wina, tepat di jantung wilayah kerajaan Austro-Hungaria. Benteng pertahanan kota sangat kuat sehingga pasukan Muslim membuat strategi heroik dengan membuat terowongan bawah tanah untuk menembus benteng dan memberi serangan kejutan. Seandainya aksi pengegepungan kota Wina berhasil, menurut semua ahli sejarah, wajah Eropa akan menjadi lain. Satu-persatu akan masuk ke pangkuan Islam dan totally Eropa akan bersimbolkan bulan sabit dan dipenuhi liwa‘ dan rayah’ (bendara dan panji Islam). Bila itu yang terjadi, tentu dunia tidak akan mengenal kolonialisme dan imperialisme kejam di dunia ketiga. Sayang serangan ini tidak berhasil, dikarenakan faktor sederhana, yaitu ketika seorang tukang pembuat roti merasakan lantai gudang bawah tanah, tempat ia membuat roti, bergetar dan kelereng anaknya bergerak-gerak. Kemudian kejadian itu dilaporkan kepada pasukan Austria. Oleh pasukan ia diminta membuat roti spesial bagi keberuntungan mereka, yang kemudian dinamakan le croissant. Demikianlah, croissant bukan sekedar ungkapan lega Eropa lepas dari ancaman kekalahan, tapi merupakan simbol pelecehan. Benedictus dan kepercayaan diri BaratLain Croissant, lain pula pelecehan yang diberikan The West pasca kemunduran dunia Islam. Setelah Barat merasa kuat dan berhasil melemahkan dunia (Islam), maka mereka tidak sungkan-sungkan untuk secara terbuka melakukan penghinaan terhadap kaum muslimin. Kita bisa melihat rentetan penghinaan ini mulai tahun 1989, ketika terbit buku yang menggemparkan dunia, The Satanic Verses, tulisan Salman Rusdi. Buku ini menggambarkan al-Qurán sebagai ayat-ayat setan. Penulis yang divonis mati oleh Imam Khomeini ini sampai sekarang dilindungi oleh Inggris. Berikutnya Juli 1997, seorang wanita Yahudi yang bernama Talyana Suskin membuat dan menyebarkan 20 poster yang berisi penghinaan terhadap Islam dan Muhammad saw. Diantara karyanya adalah poster seekor babi yang mengenakan kafiyeh ala Palestine, dan di kafiyeh tersebut tertulis Muhammad. Tahun 2004, seorang sutradara film asal Belanda yang bernama Theo van Gogh membuat film ‘dokumenter yang menghina Islam dan Muhammad saw. Tahun 2005 dan 2006 adalah tahun dimana Eropa mengukuhkan keberanian dan kepercayaan dirinya menghina secara terbuka umat Islam dengan menyebarkan kartun dan tulisan yang berisi penghinaan terhadap Rasulullah saw di berbagai media. Koran Jyllands-Posten misalnya, pada September 2005 mempublikasikan kartun yang menggambarkan Muhammad saw dengan wajah bengis, membawa pedang dan menenteng ‘bom’. Kartuni ini kemudian dirilis oleh media-media Barat. Selain itu Le Figaro memuat opini Robert Redeker, seorang filosof Prancis dan guru sekolah menengah atas, dengan kalimat penghinaan: " Prajurit tak kenal ampun, penjarah, pembunuh Yahudi dan poligamis -- begitulah Muhammad menggambarkan dirinya di dalam Al-Quran... Kebencian dan kekerasan hidup di dalam buku yang dipelajari setiap muslim, Al-Quran". Penghinaan Barat terhadap dunia Islam, seolah diamini secara religius, ketika dengan artikulasi lantang Paus Benedictus XVI menghina Islam dan Muhammad saw pada 12 September 2006 di sivitas akademika Universitas of Regensburg, Jerman. Sang Paus mengutip pernyataan Kaisar Byzantium Manuel II Paleologos dengan ungkapan : ‘’Tunjukkan padaku apa yang baru dari Muhammad, dan yang kau temukan hanyalah hal yang berbau iblis (evil) dan tak manusiawi, seperti perintahnya untuk menyebarkan agama dengan pedang‘’. Bila croissant adalah pelecehan yang muncul sebagai ungkapan rasa beruntung bisa menggagalkan futúh dunia Islam (super power dunia saat itu), maka pelecehan bertubi paca runtuhnya Khilafah Islamiyah tahun 1924 adalah pelecehan-pelecehan untuk menunjukkan dominasi kekuatan Barat terhadap dunia Islam. Awas ! Penghinaan terhadap diri sendiriAda jenis penghinaan lain yang lebih dahsyat ketimbang roti bulan sabit Croissant, kartun Jyllands-Posten ataupun pernyataan Paus Benedictus XVI. Penghinaan model kartun atau pernyataan Paus dapat membangkitkan amarah dan harga diri kaum muslimin. Namun, pelecehan jenis ini justru sangat destruktif menghancurkan harga diri umat. Tidak sekedar itu, penghinaan ini justru mempertahankan dominasi Barat terhadap dunia(Islam). Ini adalah jenis penghinaan paling parah yang semestinya diwaspadai oleh umat Islam, karena penghinaan jenis ini adalah penghinaan terhadap diri sendiri. Penghinaan ini berupa fenomena adopsi nilai dan pemikiran liberalism dalam masalah kehidupan dan pemikiran. Untuk itu kita perlu mengenali ideologi ini agar tidak terjebak pada pelecehan terhadap diri sendiri. Liberalisme, menurut kesepakatan para pakar, diartikan sebagai kebebasan atau liberte individu. Ia berisi tawaran konsep tentang manusia sebagai makhluk yang pada dasarnya rasional dan mampu menjalankan urusannya tanpa memerlukan pengawasan dari gereja dan raja (Ian Adams, Political Politcs Today :1993). Liberalisme, sejajar dengan komunisme dan Islam, merupakan ideologi sistematik dan koheren yang memiliki kode tersendiri tentang moralitas dan doktrin keadilan politik dan sosial. Ketiganya memiliki sifat universal, menjangkau semua manusia sebagai manusia dan bukan hanya untuk anggota dari kelompok etnis atau bangsa tertentu(Francis Fukuyama, The End of History and The Last Man :1992) Jadi, liberalisme, sering juga disebut sebagai kapitalisme dan sekulerisme, merupakan ideologi menyeluruh yang mengatur aspek ekonomi,sosial, politik, hukum, budaya bahkan pemikiran. Bila croissant dimakan dan dicerna kemudian terurai menjadi senyawa-senyawa yang dibutuhkan tubuh, sebagian menjadi vitamin untuk memperlancar metabolisme, sebagian menjadi protein untuk pertumbuhan sel dan sebagian berupa karbohidrat sebagai energi untuk melakukan aktifitas, maka liberalism akan berbeda cara kerjanya. Ia bukanlah protein atau kabohidrat yang bermanfaat untuk tubuh, namun lebih sebagai racun akal budi. Bila ia dimasukan ke dalam pikiran, dipelajari dengan ridha’, dipahami dengan antusias, diterima dengan lapang dada, maka akibatnya ia akan menjadi persepsi, menjadi standar dan diterima secara bulat serta diamalkan dalam perbuatan. Dampaknya, terlalu banyak mengkonsumsi liberalism maka tidak membuat kulit menjadi putih, melainkan pikiran dan tabiat, meminjam istilah mas Amien Rais, akan mengalami westoxiation. Perlu diwaspadai ! Pemikiran liberal saat ini sangat digandrungi oleh sebagian kalangan anak muda yang sejatinya terlahir dari rahim seorang muslimlah. Makanan yang berbentuk ideologi ini membuat mereka menjadi sangat militan, radikal, berani dan juga kurang ajar. Mereka mengalami apa yang disebut oleh Abul Hassan Bani Sadr sebagai westomania, sejenis penyakit kejiwaan yang menganggap Barat adalah segala-galanya. Pemikiran liberalisme yang sudah masuk dalam diri anak-anak muda ini menjadikan penganutnya merasa memiliki hak dan kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri, terutama dalam urusan publik. Seorang liberal cenderung untuk menafikan aturan Allah SWT dalam kehidupan manusia. Kalo dia beragama, yang membedakannya dengan atheis, maka ia akan memilih-milih aturan Al-Khaliq yang layak menurut akalnya. Sampai-sampai dalam masalah agama sebagian mereka membuat kaidah ushul fiqh palsu yang berbunyi Tanqíh nushush bi’aql al-mujtama’ (boleh mengoreksi teks dengan akal [pendapat] publik)(Lihat www.islamlib.com publikasi 24/12/2003). Artinya, bila goyang nge-bor dan pakaian tidak senonoh diterima oleh masyarakat Indonesia sebagai seni tari dan berpakaian yang wajar, maka berdasarkan logika ini teks Qurán dan Hadits tentang berpakaian harus direvisi. Sesuatu yang paling berharga bagi diri umat Islam adalah harga diri. Harga diri yang paling utama adalah ketaatan kepada Allah swt dalam segala hal. Umat Islam adalah umat yang menempatkan diri sebagai hamba, mengabdi, tunduk dan patuh terhadap Allah swt. Besarnya harga diri umat terletak pada seberapa patuh dan taatnya mereka pada aturan Allah swt. Tidak ada yang paling menyakitkan selain tercerabutnya ketaatan, keyakinan dan identitas ini pada diri umat. Namun, ternyata Barat secara sistematis menyuntikan virus kedurhakaan pada diri umat. Ini dilakukan oleh barat dengan menyebarkan ide-ide liberalisme ke dunia Islam dengan berbagai macam cara. Sehingga, harus kita ingat, mengadosi nilai dan pemikiran ini menunjukkan tercerabutnya harga diri umat karena berpaling dari Allah swt kepada mereka (Barat). Untuk itu perlu kita waspadai dan membentengi umat terhadap pelecehan terhadap diri sendiri. Wallahu’alam.
| |